Sebentar lagi Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, akan mengakhiri masa jabatannya pada Januari 2017. Yang menarik perhatian dari akhir karirnya sebagai POTUS (President of The United States) adalah reaksi masyarakat AS yang justru tertuju pada hubungannya dengan  VPOTUS (The Vice President of The United States), Joseph Biden.

Selama delapan tahun mereka berdampingan memimpin Negara digdaya AS, selama itu pula Obama dan Biden menjalin hubungan pertemanan baik dalam perpolitikan juga dalam ranah pribadi.

Joe Biden dianggap tahu bagaimana cara menjadi sahabat baik dan defender bagi POTUS. Meskipun Biden lebih tua 19 tahun daripada Obama, dan Biden pernah mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari partai Demokrat pada tahun 1988 dan (bahkan pesaing Obama) 2008 --namun gagal dan akhirnya Obama memilih Biden untuk menjadi wakil presidennya—Biden tetap bisa bersikap seiring sejalan dengan POTUS.

Berangkat dari partai yang sama, bisa dikatakan memiliki visi dan misi yang tidak jauh berbeda. Obama sebagai Presiden berkulit hitam pertama di AS sementara Biden sebagai Wakil Presiden pertama yang beragama  Katolik, apa yang dimiliki mereka merupakan hal yang baru dalam sejarah AS.

Hari-hari terakhir mereka di Gedung Putih semakin menyorot kedekatan Obama dan Biden, bahkan meme mengenai persahabatan mereka menjadi viral di sosial media. Uncle Joe, begitu sebutan masyarakat AS kepada Biden, saat diwawancara oleh salah satu program siaran pagi di AS menceritakan bagaimana persahabatannya dengan Obama bisa terjalin karena Joke (selera humor yang sama).

 Joke ternyata punya peranan penting bagi mereka. Dengan humor dapat melahirkan komunikasi yang baik di antara keduanya yang menjadikan mereka seiring sejalan dalam menjalankan pemerintahan.

Biden tak jarang melontarkan humor-humor segar pada saat berpidato. Seperti saat ia mengatakan alasan kenapa selalu memakai kacamata hitam (merek RayBan), karena jika suatu hari nanti dia tak lagi menjadi VPOTUS barangkali RayBan akan memakainya sebagai model merk kacamata tersebut.

Saat masa kampanye Barrack Obama tahun 2008, Biden menyatakan akan tetap mendukung Obama jika kelak terpilih menjadi Presiden AS, meskipun saat itu ia sempat silap menyebutkan nama Obama dengan Barrack America.

Dan tentang cuitannya yang manis di Twitter pada saat mengucapkan selamat Ulang Tahun ke-55 beserta hadiah gelang persahabatan kepada Obama yang kemudian di-Retweet- hingga ratusan ribu kali.

(foto diambil dari : Akun Twitter Joe Bidden).

Yang terbaru, ketika Obama menyampaikan pidato ucapan selamat atas terpilihnya Trump menjadi the new POTUS, Biden yang saat itu berdiri tepat di belakang Obama kemudian membuat gerakan tangan tanda salib ke badannya (seperti sedang berdoa) yang kita tahu, ia sedang membuat joke atas Trump.

Singkatnya Joe selalu berada di samping Obama dan siap memberikan dukungan dengan gaya humorisnya. Begitu pula dengan Obama. Seperti pada saat Biden kehilangan putranya Beau Biden tahun 2015 karena sakit kanker otak, Obama selalu memberikan support  kepada Biden selama masa berduka.

Tidak heran jika mereka dicintai rakyat AS dan akan diingat selalu sebagai pasangan Presiden dan Wapres AS yang terbaik sepanjang masa.

Indonesia, tahun 2014, menjelang akhir-akhir kampanye pilpres pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sempat ber-selfie dan menjadi viral di kalangan pendukung Jkw-JK di sosial media. Selfie mereka mengingatkan saya kepada Obama dan Biden. Saat itu saya juga berharap jika mereka terpilih menjadi pemimpin Indonesia agar kiranya bisa selalu seiring sejalan dan saling mendukung, seperti Obama dan Biden. 

(Foto dari: Akun Facebook JKW Official 2014)

Mungkin saya berlebihan, atau mungkin akan dianggap terlalu berkiblat ke AS, tapi tidak mengapa kan jika yang ditiru dan diharapkan sama adalah hal yang baik?

Atau mungkin Ekspetasi saya terlalu tinggi? Dua tahun pertama masa pemerintahan Jkw-JK dinilai tidak seiring sejalan. Misal mengenai KPK. Jokowi meminta agar jangan ada Kriminalisasi di KPK, sementara JK mengatakan tidak ada namun yang terjadi pimpinan KPK diusut kasus hukum.

Kemudian tentang pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri, Jokowi tidak menyetujui sementara JK berseberangan pendapat dengan Jokowi bahwa dia menginginkan Budi Gunawan untuk dilantik.

Belum lagi masalah reshuffle kabinet yang seakan-akan Presiden dan Wapresnya ini tidak pernah saling ngobrol mengenai perombakan kabinet.

Mungkin karena beda partai, mungkin karena Jokowi belum berpengalaman dalam memimpin Negara sementara JK sudah punya pengalaman sebagai Wakil Presiden saat mendampingi SBY, mungkin karena masih belum mendapat chemistry antara satu dengan yang lain, atau mungkin kurang humor di antara keduanya? Saya tidak tahu persis.

Padahal kalau ditelaah, ada beberapa persamaan antara pasangan Obama-Biden, Jokowi-JK. Seperti Biden, selisih umur JKW-JK terpaut 19 tahun lebih tua JK. JK pun pernah mencalonkan diri sebagai Capres bersama Wiranto tahun 2009.

Sebenarnya bukan tidak boleh jika Presiden dan Wapres berbeda pendapat. Toh pada masa Bung Karno dan Bung Hatta saja mereka kerap berbeda pendapat. Bahkan berakhir dengan pengunduran diri Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pada tanggal 1 Desember 1956. Namun Hatta tetap mengatakan bagaimanapun kerasnya dia mengkritik, Sukarno adalah Presidennya.

Saat itu mungkin masih merupakan masa-masa sulit karena Indonesia baru merdeka.  Perbedaan pandangan dan pemikiran  dalam berpolitik menyebabkan ketidak harmonisan hubungan keduanya sebagai pemimpin Negara.

Dibanding dengan saat ini, Negara sudah terbentuk dan dalam udara demokrasi yang baru. Sepertinya harapan saya tidak terlalu muluk agar Presiden dan Wapres sekarang untuk saling mendukung satu sama lain, seiring sejalan. Dengan begitu pemerintahan menjadi kuat, meski banyak lawan politik yang berniat untuk menjatuhkan pemerintahan yang sedang berjalan.

Jadi, tidak ada salahnya belajar dari Uncle Joe, bagaimana menjadi sahabat baik sekaligus pembela, dan membuat hubungan harmonis dalam menjalankan pemerintahan saat ini. Minimal hingga sisa masa jabatan.

Mungkin bisa diawali dengan humor? Atau Jangan-jangan Orang Indonesia terlalu serius?

Just my two cents.