Mahasiswa dituntut aktif di kegiatan lain selain kuliah. Tuntutan tersebut lambat laun menempatkan mahasiswa pada pilihan kegiatan tertentu. Terdapat dua kegiatan utama yang banyak diminati mahasiswa.

 Mahasiswa yang menyukai sosialisasi umumnya memilih mengikuti organisasi, namun bagi mahasiswa yang lebih menyukai tantangan cenderung memilih terjun langsung ke dunia kerja. 

Bekerja dan Organisasi merupakan dua topik hangat yang tidak terlalu penting namun asyik diperdebatkan. Hal ini awalnya tidak mengganggu, hingga muncullah sebuah status "apatis" terhadap mahasiswa yang tidak berorganisasi. 

Mahasiswa yang tidak berorganisasi dipandang sebagai mahasiswa yang tidak pintar bergaul dan cenderung menutup diri. Hal tersebut sangat bertentangan dengan mahasiswa yang aktif organisasi. 

Mahasiswa yang aktif organisasi dipandang sebagai pribadi yang gauleksis, dan dapat diandalkan. Hal ini menyebabkan terbentuknya dua belah kubu yang tak kasat mata, sebut saja "si aktif dan "si pasif".

Mahasiswa aktif organisasi akan dihadapkan dengan berbagai agenda dan program kerja yang menuntut kecakapan mereka dalam membagi waktu. Program kerja mulai dari planning yang mengharuskan tiap anggotanya berpikir kritis juga kreatif. 

Kegiatan yang menuntut mahasiswa dapat bekerja sama dengan beragam sifat anggotanya, juga terakhir evaluasi yang melatih mental dan rasa tanggung jawab tiap mahasiswa atas tugas yang telah diberikan.

Manfaat organisasi yang lain yaitu dapat meningkatkan publik speaking serta melatih soft skill tiap anggotanya. Mengapa demikian? Mahasiswa yang berorganisasi terbiasa menghadiri bahkan mengadakan kegiatan yang mengharuskannya berbicara di depan publik. Hal ini sangat bermanfaat bagi kemahiran publik speaking mahasiswa.

 Mahasiswa juga dapat mempelajari serta mendalami soft skill mereka melalui kegiatan serta agenda yang dimiliki tiap organisasi. Soft skill akan meningkat seiring dengan kegiatan yang dilakukan. Soft skill dan publik speaking ini sangat berguna nantinya di dunia kerja.

Mahasiswa banyak yang mengikuti organisasi namun banyak juga yang memilih bekerja sebagai sarana pengisi waktu luang mereka. Bagi mahasiswa yang bekerja, mengikuti organisasi dipandang hanya membuang buang waktu dan kurang bermanfaat.

Mahasiswa organisasi dipandang terlalu sibuk akan agenda agenda yang kurang penting dan cenderung sia-sia. Hal tersebut sangat berbeda dengan bekerja.

 Mahasiswa yang bekerja dituntut untuk produktif, selalu dapat menghasilkan output tertentu sekaligus pandai berinteraksi dengan pekerja lainya. Dunia kerja dianggap lebih keras dibanding organisasi.

 Hal itu dikarenakan dalam dunia kerja tiap individu dituntut harus melampaui target tertentu yang telah ditetapkan. Mahasiswa yang bekerja juga diharuskan lebih sigap dalam situasi apapun serta siap dengan segala risiko yang ditanggung. 

Tuntutan tersebut terkadang menyebabkan mahasiswa keteteran, terutama dalam menentukan skala prioritasnya. Mahasiswa yang terlalu hanyut dalam dunia bekerja biasanya mudah mengesampingkan tugas utamanya yaitu kuliah.

Hal tersebut yang menyebabkan konflik terberat dan tantangan terbesar bagi mahasiswa yang bekerja sambil kuliah.

Mahasiswa yang bekerja dengan dasar pengalaman organisasi dengan bekerja tanpa dasar organisasi tentu akan berbeda hasilnya. Mahasiswa yang bekerja diawali dengan pengalaman organisasi yang cukup dirasa akan lebih mudah nantinya. 

Organisasi bermanfaat untuk menyiapkan diri agar lebih mudah nantinya ketika masuk ke dunia kerja. Mahasiswa yang mengikuti organisasi dirasa sudah mengambil "start" terlebih dahulu sehingga akan lebih mudah dalam beradaptasi, bersosialisasi, dan bekerja dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

 Mahasiswa yang bekerja sambil kuliah pun tidak kalah. Mereka dapat berlatih terlebih dahulu dan dapat menambah pengalaman bekerja secara nyata sehingga ketika lulus kuliah nanti hanya perlu meningkatkan kualitas pekerjaannya. Seperti kata pepatah "pengalaman adalah guru yang terbaik".

Bekerja atau organisasi sejatinya tergantung pilihan dan keadaan tiap mahasiswa. Bekerja ataupun organisasi memiliki manfaat dan kekurangannya masing-masing. Mahasiswa yang bijak seharusnya mengetahui kegiatan yang cocok dan semestinya ia lakukan. 

Mahasiswa yang masih kesulitan menentukan pilihannya dapat mencoba dengan melakukan keduanya. Mahasiswa pada awal semester mengikuti organisasi lalu di semester selanjutnya bekerja. Hal tersebut dapat menjadi acuan bagi tiap mahasiswa sebaiknya kegiatan mana yang harus dan cocok ia lakukan. 

Mahasiswa yang mencoba secara langsung akan semakin paham dan tidak hanya bersumber dari "katanya" namun sudah dapat menimbang dari pengalaman pribadinya sendiri. Jadi kamu pilih bekerja atau organisasi sob?

Bekerja ataupun berorganisasi memiliki kesamaan yaitu memberikan manfaat bagi mahasiswa Keduanya adalah elemen penting bagi kehidupan dan saling berkaitan serta melengkapi.

 Mahasiswa yang terlalu asyik bekerja dan mengesampingkan organisasi nantinya akan kesulitan pula ketika harus hidup berdampingan dan bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya.

Mahasiswa yang terlalu fokus pada organisasi juga tak lebih baik karena kurangnya pengalaman secara nyata tentu akan menghambatnya nanti ketika terjun langsung ke dunia kerja. 

Kedua hal tersebut mengharuskan mahasiswa untuk berpikir kritis guna menentukan pilihan yang tepat antara organisasi atau bekerja sesuai dengan keadaan tiap mahasiswa. Hal ini tidak dapat kita pukul rata, karena kondisi tiap mahasiswa berbeda.