Sebagai kawula muda, saya cukup prihatin dengan kondisi negara akhir-akhir ini. Terakhir, ada permasalahan agama, yakni pernyataan ‘Salib Jin Kafir’ oleh UAS. 

Melalui tulisan ini, saya meminta kepada pembaca sekalian untuk membuka diri, membuka pikiran bahwa kita diciptakan sama adanya oleh Yang Ilahi.

Perkataan semacam ini tentu menuai reaksi kepada kaum kristiani. Mereka yang merasa tersakiti berbondong-bondong menanggapi melalui media YouTube.

Banyak pula di antara kaum muslim yang membela beliau yang mengatakan hal tersebut bukan penistaan agama. Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia mengeklaim bahwa pernyataan UAS bukanlah penistaan agama.

Lalu, saya tarik ke belakang, apa yang terjadi oleh Bapak BTP kala itu? Paling tidak mirip. Mereka yang merasa dirugikan berbondong-bondong melakukan aksi massa di Jakarta yang kini disebut aksi 212 dan aksi apa pun itu. Lihatlah, apakah masyarakat Indonesia bisa disebut masyarakat yang toleran?

Saya memiliki cerita buruk mengenai hal ini ketika saudara-saudara seiman di bom di Surabaya. Hal ini yang menyebabkan saya merasa tersakiti oleh kaum muslim. Kejadian intoleran cukup berbahaya jika manusia di bumi pertiwi ini tidak melawannya. Saya sampai-sampai memiliki pikiran yang amat sangat buruk kepada kaum muslim.

Cerita buruk itu seketika berubah. Hari ini, saya berdiskusi tentang pribadi inklusif. 

Secara garis besar, inklusif berarti ‘open to every one’ kata Gus Aan Anshori. Saya melihat pribadi beliau yang sangat cerdas. Betapa tidak, ia sangat paham betul mengenai inklusivitas. Ia menunjukkan bagaimana dirinya membuka diri kepada siapa pun tanpa memandang siapa pun itu.

Pertama saya merasa mustahil apakah bisa seorang anak kiai yang mengemban pendidikan di pesantren bisa seterbuka ini? Namun, pembicaraan beliau membuat saya pelan-pelan menggugurkan pandangan saya terhadap kaum muslim.

Kaum muslim yang dikenal sebagai kaum pembenci umat kristiani malahan dengan hadirnya beliau memperlihatkan bagaimana menjadi islam yang baik, yang terbuka kepada sesama karena kita ini merupakan ciptaan Allah SWT juga. 

Saya juga menjadi teringat akan satu peristiwa di mana saya pernah memiliki pacar yang beragama muslim. Ia tidak memperlihatkan bahwa muslim merupakan musuh kaum nasrani tetapi sahabat semua kalangan dan itulah yang diperlihatkan Gus Aan kepada kami.

Lalu, apa faedahnya belajar mengenai inklusivitas? Saya teringat pula akan moto di universitas saya ‘Non Scholae Sed Vitae Dicimus’ Sekolah bukan untuk nilai tetapi untuk hidup. Artinya sekolah pertama-tama untuk mengejar suatu IPK yang baik tetapi untuk kehidupan kelak menjadi seorang pribadi yang berguna bagi masyarakat.

Untuk menjadi seperti itu perlu dilakukan sebuah diskusi (dalam bahasa jawa Cangkruk’an) sebagai bentuk tukar-menukar ide atau gagasan sehingga pengetahuan makin bertambah. Jika diperlukan berdiskusi atau menukar ide dengan orang-orang yang dianggap sebagai musuh, orang yang membenci kaum kita, dan sebagainya.

Outputnya adalah seperti Gus Aan. Ia sangat tahu betul tentang kekristenan. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk berbicara tentang Yesus, Maria, dan kekristenan itu sendiri. Ia tidak malu, ia tidak takut, dan ia tidak mempermasalahkan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Kristen, Cina, Jawa, dan sebagainya.

Pertanyaan reflektif bagi saya adalah ‘Siapa diriku? Who Am I? Apakah diriku siap membuka diri kepada siapa pun itu? Apakah diriku siap untuk membuka mindset-ku tentang mereka yang dianggap kafir, tidak seiman, atau musuh? 

Itulah yang harus saya renungkan. Bagaimanapun juga saya lahir dan besar di negara yang orang-orangnya berbeda. Saya lahir dan besar dengan orang-orang yang tidak seiman. Saya lahir dan besar bersama orang yang dianggap sebagai musuh.

Saya lahir di tanah Indonesia. Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman. Tidak hanya suku, ras, agama yang berbeda tetapi juga makanannya pun beragam. Mulai dari rendang soto, rawon, dan lain-lain. Semua hidup berdampingan dengan perbedaan. Jika masyarakat Indonesia tidak mau membuka dirinya maka jangan menjadi warga Indonesia.

Dengan tahu saya lahir dalam perbedaan saya menjadi mau terbuka diri kepada siapa pun termasuk kepada musuh-musuh saya. 

Ada satu hal yang menarik di Surabaya. Surabaya dikenal sebagai kota pahlawan. Mengapa? Karena rakyatnya bersatu padu, sama rasa, dan sama rata membangun kemerdekaan RI. Oleh sebab itulah para arek Suroboyo mau melawan penjajah di era kemerdekaan.

Di era modern ini pun, masyarakat tidak asing lagi dengan bonek. Bonek merupakan suporter (pendukung) sepak bola Persebaya Surabaya. Bonek dikenal masyarakat sebagai kelompok yang membuat kegaduhan, membuat onar, dan membuat rusuh. 

Tetapi omongan tersebut tidak tepat. Bonek menjadi salah satu cerminan arek Suroboyo. Melalui boneklah orang mengenal siapa masyarakat Surabaya. 

Masyarakat Surabaya memiliki sebuah rasa yang sama, modal yang sama, dan kesetaraan yang sama. Dalam bahasa akademik kesetaraan yang sama disebut dengan Egaliter.

Akhirnya, apa yang saya mau untuk pembaca?Jika Anda orang yang lahir, besar, dan tinggal di Indonesia bawalah rasa egaliter. Rasa itulah yang bisa membuat kita makin inklusif terhadap perbedaan. 

Buka dan terima perbedaan di antara masyarakat Indonesia. Buka mata, telinga, dan hati terhadap mereka yang di tindas. Buka mata, telinga, dan hati kepada orang-orang Papua. Percayalah, jika kita sebagai manusia Indonesia membawa Egaliter semuanya akan indah. Merdeka!