Arsiparis
2 tahun lalu · 113 view · 2 min baca · Cerpen kampung_nelayan_teluk_kasai.jpg
https://upload.wikimedia.org

Belah

Perjalanan waktu yang panjang menyusuri detik detik menuju pertemuan yang lama kurindukan. Di atas bus antar kota yang membawaku ke kota kelahiranku, Paciran. Desa yang panas dan beraroma asin karena berada di pesisir pantai utara Lamongan.

Suara keroncong Tuti Tri Sedya membawakan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama membuat perjalananku malam hari itu terasa sedikit terhibur dan tidak menjemukan, walaupun bus penuh sesak dan kadang-kadang diselingi suara tangis dari bayi yang terjaga dari tidurnya minta disusui ibunya.

Masih sekitar kurang lebih tujuh puluh kilo meter lagi menuju desaku, ketika bus memasuki hutan antara Ngawi dan Bojonegoro. Jalan berjurang dan penuh liku membuat kantukku hilang dan tak bisa tidur. Entah sudah berapa tikungan aku lalui dan tanpa terasa kantukku pun datang kembali.

“Mas, sudah sampai, bangun,” suara kondektur menyadarkanku dari tidurku. Aku bergegas turun mengambil ranselku sambil mengucap terima kasih pada kondektur yang telah membangunkanku. Jam menunjuk pukul dua belas malam ketika aku lihat arlojiku. Suasana terminal Tuban sudah agak sepi dan angkot menuju desaku pun sudah jarang walaupun masih bisa kutemukan kalau aku mau bersabar menanti.

Tak lama berselang angkot pun datang “Ciran , Ciran, ayo ini angkutan terakhir,” suara kenek angkutan pedesaan  menawari setiap orang yang berdiri di depan terminal. Segera aku memasukinya, “Lho kok kowe, Sam,“ sapa kenek tersebut ketika aku mendekatinya. “ Ya arep sambang emak” jawabku.

“Suwe, gak mulih, kon,” lanjutnya. Ternyata kenek angkot tersebt adalah Memet sahabatku waktu SMA. Dia kelihatan lebih dewasa dan terlihat kekar dibandingkan saat waktu masih sekolah dulu, kini badannya kerempeng.

Memang orang yang bekerja sejak muda wajahnya kelihatan lebih dewasa nggak tahu kenapa. Sebenarnya Memet ini waktu sekolah sangat pintar. Ia termasuk tiga jawara di kelasku, selain ia masih ada Agung dan Bachri. Mereka bertiga selalu berbagi rangking satu , dua, dan tiga. Dan biasanya rangking empat selalu menjadi bagianku.

Ayah memet adalah nelayan di desaku yang penghasilannya tidak menentu karena dalam bekerja ia tidak mempunyai perahu sendiri hanya ikut juragan. Juragan adalah orang yang punya perahu. Biasanya juragan mengajak seorang lagi untuk membantunya melaut mencari ikan atau lebih di kenal dengan istilah Belah di desa kami.

Karena ayahnya hanya seorang Belah, memet tidak bisa melanjutkan sekolahnya.  kebiasaan anak seorang belah,  begitu lulus sekolah dasar akan langsung jadi belah juga. Diikutkan dengan juragan kenalan ayahnya. Hidup di desa nelayan seperti desaku memang banyak anak yang hanya lulus sekolah dasar. Memet termasuk anak belah yang tergolong masih beruntung bisa lulus SMA tidak disuruh kerja seperti anak anak belah yang lain begitu lulus SD.

Setelah satu jam perjalanan dari tuban angkot sudah memasuki wilayah desaku. Aroma laut langsung menyengat hidungku. Bau udara yang khas beraroma ikan kering, jaring ikan yang dijemur, dan ikan yang diasap membuatku selalu rindu akan desaku. Aku turun sambil menyodorkan ongkos pada Memet tapi ia  menolak.

 “Nggak usah, teman sendiri kok,” aku menjadi rikuh karenanya.

“main ke rumah, ya,“  ajakku pada Memet ketika angkotnya hendak berangkat lagi.

Setiap pulang kampong memet biasanya datang ngobrol ke rumah hingga larut malam. Biasanya ia akan bertanya tentang kuliah dan gimana rasanya jadi anak kos itu. Sepertinya ia mengimpikan hal itu tapi tak mampu dan hanya menikmati keseruan menjadi mahasiswa dari ceritaku.

Dalam hati aku bertanya banyakkah anak-anak seperti Memet di negeri ini. Ataukah hanya ada di desaku yang memang terpencil. Desa nelayan yang tak begitu menghiraukan akan arti penting pendidikan bagi anak-anaknya.

Dan sering kali para orang tua di desaku itu berkata berkata, “Kalau tanpa sekolah pun bisa bekerja mengapa harus susah-susah menyekolahkan anak.” sebuah kalimat sakti yang menelurkan banyak remaja putus sekolah di desaku.

Artikel Terkait