Pengusaha
2 tahun lalu · 434 view · 5 menit baca · Politik vespagembel001.jpg
http://2.bp.blogspot.com

Belajar Dari Dunia Vespa

Inside OTT Patrialis Akbar

Di Indonesia, Vespa telah mengalami transformasi sejarah yang cukup panjang. Namun, ciri khas persahabatan dan solidaritas tidak pernah hilang dan selalu melekat pada motor berbentuk tawon ini. Kita sebagai bangsa Indonesia yang beragam harus belajar dari kehidupan vespa.

Selain sebagai alat transportasi sehari-hari, vespa kini menjadi ciri khas dari pemiliknya. Bisa dikatakan, orang yang mempunyai vespa tua langka maka bisa dipastikan ia berasal dari keluarga yang kaya. Berbeda dengan beberapa dekade yang lalu, yang menganggap vespa adalah barang murahan.

Stop produksi menjadi faktor utama dari kelangkaan vespa. Sehingga, vespa kini menjelma  menjadi barang antic yang harganya semakin melambung. Disamping itu, tidak adanya harga yang menjadi patokan membuat  harga vespa tidak terkontrol. Karena, penentuan harga hanya berdasarkan suka atau tidak suka saja.

Salutnya, di dunia para pemilik vespa sendiri tidak mengenal adanya stratifikasi sosial. Bahkan, mereka mengkalim memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai pemilik vespa, entah itu apa modelnya yang terpenting dia adalah sesorang yang memiliki vespa.

Hak Dan Kewajiban

Meski tidak ada hukum tertulis yang mengaturnya, namun pemilik vespa sudah tahu akan hak dan kewajibannya sebagai sesama pemilik vespa.  Entah doktrin dari mana, akantetapi hak dan kewajiban ini sudah terpatri ketika pertama kali memiliknya.

Hak dari pada sebagai pemilik vespa adalah diperlakukan sama. Tidak memandang tua muda, laki-laki perempuan, kaya miskin, mahal murah, ganteng gembel, alim kriminal, pemabuk air putihan, dan sebagainya.

Dalam kesempatan apapun jika kalian melihat mereka bergerombol, maka benar-benar tidak ada sekat diantara mereka.  Saling menghormati, menghargai, berbagi, dan sikap layaknya keluarga sedarah meski pada hakikatnya adalah keluarga vespa saja.

Sehingga, jika para pemilik vespa bertemu di jalan mereka akan membunyikan klakson khasnya sebagai tanda salam meskipun diantara mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Atau, jika klakson tidak berfungsi secara baik, anggukan kepala menjadi tanda hormat dan sapa mereka.

Selain mempunyai hak, pemilik vespa juga mempunyai kewajiban. Anehnya, kewajiban ini layaknya hukum undang-undang dasar suatu negara diantara mereka yang begitu mereka junjung tinggi. Berbeda dengan hukum negara, yang jika melanggarnya akan dikenakan hukuman penjara, pelanggaran terhadap kewajiban pemilik vespa akan dikenai sanksi pengucilan komunitas.

Faktanya, sanksi ini jauh lebih berat yang harus diterima pemilik vespa daripada hukuman pidana berupa penjara yang diberikan oleh negara.  Jelas, ini menjadi cambuk bagi siapa saja pemilik vespa yang tak mematuhinya.

Diantara kewajiban pemilik vespa ialah menolong mereka yang sedang kesusahan dan kesulitan. Sesekali, pembaca tentu pernah melihat mereka Scooteris (orang yang bervespa) dengan vespanya yang mogok. Lalu, dating seorang scooteris lain yang mendekat dan menolongnya.

Tanpa memperdulikan kepentingan dan urusannnya sendiri, scooteris lainnya rela membagi waktunya untuk sesame scooteris yang sedang dalam kesulitan dan kesusahan. Bahkan, scooteris lainnya rela memberikan materi, seperti kunci busi, tali kopling, busi, oli samping, dan lain sebagainya diberikan secara Cuma-Cuma.

Saya pribadi adalah pengguna vespa sejak lama. Dan saya begitu menikmatinya kehidupan seperti ini. saling berbagi, menghormati, kasih saying, dan perasaan kemanusiaan lainnya yang betul-betul saya dapatkan di sini, di kehidupan vespa. Nampaknya, bangsa Indonesia harus banyak belajar cara hidup seperti yang saya rasakan di dunia vespa.

Hikmah

Jika saya perhatikan, bangsa Indonesia ini sangat beragam layaknya dunia vespa yang saya ceritakan di atas. Namun, sikap dari bangsa yang terlahir beragam ini terkadang tidak menunjukkan sifat kemanusiaan saling menghargai dan menerima perbedaan. Padahal, ini semua adalah anugerah terindah yang dikasih Tuhan kita secara gratis.

Akhir-akhir ini, bangsa kita tengah dihajar oleh berbagai sentimen isu SARA. Mulai dari pemimpin yang harusnya islam lah, orang pribumi lah, atau surga hanya milik mereka yang muslim saja dan yang lain tidak berhak mendapatkannya.

Banyak dari kita, yang justru bukan orang islam, bukan pribumi, dan bukan-bukan lainnya yang bersikap lebih baik dari seorang mayoritas. Bahkan, dari mereka kita bisa menikmati indahnya hidup ini di tanah air tercinta Indonesia. Lihat saja, I Gusti Ketut Puja, I gusti ngurah rai (hindu), Laksamana Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Thomas Matulesy/Kapitan Pattimura (Nasrani), dan masih banyak lagi lainnya yang telah memperjuangkan Indonesia hingga Indonesia menjadi negara yang merdeka.

Sebaliknya, banyak dari kalangan mayoritas yang mengaku paling benar dan taat tapi kelakuan mereka sangat jauh dari norma-norma agama. Baru-baru ini, kita dilihatkan seorang hakim Mahkamah Konstitusi (MK) telah tertangkap tangan korupsi terkait undang-undang  peternakan.

Ya, dialah Patrialis Akbar. Ia dikenal relijius dan sangat getol dalam penolakannya kepada tersangka penista Al-Quran, Ahok. Bahkan, ia sering berdakwah dan memberikan nasehat kepada masyarakat untuk meneladani sifat-sifat Rosul dalam sendi-sendi kehidupan ini.

Namun, semua yang diucapkan dan segala nasehat yang diberikan hanyalah omong kosong belaka untuk dirinya sendiri dan memberi contoh buruk. Justru, sikapnya yang melakukan tindakan  korupsi adalah tindakan nyata dari menistakan Al-Quran yang sesungguhnya. Karena, Al-Quran sendiri pada surat Ali-Imran ayat 161, Al-Baqarah ayat 188, Al-Anfal Ayat 27, dan Al-Muminun Ayat 8  menyatakan secara jelas dan gamblang tentang larangannya untuk bertindak tidak amanat tersebut.

Bukan maksud saya untuk menghina atau mengejek dari mereka yang selama ini menyebut dirinya paling Islami, namun tingkah mereka jauh dari Islam. Saya juga muslim dan saya melihat beberapa oknum yang mengaku muslim paling taat tapi justru tindakan mereka menodai islam itu sendiri.

Sebagai pemeluk Islam, saya malu atas tindakan-tindakan tersebut. Karena,  sejak kecil saya tidak pernah sedikitpun diajarkan untuk mencuri hak orang lain karena hal itu tidak dibenarkan sama sekali dalam Islam. Perilaku ini,  Sama saja kita mencabik-cabik tubuh saudara kita sendiri karena dalam Islam sesama Islam layaknya sebuah tubuh yang jika ada rasa sakit satu bagian, maka yang lainnya akan merasakan sakit.

Peristiwa ini menjadi momen kita bersama, khususnya umat islam untuk berbenah dan introspeksi ke dalam diri sendiri untuk tidak mudah menggembar-gemborkan diri kita sendiri yang paling taat. Percuma, jika kelakuan kita tidak sebanding dengan apa yang kita ucapkan. Lebih baik, kita buktikan dengan sikap nyata kita untuk sesama demi kebaikan dan bergerak bersama-sama. Dan saya percaya, Patrialis Akbar hanyalah oknum saja, bukan bagian dari Islam sesungguhnya.

Untuk itu, dalam memahami kehidupan ini haruslah kita memandang sama sebagai makhluk tuhan. Hanya kebaikanlah yang membedakan diantara kita. Tanggung jawab kita saat ini adalah bagaimana kita bersama-sama sebagai anak bangsa yang beragam untuk tetap menjaga dan mempertahankan keberagaman yang sejuk ini. Selain itu, berjuang bersama-sama untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang jauh lebih baik dari sekarang ini, apapun itu agama, suku, golongan, dan kelompoknya.

Vespa memang bukan benda hidup yang bisa menegur kita kapan saja. Namun, perjalanannya memberikan kita sebuah perjalanan berharga yang sedikit banyaknya membuat kita bercermin. Apakah Tuhan kita menghendaki  perbedaan ini semua atau tidak. Yang jelas, perbedaan kita ini yang oleh Tuhan kita untuk saling mengenal dan mengetahui satu sama lainnya.

Artikel Terkait