Dua minggu lalu, kami dikabari akan ada Rapat Akhir Tahun (RAT) di koperasi yang saya dan istri ikuti. Pada hari minggu siang, saya ditelepon ibu mertua untuk bisa hadir di acara tersebut. Kebetulan, waktu ditelepon, kami  sedang berada di salah satu rumah tokoh agama untuk suatu urusan penting. Yaitu, terkait dengan urusan yayasan pendidikan yang kami pimpin.

Sekitar pukul tiga sore urusan terkait yayasan selesai, kemudian kami berangkat ke acara RAT koperasi. Karena sudah cukup sore, acara RAT hampir saja selesai. Yang tersisa hanya urusan membagi Sisa Hasil Usaha (SHU). Tapi tidak apa, memang itu yang terpenting dalam kegiatan itu, hahaha.

Istri langsung mengurus SHU ke bendahara koperasi dan mengantri.  Saya sendiri sibuk menjaga si bontot. Karena baru bisa jalan, maka ia menjelajah ke segala arah. Di situ, ada juga anak kami yang nomor dua, usianya sekitar lima tahun dan sedang main dengan dua teman sebayanya.

Sambil menjaga si bontot, saya melihat dan memerhatikan anak kami dan teman-temannya yang sedang bermain? Apa sih yang mereka mainkan? Seru sekali kelihatannya. 

Ternyata mereka itu sibuk mengisi lubang-lubang di batu bata merah dengan pasir. Kurang kerjaan? Bagi orang dewasa mungkin. Tapi, tidak bagi mereka. Yang  sederhana itu ternyata membawa  keseruan bagi anak-anak kecil itu.

Dalam kegiatan itu, setelah lubang-lubang itu penuh, mereka akan mengambil dan mengisi lubang pada bata lainnya. Karena saking serunya,  ketika ada anak lain ikut nimbrung dan berpotensi untuk merusak permainan, mereka pun marah. “Kamu jangan di sini, ini bantu bata saya, ini sudah saya isi”, begitu kira-kira hardikan salah satu anak-anak itu ke anak yang mencoba menganggu mereka.

Anak-anak itu mudah bahagia. Kebahagiaan dapat mereka temukan dalam aktivitas atau permainan sederhana. Main petak umpet, mengisi pasir ke dalam lubang batu bata, memanjat pagar, teriak bersama-sama atau bergantian, dan masih banyak lagi.

Itulah anak-anak, mudah sekali menemukan keseruan dan kebahagiaan di banyak hal sederhana. Namun berbeda dengan orang-orang dewasa yang saat ini jadi sulit untuk bahagia. Bertambahnya usia sering kali membuat kita sulit menikmati kegembiraan pada hal-hal yang kita lakukan. 

Kita harus punya syarat ini dan itu, untuk bisa bahagia. Akhirnya ya sulit bahagia. Harus ada si A baru seru, harus naik mobil atau motor jenis tertentu baru bisa menikmati perjalanan. Harus ini dan itu, yang  akhirnya membuat kebahagiaan menjadi semakin sukar diperoleh dan dinikmati.

Dapat melakukan hal kecil dan berhasil, anak-anak sudah bahagia. Orang yang sudah dewasa, bisa bahagia jika yang bisa mencapai  apa yang sesuai ekspektasi, atau sesuai target. Padahal di banyak hal, sesuatu yang sesuai target atau harapan sering tidak terjadi.  Apakah kita harus menunda bahagia?

Selain karena realita tak sesuai kenyataan, kita sering menaruh kebahagiaan itu berdasarkan pandangan orang lain. Kita bahagia jika apa yang kita lakukan itu “benar” atau “baik” dalam pandangan orang lain. Kalau menurut  banyak orang apa yang kita lakukan itu baik dan berharga, kita bahagia. Jika tidak, kita enggan untuk bahagia.

Dua hal di atas membuat kita, para orang dewasa tak mudah bahagia. Kita menjadi orang-orang yang harus bersusah payah untuk bahagia. Harus punya ini dan itu, harus melakukan ini dan itu, atau bisa ke sini atau ke situ, baru bisa bahagia. Malang sekali jika ukuran bahagia harus seperti itu.

Untungnya, kita masih punya contoh yang bisa diteladani dalam meraih bahagia. Anak-anak. Walaupun mereka mudah bosan, cengeng, moody dan sebagainya, tapi mereka mudah menikmati dan menciptakan kebahagiaannya sendiri.

Cukup dengan batu bata dan pasir sisa, cukup dengan bersembunyi di balik pagar tembok, cukup dengan teriak-teriak ngak jelas, mereka sudah bahagia. Mereka tidakk menunggu harus punya baju bagus, mainan mahal, atau makanan enak dan viral untuk bahagia. Mereka mampu bahagia dalam hal-hal yang sederhana.

Kita bisa, dan seharusnya meniru mereka. Kita bisa bahagia di tengah hujan rintik dan kopi hangat yang menemani. Terlepas dengan gaji yang masih UMR, dan yang akan habis pada tiap akhir bulan tanpa sisa.  Kita bisa menikmati kebahagiaan ketika mengantar anak-anak kita sekolah. Terlepas dari makin melambungnya biaya sekolah dan biaya pendukung lainnya. Nikmati saja. Syukuri saja walaupun berat kita masih bisa membayarnya.

Kita perlu meniru anak-anak untuk tidak pusing dengan kata orang. Tidak usah pusing soal standar dan jenis pekerjaan yang dikatakan “baik” dan “mapan” di dunia ini. Yang pada akhirnya pasti "lari" ke uang dan uang lagi. Yang keren itu kalau gajinya dua digit, atau yang jika pergi  bekerja memakai pakaian yang rapi dan bagus. 

Kalau ukurannya hal-hal di atas, berarti mayoritas masyarakat dunia sulit bahagia. Jadi, nikmati apa saja yang bisa dinikmati. Syukuri apa saja yang memang pantas disyukuri. Tidak usah peduli dengan standar dunia ini.

Bahagia itu sederhana, cuma kita yang seringkali membuatnya rumit dan sulit. Makanya kita perlu belajar dari anak kecil yang berpikir sederhana dalam menapaki kehidupan yang penuh beban dan masalah ini. Percaya saja, jika kita punya beban, maka kita pasti bisa menanggungnya. Kalau kita punya masalah, ingatlah bahwa semua orang juga punya masalah. 

Jadi apa yang perlu dipusingkan dan dikhawatirkan? Nikmati saja beban dan masalah itu. Jika bisa, buat jadi ringan dan selesaikan segera. Jika tidak, lanjutkan untuk bahagia.

Hal terakhir yang perlu diteladani dari anak kecil adalah “anti jaim”. Mau marah, ya marah. Mau kesal ya kesal saja. Tidak takut image-nya ternodai, atau dipandang aneh. Kebanyakan orang dewasa suka jaim, mereka takut dengan pandangan orang lain terhadapnya jadi rusak. Yang akhirnya hal itu  semakin menyusahkan dirinya sendiri. 

Hidup seperti itu pasti sulit dan tak bahagia. Untuk bahagia kita hanya perlu membebaskan diri, dan lakukan apa yang kita sukai. Bahagia saja menurut versi kita, bukan menurut kata orang.