Di perkampungan Kajang, kami akan berhenti sampai di rumah Amma Toa. Rencananya, kami ingin menemui Amma Toa. Namun sayang seribu sayang, Sabtu itu Amma Toa lagi rapat adat bersama beberapa tokoh masyarakat. Kami pun beranjak pulang, meninggalkan perkampungan itu. 

Aku jadi ingat, dulu, ketika studi banding ke sini, saat itu aku masih SMU kelas tiga. Kami sempat menemui "Amma Toa" yang saat itu menjabat sebagai kepala suku. Setahuku, menjadi Amma Toa diperoleh secara turun menurun. Dan entah, Amma Toa sekarang adalah Amma Toa yang ke berapa. 

Ketika itu, kami diterima oleh Amma Toa langsung di rumahnya. Kami sangat takjub dengan Amma Toa yang sangat bersahaja. Rumah beliau yang ketika kami naik ke atas rumah panggung langsung bertemu dengan dapur yang artinya mereka siap menyediakan sesuatu untuk menjamu tamu. 

Di tengah-tengah perjalanan ada dua rumah yang sangat ramai. Orang-orang di sana memanggil kami untuk singgah. Kami pun singgah. Rumah pertama yang sangat ramai itu adalah rumah si pengantin. Rupanya, ada acara pernikahan. Di samping rumah yang ramai tadi, rumah yang dipakai memasak berbagai jenis makanan. 

Mereka memasak dengan menggunakan kayu bakar. Ibu-ibu di sana menyapa kami, mereka dengan ramah menanyakan asal kami dari mana.

Sumur Jodoh Check!

Seperti rencana semula, kami juga ke Kajang karena ingin mencari sumur jodoh. Di tengah - tengah perjalanan pulang, kami singgah untuk mengambil air wudhu di sana. Kami tidak sempat mandi. Selain karena kami tidak membawa perlengkapan mandi, jam juga sudah menunjukkan jam satu siang. 

Di saat kami berwudhu, dan mengabadikan sumur itu pada media sosial Tik Tok karena kawasan ini bisa didokumentasikan. Seorang anak perempuan yang sedang membantu ibunya mencuci di Pancoran air dekat situ bernyanyi sebuah lagu yang viral di Tik Tok.

Aduh mamae, ada cewek baju hitam buat saya terpana... Dan seterusnya.

Kami tersenyum mendengar anak perempuan itu menyanyi, seolah-olah lagu itu ditujukan pada kami.

Kami pun melanjutkan perjalanan pulang yang melewati areal perkebunan. Mungkin karena cuaca lagi panas-panasnya, dua orang dari kami melihat monyet berwarna putih. Sedang aku sendiri dan adik sepupu, Ammoz, melihat kera berwarna oranye bergelantungan di pohon.

Kemudian, kami melihat segerombolan anjing kampung yang berlarian dari jalan di depan kami kemudian masuk ke hutan. Aku dan lainnya tidak sempat mengabadikannya. Selain karena takut, si iparku dan teman sangat menyuruh kami menjaga etika selama di kampung yang sangat kuat adatnya ini.

Aku jadi menyesal, tadi tidak menggunakan jasa guide. Biar ada yang menemani dan menjelaskan hal-hal yang spiritual yang ada di sini.

Kemudian kami melewati sebuah nisan. Batu penandanya sangat besar seperti lemari dengan tinggi sekitar 3x4 meter. Menurutku, mungkin kuburan orang besar.

Alhamdulillah, kami hampir sampai di pintu gerbang untuk keluar dari Kajang dalam. Dari belakang kami, seorang bapak yang membawa hasil bumi tampak berjalan dengan sangat cepat dari belakang kami. 

Padahal, ia tidak memakai alas kaki, cuacanya lagi panas, dan membawa beban berat namun ia tampak terbiasa.

Tiba di ruang office, yang juga merupakan perpustakaan, kami mengembalikan sarung yang tadi kami pinjam dari Mail. Di sana kami melihat kakek yang memakai pakaian khas Kajang tadi. Kami pun difoto oleh Mail.

Aku bingung, mau memanggil apa kakek tadi. Ketika aku memanggilnya "Daeng", Mail bilang cukup panggil Amma. Amma ternyata berarti bapak.

Bapak ini terlihat masih muda, umurnya ternyata sudah sampai seratus tahunan. Tapi, giginya masih bagus, tubuhnya terlihat kuat. Namun, pendengarannya yang sudah bermasalah.

Kata Mail, Amma Toa sekarang juga berumur sudah tua. Beliau mendekati delapan puluh lima tahun, akan tetapi masih terlihat seperti umur tiga puluh tahunan atau empat puluh tahunan. 

Ah, sayang sekali, kami belum bertemu Amma Toa karena rapat adat tadi. Rapat ini sangat penting karena membahas berbagai masalah kemasyarakatan yang ingin diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Semoga, kami bisa berkunjung lagi dan bertemu dengan Amma Toa.

Kami bertanya berbagai hal kepada Mail, sepanjang penglihatan kami di kampung Kajang dalam. Si Mail menjelaskan semua dengan asyik dan gamblangnya. Termasuk, mengapa orang Kajang terlihat sangat muda dari umur aslinya. 

Ternyata, mereka tidak memakan makanan yang tidak alami, seperti gaya makanan orang modern. Termasuk tentang monyet putih yang dilihat temanku, yang menurut Mail adalah "penjaga" di Kajang.

Kami pun berpamitan pulang, setelah beberapa menit bercerita dengan Mail dan seorang temannya. Apalagi, adikku sudah lama menunggu. Rencananya, kami akan menziarahi makam Datuk Ri Tiro, salah satu penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan yang seangkatan dengan Datuk Ri Bandang.

Makam Datuk Ri Tiro tidak jauh dari pantai Bira, Bulukumba yang sangat terkenal akan keindahan pantainya dan pasir putihnya.