Pada kolom Tetes di laman caknun.com, Cak Ahmad Fuad Effendy, salah seorang marja’ dari Jama’ah Ma’iyyah telah menuliskan:

“Islam tidak memandang suatu pekerjaan lebih mulia di atas pekerjaan lainnya. Pekerjaan di kantor tidak lebih mulia di atas pekerjaan di pasar atau di sawah. Pekerjaan fisik atau keterampilan tangan tidak lebih rendah daripada pekerjaan intelektual. Pegawai pemerintah tidak lebih terhormat daripada wirausahawan. Tapi yang menjadi perhatian dalam Islam ialah apakah pekerjaan itu baik (thayyib) atau buruk (khabâts), karena yang satu halal dan yang lain haram, yang satu ‘amal shâlih dan yang lain ‘amal ghairu shâlih.”

Selanjutnya, kakak sulung dari Cak Nun ini juga menuturkan:

“Kriteria untuk menentukan kesalehan dan ketidaksalehan suatu pekerjaan adalah dipenuhinya prinsip-prinsip akhlak dan etika yang telah digariskan oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw. Hal kedua yang diberi penekanan ialah ketekunan dan kesungguhan dalam bekerja. Rasulullah bersabda, 'Sungguh, Allah amat suka jika seorang di antara kamu bekerja dia tekun dan sungguh-sungguh dalam pekerjaannya.' Maka kriteria untuk menentukan nilai suatu pekerjaan bukan saja dari hasilnya tapi yang lebih utama adalah dari prosesnya, yaitu kesungguhan dan ketekunan yang melakukannya.”

Mereka yang memandang penting akan adanya proses yang baik dalam bekerja itu maka tidak akan lagi mudah untuk merendahkan orang lain. Sebab pada dasarnya, orientasi tujuan mereka dalam bekerja adalah sama, yakni mengharap rida dari Allah SWT.

Di antara upaya yang dapat mereka lakukan untuk meraih keridaan Allah itu adalah dengan cara bekerja yang baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan profesional, dan berproses dengan penuh ketekunan.

Orang yang bekerja dengan ketekunan maka ia tidak akan semata-mata berkarya demi meraup keuntungan. Namun mereka akan lebih mengutamakan kerja yang berlandaskan pengaplikasian norma-norma agama dan kesusilaan yang harus mereka penuhi. Mereka melakukan itu semua demi memenuhi kebutuhan jiwa mereka yang senantiasa mengharapkan keridaan dari yang mereka kasihi, yakni Allah SWT dan para Rasul-Nya.

Orang yang bekerja dengan cara demikian maka akan mempertimbangkan aspek manfaat yang hendak mereka berikan pada pihak lain. Sehingga musnahlah ambisi kapitalistik yang terlalu mementingkan nafsu dunia itu dalam jiwa mereka.

Seseorang yang bekerja secara profesional akan sangat mudah untuk menghargai dan mempertimbangkan faktor psikologis dari para pelanggan mereka. Hal itu terwujud dengan adanya kehati-hatian mereka dalam membentuk kualitas produk serta totalitas mereka dalam memberikan pelayanan yang prima terhadap para pelanggan.

Pelayanan prima (service excellent) yang mereka khidmatkan kepada para pelanggan itu secara tidak langsung akan membentuk citra diri yang baik bagi mereka dalam pandangan para pelanggan. Sehingga para pelanggan pun akan memberikan timbal balik yang serupa pada mereka dalam bentuk pembelian ulang, loyalitas, dan rekomendasi pembelian di toko itu pada kerabat dan sahabat mereka.

Orang yang beragama dan memiliki etos kerja yang tinggi akan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas mereka. Mereka selalu meyakini bahwa Tuhan senantiasa bersama dengan mereka, maka dari itu secara spontan mereka akan sering mengikrarkan bismillahirrahmanirrahim saat memulai aktivitas, sebagai penegas bahwa Allah, Tuhan mereka senantiasa membersamai mereka dalam setiap pekerjaan mereka.

Mereka yang secara sadar selalu bersama dengan Allah dalam bekerja itu akan menjadikan mereka tidak berani untuk sembarangan dalam berkarya. Nurani mereka selalu membisikkan, bagaimana mungkin mereka akan berani bekerja secara asal-asalan sementara gerak-gerik mereka selalu tidak pernah luput dari pengawasan Tuhan.

Selain itu, orang yang bekerja dengan memperhatikan ajaran agama akan senantiasa berhati-hati dalam membuat perencanaan. Manakala mereka hendak bertransaksi dan membuat janji dengan klien mereka pada sebuah kontrak yang akan berlangsung di masa depan, mereka tidak akan begitu mudahnya mengikrarkan ungkapan-ungkapan meyakinkan tanpa mengiringinya dengan ucapan insyaallah. 

Sebab seideal apa pun keadaan mereka saat itu, dan sematang apa pun rencana yang telah mereka susun, mereka selalu meyakini bahwa hal itu tidak akan mungkin terlaksana tanpa seizin dari Allah SWT. Untuk itu, di samping mereka merencanakan secara matang dan dan mengusahakan proses kerja yang profesional, mereka selalu menyadari bahwa masih membutuhkan perkenan dari Tuhan.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW juga pernah ditanya oleh para sahabat mengenai pekerjaan apa yang paling baik. Beliau menjawab, “(Pekerjaan yang terbaik adalah) pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan kemampuannya sendiri dan setiap praktik perdagangan yang dijalankan dengan cara yang baik (mabrur).”

Penjelasan Nabi atas pertanyaan sahabat tadi merupakan sebuah simbol bahwa hendaknya seseorang memiliki kemandirian di dalam bekerja. Sepatutnya seseorang tidak terlalu menggantungkan diri mereka pada orang lain, lembaga, atau instansi apapun. Sebab secara tidak langsung, dengan memiliki sifat mandiri ini akan berpotensi memunculkan kreativitas mereka dalam bekerja.

Mereka yang berdikari dalam bekerja ini tidak akan mudah berputus asa manakala menghadapi jalan terjal dalam berkarier. Sebab mereka sadar bahwa mereka masih memiliki bekal kreatifitas yang dititipkan oleh Allah pada mereka supaya mampu mencari celah-celah penghidupan yang lain.

Mereka yang memanfaatkan kemandirian dan kreativitasnya itu seakan telah mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari Baginda Rasul sebagai pekerja yang paling baik sebab mereka mau menggunakannya dan tidak menyia-nyiakannya begitu saja.

Berikutnya, mengenai penjelasan praktik perdagangan yang baik itu adalah bentuk transaksi jual beli dengan menawarkan komoditas yang berkualitas, menerapkan standard pelayanan yang prima, menawarkan harga yang rasional, memberikan kesempatan bagi mitra untuk menentukan pilihan (khiyar), dan yang terpenting adalah dijalankan dengan penuh kejujuran.

Jika kita melihat konteks perdagangan saat ini yang kian meluas, maka praktik perdagangan ini tidak lagi sebatas pada aktivitas jual beli barang yang sifatnya fisik saja, namun juga meliputi komoditas yang sifatnya tak kasat mata (intangible). Komoditas yang tidak kasat mata itu dapat diperjualbelikan sebab adanya manfaat bagi mereka yang menggunakannya.

Komoditas yang tidak kasatmata ini dapat dicontohkan dengan praktik industri-industri jasa yang sudah banyak berkembang di sekitar kita. Seperti jasa tukang cukur, jasa ekspedisi, jasa perhubungan, jasa telekomunikasi, marketplace, dan sebagainya.

Dan pada intinya, tujuan para pelaku pengusaha itu dalam memberikan komoditas adalah supaya dapat memenuhi harapan dari para pelanggan mereka, dimana dari pelanggan itu juga mereka akan memperoleh keuntungan dalam bentuk kepuasan, pendapatan, loyalitas, dan juga ridha Tuhan—jika mereka mempraktikkannya dengan cara yang baik atau mabrur.

Upaya untuk memperoleh ridha dari Tuhan inilah yang menjadi visi utama bagi mereka yang menjalankan usaha dengan mempraktikkan ajaran agama. Dimana dengan menggunakan visi itu mereka tidak akan ragu untuk mematok target, hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok harus semakin baik daripada hari ini.

Sebab jika dari hasil evaluasi mereka ternyata hari ini pencapaiannya sama atau bahkan lebih buruk dari hari kemarin, maka mereka akan berhadapan dengan bahaya kerugian dan kehancuran.

Mereka yang memperhatikan unsur agama dalam bekerja ini akan mampu beraktivitas dengan penuh kesungguhan sebab mereka merasa akan hidup untuk selama-lamanya. Namun selain itu, mereka juga akan tetap mengimbanginya dengan semangat beribadah sebab mereka mewaspadai bahwa ajal mereka bisa saja datang secara tiba-tiba. Entah pada hari esok atau bahkan lebih cepat dari itu.

Dengan demikian, mereka yang memperhatikan unsur agama dalam bekerja ini akan selalu terdorong untuk bekerja secara profesional. Sebab mereka meyakini bahwa setiap detik yang mereka lalui, setiap rupiah yang telah mereka nikmati, dan setiap janji yang telah mereka sepakati, semuanya akan bermuara pada pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.