Orang bisa tahu banyak hal, tapi tidak semua hal dapat diketahui.

Icon Kariu, bocah yang duduk 6 Sekolah Dasar ini telah membuktikan kepada saya bahwa tak perlu jumawa dengan pengetahuan yang kalian miliki.

Jumat (20/09), saya dan beberapa kawan menghadiri Festival Tampo Lore yang diselenggarakan oleh Non Timber Forest Products Excange Programme (NTFP-EP Indonesia) yang bermitra dengan beberapa lembaga lokal, antara lain: Yayasan Panorama Alam Lestari (YPAL), Relawan Orang dan Alam (ROA), Solidaritas Perempuan Palu (SP-Palu), Perkumpulan Imunitas, Karsa Intitute, dan Sikap Intitute. Kegiatan ini berlangsung di desa Wanga, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Festival Tampo Lore ini menghadirkan berbagai macam produk masyarakat lokal yang berada di Lembah Lore. Produk lokal tersebut dipamerkan di stand-stand yang telah disediakan panitia, antara lain: baju kulit kayu, madu, kopi lokal, tas kulit kayu, tikar, serta tas berbahan baku buah kalide.

Selain produk masyarakat lokal, festival ini juga menghadirkan berbagai macam pertunjukan seni, misalnya tarian Masao dari Desa Lempe, paduan suara musik bambu, tarian Rego dari Desa Kulawi, dan masih banyak lagi.

Saya bertemu Icon Lariu ketika dia dan teman-temannya datang berkunjung di salah satu stand produk lokal bersama empat temannya. Awalnya kami dan beberapa kawan tak begitu menghiraukan anak-anak ini. Tapi kami mulai terpanggil ketika dia (Icon) bercerita soal foto masyarakat Lore zaman dulu yang terpajang di dalam stand itu. 

Bocah kelas 6 Sekolah Dasar ini menjelaskan satu per satu foto-foto yang ada. Kami mulai terpanggil untuk bercerita dengan Icon, yang dalam penjelasan ceritanya memiliki kesamaan-kesamaan bahkan melebihi pengetahuan kami atas foto yang ada.

Saya cukup kagum dengan pengetahuan budaya yang dijelaskan oleh Icon. Dengan gamblang dia menjelaskan satu per satu pertanyaan yang kami ajukan soal hal-hal yang berkaitan dengan budaya adat di Tampo Lore. Dia menjelaskan bak memberikan mata kuliah kepada kami. Ini pengalaman yang cukup berarti bagi saya yang sudah puluhan tahun tinggal di Kabupaten Poso.

Terlepas keautentikan cerita yang dijelaskan oleh Icon, saya akan memfokuskan tulisan ini khusus membahas soal Icon dengan pengetahuan lokalnya yang akan saya kaitkan tentang pentingnya redistribusi pengetahuan lokal kepada anak usia dini.

Tampo Lore dengan Kekayaan Budaya

Tampo Lore adalah istilah yang disematkan untuk Lembah Lore; Lore sendiri adalah istilah untuk menjelaskan suatu daratan yang jauh dari pantai yang terdiri dari beberapa sublembah, yakni lembah Napu, lembah Behoa, dan lembah Bada.

Lembah Lore sendiri sudah cukup terkenal hingga ke mancanegara. Hal ini dikarenakan terdapat banyak peninggalan sejarah megalit yang hingga sekarang telah menarik banyak minat wisatawan dan berbagai arkeolog.

Menurut data Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, telah ditemukan berbagai situs arkeolog di lembah Lore. Hingga saat ini, terdapat 2007 benda yang terdiri dari 26 jenis artefak pada 118 situs di empat lembah, termasuk Danau Lindu di Sulawesi Tengah.

Di lembah Bada sendiri yang teridentifikasi sebanyak 186 buah dan tersebar di 35 situs. Peninggalannya berupa kalamba, wadah maupun tutupnya, bakal wadah kalamba, arca megalit, batu berlubang, tutup tempayan, juga buho. 

Wadah kalamba terbanyak ditemukan 64 buah. Sementara jumlah situs di Lembah Behoa ada 32, Lempah Napu 29 situs, Lembah Palu dan Danau Lindu 22 situs. Dengan peninggalan megalit yang cukup banyak (kemungkinan bertambah), ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan para ilmuan arkeolog yang datang ke lembah Lore.

Berdasarkan data yang dikumpulkan bahwa catatan tentang Lore-Lindu pertama kali ditemukan dalam catatan Nicolaus Adriani dan Albertus Christian Kruyt pada 1898 dalam buku Van Poso naar Parigi en Lindoe. Lalu, 1908, mereka menulis artikel Nadere gegevens betreffende de oudheden aangetroffen in het landschaap Besoa.

Beberapa spekulasi menyimpulkan bahwa patung megalit yang ada di Lore sudah berusia 5.000 tahun dan merupakan salah satu situs megalit tertua di dunia. Peninggalan-peninggalan ini hampir sama dengan temuan megalit di negara Laos, patung megalit di Amerika Latin; Suku Maya dan Suku Inka.

Memang masih banyak hal yang belum terungkap secara pasti dari sejarah yang ada di lembah Lore. Tapi dari beberapa penelitian yang ada, kita bisa memberikan gambaran-gambaran awal bahwa peradaban sejarah di lembah Lore begitu kaya dan unik. Kekayaan inilah yang menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang di lembah Lore hingga saat sekarang.

Namun membicarakan soal megalit saja tidak cukup, karena ada banyak cerita budaya yang bisa kita dapatkan di lembah Lore. Dari masing-masing tempat yang ada, terdapat banyak cerita yang menarik untuk dieksplore. 

Apalagi dari beberapa cerita yang ada itu, bisa dijelaskan dengan bukti-bukti, misalnya kisah soal kerbau yang sangat besar (Tolelembunga), kemudian cerita soal perang tampo Lore, cerita soal Masao, cerita soal danau Wanga, dan sebagainya.

Mewariskan Pengetahuan Lokal 

Kita sadar pengaruh globalisasi dan modernisasi saat ini telah menembus batas-batas yang tak terkirakan oleh manusia sejak dulu; bahkan menembus kesadaran yang paling bawah sekalipun. 

Globalisasi telah memberikan dampak baik bagi peradaban, namun tidak membebaskan globalisasi dari berbagai dampak buruknya, termasuk melahirkan degradasi kebudayaan bagi komunitas lokal dibeberapa tempat.

Tapi hal ini berbeda di lembah Lore. Icon Lariu, bocah yang mungkin masih berusia sekitar 11 tahun itu, telah memberikan satu pengetahuan baru pada saya bahwa dengan terus melestarikan warisan lokal yang ada, dia tidak akan mudah dilupakan. 

Saya sadar, argumentasi ini mungkin belum bisa dipertangungjawabkan, tapi argumentasi ini lahir dari fakta-fakta yang saya temukan di lapangan. Dari beberapa orang yang saya temui di tempat festival ini, baik itu tua maupun muda, juga masih memiliki pengetahuan tentang kearifan lokal yang telah turun-temurun diceritakan kepada mereka.

Icon Lariu adalah contoh konkret yang bisa dijadikan landasan argumentasi ini. Dia (Icon) sering diceritakan soal sejarah-sejarah yang ada di daerahnya oleh kakeknya. Ini adalah modal yang sangat baik untuk pengetahuan lokal yang memang harus dipertahankan hingga sekarang.

Namun menceritakannya secara informal saja tidak cukup. Apalagi kita sadar, pengaruh globalisasi terus mempenetrasi hingga ke hal yang paling fundamental dalam masyarakat lokal. Sehingga perlu ada satu terobosan konkret yang tidak saja dilakukan oleh masyarakatnya, melainkan peran serta negara dalam menjamin keberadaan masyarakat lokal di Tampo Lore.

Mewariskan pengetahuan lokal kepada anak sejak usia dini adalah hal yang sangat baik. Apalagi pendidikan kebudayaan lokal tersebut bisa dilembagakan dalam bentuk yang lebih formal. Misalnya dengan memasukkan program ekstrakurikuler kebudayaan lokal di sekolah-sekolah. Terlebih ada banyak lokasi yang bisa dijadikan tempat pembelajaran langsung di Tampo Lore.

Selain mewariskan tradisi dan pengetahuan lokal, hal ini juga bisa menjadi jawaban untuk membetengi masyarakat dari sisi buruk globalisasi yang terus mendegradasi kebudayaan lokal. Icon Lariu adalah cerminan baik bagi kita. Menyia-nyiakan ini, sama saja kita tengah mengantarkan kebudayaan Tampo Lore ke jurang degradasi kebudayaan.