Beberapa waktu yang lalu, saya mengajak mahasiswa kelas manajemen semester akhir ke Blitar. Salah satu tujuan kunjungan adalah Kampung Coklat. Sebenarnya kami juga ingin belajar kepada Pak Sis tentang spirit manajemen ternak ayam nya yg legendaris, tapi waktu jualah yg membatasi. Tapi lain kali kami akan belajar.

Di Kampung Coklat, kami ditunjukan cara tanam dan proses produksi hingga pemasaran coklat. Tetapi bukan itu sebenarnya tujuan utama kami. Tujuan kami kesana ingin belajar bagaimana ide bisnis direalisasikan menjadi usaha nyata yang membawa keuntungan dan kesejahteraan, bukan hanya untuk pelaku bisnis, tetapi juga kemaslahatan orang banyak.

Kemajuan Kampung Coklat tidak lepas dari peran Pak Imam. Beliau yg waktu itu bekerja sebagai tenaga ahli sebuah perusahaan coklat di Surabaya. Pak Imam tergerak hatinya ketika menyaksikan harga coklat kering di tingkat petani di daerahnya hanya Rp. 8.000, per kilogram.

Padahal di Surabaya harga per kilogram Rp. 20.000, waktu itu. Petani yang menanam, merawat dan mengasuh coklat itu seperti mengasuh anak sendiri, hanya mendapat 8.000, sedangkan padagang tengkulak yg hanya memindah barang dari Blitar ke Surabaya mendapatkan keuntungan 12.000, per kilo. Belum lagi resiko yg dihadapi petani, seperti harga jatuh pada saat panen, hingga iklim yg tidak menentu dan serangan hama.

Petani, menurut Pak Imam perlu ditolong dalam berbagai usaha. Maka dilakukanlah usaha pendirian koperasi yang menampung produk petani dan menjualnya langsung ke Surabaya, sehingga petani mendapatkan harga yang pantas. Usaha ini berhasil dan petani coklat meningkat pendapatanya.

Begitulah tata niaga produk pertanian kita. Petani yg memproduksi dg susah payah, malah berada pada posisi yang lemah dan tidak dapat menentukan harga. Kasus ini mengingatkan saya pada saat BPPC milik Tomi Suharto mengendalikan harga cengkeh di tingkat petani. Termasuk juga tata niaga tebu yg juga cenderung merugikan petani dan pemilik lahan. Singkat cerita, tata niaga coklat juga tak ubahnya seperti tata niaga tebu dan cengkeh jaman itu.

Kembali pada Kampung Coklat. Pak Imam dan kelompok tani coklat, tidak hanya puas dengan perbaikan harga coklat. Mereka berpikir, bagaimana agar petani tidak perlu menjual coklat ke Surabaya dalam bentuk biji coklat, tetapi orang orang datang ke Blitar membeli coklat siap santap, siap saji dan menjadi produk yang bisa dinikmati langsung di lokasi perkampungan coklat.

Ide bisnis inilah yg sangat menarik. Konsepnya sederhana. Membuat pembeli datang untuk membeli. Maka Pak Imam mengundurkan diri dari perusahaan tempat beliau bekerja dan melatih warga kampung memproses coklat menjadi berbagai makanan berbasis coklat.

Sekarang kampung coklat itu didatangi pengunjung tak kurang 1.500 an orang per hari dan di musim liburan, pengunjungnya bisa meningkat 4 kali lipat. Konsepnya sederhana, membuat pembeli datang untuk membeli. Diakhir pertemuan saya katakan kepada mahasiswa, belajar bisnis, kadang tidak perlu menggunakan buku buku tebal dan teori yang rumit-rumit, tetapi kita bisa belajar langsung dari pelaku. Meskipun mereka berada di kampung-kampung. Semoga menginspirasi usaha anda :)