Nanny
6 bulan lalu · 729 view · 3 min baca menit baca · Politik 98223_84873.jpg
fineartamerica.com

Belajar Bertarung dalam Politik melalui US Government Shutdown-nya Trump

Konon Amerika Serikat saat ini sedang dimatikan pemerintahannya. Apakah ini artinya negaranya bubar? Kok di banyak media masih kelihatan orang-orang Amerika baik-baik saja. Saya masih menonton mereka ketawa-ketawa di banyak program late night show-nya. Ternyata setelah saya melihat US Government Shutdown di Wikipedia barulah saya mendapatkan pencerahan. 

Peristiwa ini tidak hanya terjadi di pemerintahan Donald Trump tetapi juga terjadi di masa pemerintahan presiden terdahulu, termasuk Barrack Obama. Ini sudah kedua kalinya Trump mematikan pemerintahannya, kali ini ia ngambek karena tidak diberi anggaran oleh konggres untuk membangun tembok perbatasan dengan Meksiko.

Selama pemerintah dimatikan, para pekerja pemerintahan di beberapa lembaga diliburkan, ada juga yang tetap bekerja namun dilakukan selama sukarela. Jumlah pekerja yang diliburkan adalah 800.000 orang, mereka tidak aktif bekerja sejak 22 Desember tahun lalu sampai hari ini. Lantas mereka tidak mendapatkan gaji, oleh karena itu gaji mereka diambil Trump untuk membangun tembok yang rencananya akan dibuat dari baja. 

Begitulah Shutdown bekerja agar Trump dapat membangun tembok perbatasan. Menurut Trump, tembok perbatasan sangat penting untuk menghalau para imigran ilegal yang menjadi penyebab masalah kriminalitas di Amerika.


Ide pembangunan tembok ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat karena hal ini menjadi agenda utama Trump saat mencalonkan diri menjadi presiden. Jika isu utamanya adalah imigran ilegal, saya belum melihat solusi lain daripada membangun tembok perbatasan. 

Sejak Trump berkampanye mencalonkan diri menjadi presiden, banyak respons yang muncul untuk melawan ide pembangunan tembok tersebut dengan memberikan pernyataan bahwa mayoritas penduduk Amerika adalah imigran, termasuk istri Trump. Namun hal itu bukanlah solusi di mata presiden, dan ia keukeuh membangun tembok tersebut.

Pada pertemuan untuk membahas pembangunan tersebut, Trump melakukannya secara singkat. Ia berbicara tanpa basa-basi dengan lawan politiknya Democrats sekaligus perwakilan dari konggres, Nancy Pelosi dan Chuck Schumer. Trump bertanya apakah pembangunan temboknya disetujui.

Saat ia tidak mendapatkan persetujuan, ia lalu menyatakan pertemuan tersebut tidak berguna lalu berkata “Bye-bye” kemudian meninggalkan mereka begitu saja. Hal itu ia pertegas di akun twitternya. Mematikan pemerintahannya adalah langkah berikutnya yang ia lakukan.

Saat di Indonesia para politisi dan negarawan melakukan psy war hanya di media, Trump melakukan konfrontasi langsung pada lawan politiknya tanpa negosiasi. Entah harus sedih atau bahagia, kita bisa melakukan pertempuran politik relatif lebih dewasa. 

Walaupun di akar rumput pada tahun kemarin banyak terjadi persekusi diantara kelompok masyarakat yang berbeda pandangan politik. Demikian pula pada pelaporan untuk ujaran kebencian dan penistaan. Itu artinya kedewasaan ini masih dalam tahap mengkhawatirkan.

Mereka memiliki pertarungan politik dengan gap yang jelas, katakanlah antara Republik dan Demokrat atau konservatif dan liberal yang belakangan mengaku progresif. Hal ini sudah terjadi sejak lama dan menjadi bagian dari sejarah Amerika. 


Yang menjadi perbedaan saat ini adalah perilaku Trump berpolitik. Apa yang ia lakukan tidak akan sanggup dibayangkan bila itu terjadi di Indonesia, kita tidak punya tradisi meninggalkan pertemuan dengan ngacir begitu saja lalu bilang “Bye-bye.”

Tidak hanya sekali ia melakukan tindakan kontroversial, masyarakat telah mengetahuinya sejak ia berkampanye menjadi presiden. Terakhir yang ia lakukan untuk mendorong Demokrat agar memberinya anggaran untuk mendirikan tembok adalah dengan menjamu tim football yang berkunjung di White House dengan fast food semacam Burger King, Mc D, dll, dengan alasan pegawai masaknya libur karena Shutdown

Momentum ini ia manfaatkan untuk mendorong Demokrat agar menyetujui pendirian tembok perbatasan dan ia juga bisa menghidupkan kembali pemerintahannya. Bayangkan bila ini terjadi di negara kita, seorang presiden menjamu altit Asian Games dengan Indomie goreng di istana negara? Sangat tidak masuk akal.

Caci maki sudah menjadi budaya tersendiri di sana, bahkan berlangsung setiap hari. Presiden mereka dibully, videonya diedit lalu dijadikan bahan lelucon di setiap program late night show. Namun tak satupun dari mereka dilaporkan dengan tuduhan menghina presiden atau pasal apa pun. 

Kita bisa saja dibilang lebih dewasa dari mereka. Tetapi coba lihatlah apa yang terjadi, banyak orang masuk bui kerena ujaran kebencian atau penistaan. Lalu tiap kubu politik juga berlomba-lomba menjadi yang paling benar tanpa memiliki kejelasan pijakan politik. 

Bagaimana bisa sang petahana memilih cawapres dari kalangan konservatif dan sang oposisi yang didukung oleh kalangan konservatif memilih cawapres liberal yang dijadikan santri? Sang Presiden Jancukers yang galau pun ngetwit untuk mempertegas keadaan :

Musang (berbulu domba): Aku domba!
Domba (berbulu musang): Aku musang!
Musang: Kamu bohong!
Domba: Kamu yang bohong!
Gareng: Duh! Aku harus memihak mana ini, Mar?
Semar: Berpihaklah pada yg gak merasa bohong.
Domba: Aku gak merasa bohong
Musang: Aku jg gak merasa bohong


Sepertinya kita harus menuruti kata Presiden Jancukers di program ILC semalam agar menjadi bangsa yang blak-blakan. Namun jangan lupa tetap mengangkat isu yang logis untuk diperdebatkan agar pertarungan politik di negara kita jelas. Seperti yang dilakukan Trump dengan tembok perbatasannya tanpa meniru perilakunya.

Artikel Terkait