Pernahkah kamu punya teman yang terobsesi dengan kebersihan? Ia akan mengelap meja berulang kali untuk memastikan tak ada debu yang menempel. Begitu juga dengan tangannya. Berulang kali dibersihkan hingga ia merasa nyaman. Jangan sekali-kali kamu berani menyentuh barang-barang pribadinya. Bisa panjang ceritanya.

Teman seperti ini tentu tidak bisa diajak kemping. Ia hanya akan merepotkan di perjalanan. Lebih baik, tinggalkan saja ia di rumah.

Entah apa yang membuatnya begitu ketakutan dengan kotor dan kuman. Padahal buat kita, barangkali ini wajar. Kita tak risih dengan keringat atau memegang gagang pintu yang sudah disentuh ratusan orang. Paling kita hanya mengumpat saat terciprat genangan air oleh laju kendaraan di jalan.

Ketakutan teman tersebut aku pahami saat pandemi ini. Terutama karena aku kini menjadi seperti temanku itu. Aku kini membuka pintu dengan siku, memencet tombol di lift dengan jari yang dibalut tisu. Kalau ada yang batuk atau bersin, aku akan melipir mencari jalan lain. Takutku menjadi-jadi, bahkan untuk memegang hidung atau mengucek mata sendiri.

Sebulan terakhir ini, aku dan anakku hanya tinggal di rumah. Jangan kau bayangkan rumahku seperti rumahmu yang punya teras, ruang tamu, dan halaman belakang. Apa yang bisa kamu harap dari rumah berukuran 28 meter persegi? Hanya ada kamar, kompor kecil, dan kamar mandi. 

Sebetulnya tidak ada masalah dengan rumah kecil ini. Toh, sehari-hari kami hanya pakai untuk istirahat di saat malam saja. Pukul 05.30 kami sudah keluar rumah; dan kembali saat sudah malam. Akhir pekan pun kami harus keluar rumah. “Bisa meleleh kalau kita di dalam rumah terus,” kata anakku.

Sekarang bisa kamu bayangkan, saat kita semua harus tinggal di dalam rumah untuk jangka waktu cukup lama, keadaanku mirip burung di dalam sangkar. Tak ada pilihan.

Pada titik ini, aku memahami obsesi temanku terhadap kebersihan, juga ketakutan dia terhadap kuman. Mungkin sama seperti aku yang takut tertular virus korona bila masih mondar-mandir di jalanan.

Takut ini tak aku simpan sendiri. Segera aku telpon Ibu di Yogya untuk juga berhati-hati. Tanpa aku sadari, virus ketakutan sedang aku sebarkan. Dan ibu pasti akan melakukan hal yang sama terhadap bapak dan tetangga kiri-kanan. Celotehku di media sosial pun tak jauh dari waswas dan kecemasan.

“Jangan cari kepastian kapan pandemi berakhir. Jalani saja keadaan ini dengan kesibukan di rumah,” begitu kiriman pesan di telepon dari seorang kawan.

Aku tahu rasa takutku sudah berumah menjadi cemas. Apalagi beruntun berita ribuan orang mati karena korona. Hari-hariku menjadi tidak tenang. Besok aku masih hidup, tidak? Seminggu lagi aku akan sesak napas, tidak? Bahkan aku cek semua pinjamanku di bank, apakah ada klausul ahli warisku tak dibebani untuk membayar utang kalau aku mati mendadak karena virus ini.

Berapa kantong beras yang kamu beli? Berapa kilogram daging yang kamu simpan? Juga timbunan mi instan. Jangan malu untuk mengakui, banyak di antara kita melakukan ini. Aku pun sempat, meski hanya 10 kilogram beras yang aku simpan.

Hanya rasa tenang yang bisa membungkam kecemasan. Bukankah untuk mendapatkan rasa tenang kita juga butuh kepastian? Kepastian kapan pandemi akan berakhir. Kepastian kapan kita boleh beraktivitas di luar rumah lagi. Kepastian tak ada lagi orang mati karena virus ini.

Manusia memang selalu mencari kepastian. Sama seperti sebuah hubungan. Tanpa kepastian, akan bubaran di tengah jalan. Nah… kalau untuk soal satu ini, aku paham bagaimana harus mengatasi; bubar adalah solusi. 

Sangat tidak nyaman hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Ketika kita tak tahu kapan hidup akan berjalan normal kembali, berdamai mungkin menjadi solusi. Aku mengakhiri rasa cemasku dengan berlari di selasar rumah, 10 kilometer. 

Selasar ini panjangnya kurang lebih hanya 50 meter. Aku sudah seperti jangkrik aduan yang bergerak dari ujung ke ujung tanpa kesudahan. Itu caraku mengucapkan selamat tinggal pada rasa tak nyaman.

Aku perlu belajar bahagia dengan semua keterbatasan ruang gerak ini. Meninggalkan zona emosi dan zona ketakutan, bergerak menuju zona belajar dan zona tumbuh. Bahagia itu ada di dalam hati. 

Lagi pula, aku harus berterima kasih pada korona. Alisku boleh tebal, lipstikku boleh cetar, tapi celana kolor adalah kunci kerja nyaman dari rumah. Dan ini tidak mungkin kita lakukan sebelum korona datang, bukan?