Sudah hampir dua puluh satu (21) tahun yang lalu, sejak aku mengunjungi perkampungan suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi selatan. Saat pertama kali itu pada tahun 2000. 

Awalnya, aku ke sana dalam rangka studi banding jurusan IPS, kelas tiga SMU Negeri 1 Maros, Sulawesi Selatan (smunsa). Kini tahun 2021, aku melakukan perjalanan ke Kajang yang kedua kalinya. 

Bagiku, Kajang selalu istimewa. Suku mereka yang unik, kampung mereka yang masih mempertahankan sistem leluhurnya, dan daerah mereka yang masih alami, natural.

Aku berangkat menggunakan mobil dari kota Makassar menuju kabupaten Bulukumba. Aku ke sana bersama adik laki-lakiku, istrinya, dan temannya. Ditambah adik sepupu dan temannya yang mengendarai motor.

Aku yang naik mobil menginap di rumah kontrakan adik yang sudah bertugas di sana. Sedangkan, adik sepupu dan temannya menginap di rumah kenalannya.

Keesokkan harinya, kami ke Kajang setelah adik selesai bertugas. Sudah menjelang siang, tapi tak mengapa. Kami pun ke Kajang dengan melewati kebun karet di Bulukumba.

Pemandangan alam sekitar sangat indah. Kami pun sempat singgah di kompleks rumah, perusahaan  PT. Lonsum (London Sumatera) yang bergerak di bidang karet sejak 1918.

Hal tersebut terabadikan dalam bentuk kereta api yang dipajang di depan sebuah rumah tua dan tertera 1918.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kajang.  Dari suatu jalan poros kami berbelok ke kiri. Kami memasuki daerah yang rindang penuh pepohonan, kanan-kiri jalan yang terkadang terdapat rumah-rumah tradisional dan kebun-kebun.

Akhirnya, kami sampai di perkampungan Kajang luar. Kajang luar merupakan perkampungan bagi orang Kajang yang keluar dari "zona nyamannya".

Aku bilang zona nyaman, karena mereka sudah banyak tersentuh modernitas, dan merasakan fasilitas alat elektronik. Padahal, hidup di dalam Kajang dalam sangat membumi.

Pakai Hitam? Siapa Takut!

Kami melihat banyak orang yang berpakaian hitam-hitam. Oh ya, sebelumnya, aku sempat menghubungi teman yang asli orang Bulukumba. Ia menghubungkan aku dengan temannya.

Di sana, kami disambut Mail, ia "bertugas" di luar, meladeni tamu, bagian front office yg gitu Kami bertanya tentang aturan apa yang harus dipatuhi ketika kami masuk di Kajang dalam.

Kata Mail; kami tidak boleh memakai alas kaki, kami tidak boleh mengambil gambar pada daerah tertentu.

Mail juga menjelaskan tentang warna yang boleh digunakan ketika di Kajang dalam. Hitam, biru Nafi, putih juga boleh asal tidak sepenuhnya. Untungnya, kami sudah memakai pakaian yang serba hitam.

Sebelum masuk, kami juga melihat seorang kakek dengan pakaian unik Kajangnya yang hitam dan topi khasnya. Beliau terlihat tenang, dan sederhana duduk di bawah sebuah rumah tradisional.

Kami pun mengisi buku tamu di ruang perpustakaan. Kami mengabadikan diri lewat foto-foto. Kami berfoto dengan memakai sarung yang disewakan seharga 10k untuk persarungnya dan membayar uang kebersihan 10k. 

Hanya itu, tidak ada karcis pariwisata yang mungkin memang dikelola secara komersil.  Jika kami ingin menggunakan jasa guide, orang Kajang, kami bisa memberikan "pemberian" sekitar 70k.

Kami tidak menggunakan jasa guide. Kami memberanikan diri masuk sendiri. Kami sangat bersemangat dan bahagia bisa ke Kajang. 

Kami pun masuk berempat. Aku, iparku, sepupu, dan temannya sepupu. Adik laki-lakiku dan temannya tidak masuk karena katanya mereka sudah pernah ke dalam beberapa bulan yang lalu.

Buka Alas Kaki di Sini!

Jika kita masuk di sebuah ruangan, atau bangunan, biasanya di ruang tertentu tertera tulisan, "Stop Alas kaki di sini!". Tulisan ini ada, karena mungkin mereka takut ruangannya kotor atau nanti ada najis.

Masuk ke Kajang dalam, kita harus membuka alas kaki. Kami berjalan tanpa alas kaki menginjak jalanan yang penuh dengan bebatuan, tanah merah, dan becek karena semalaman hujan turun.

Kata Rahmah, sepupuku, ini asyik sekali. Rahmah, berjalan paling depan, ia siap mengabadikan gambar. Kataku, ada di sini mungkin sudah tidak boleh mengambil gambar. Hal tersebut diperkuatnya oleh temannya, Nida, dan iparku.

Padahal, kami berpapasan dengan banyak orang asli Kajang dengan pakaian khasnya, bawaan hasil bumi mereka keluar dari  Kajang dalam.

Kami juga melihat rumah-rumah tradisional Kajang. Beberapa orang terlihat di rumahnya. Namun, tidak terlihat kesibukan dan keramaian. Daerahnya agak sepi, banyak kebun-kebun. Aku tidak memperhatikan kebun apakah itu. Hanya bunyi kicauan burung yang terdengar.

Agak ke dalam, setelah melewati jembatan. Kami melihat banyak orang yang mandi di sumur dan pada sebuah aliran air dari gunung, pancoran air. 

Kami menyapa mereka, penduduk Kajang dalam. Mereka menyambut kami dengan ramah. Kami ingin mencuci muka, namun, nanti saja setelah pulang melewati sumur ini lagi.

Semakin dalam, semakin seru.

Semakin masuk ke dalam, kami mendapati pemandangan yang semakin seru. Aktifitas penduduk yang selaras dengan alam. Ada seorang bapak yang memotong kayu bakar, ibu- ibu yang memasak dengan kayu, anak-anak kecil yang bersarung hitam pulang dari mandi di pancuran tadi. 

Namun, ketika melihat banyak anjing, aku yang selalu jalan di depan, mundur ke belakang, menunggu yang lain.

Kami pun sampai di rumah Amma Toa, kepala suku Kajang. Tapi, kami tidak bisa masuk menemui beliau yang sedang rapat menyelesaikan persoalan adat dengan cara kekeluargaan.

Bersambung.