Terik panas siang, di warung sudut kampus seperti biasanya lalu-lalang mahasiswa dengan berbagai macam kepentingannya, ada yang masih santai, nongkrong ada juga yang sibuk hendak kuliah. Sehabis menghadap dosen pembimbing skripsi saya langsung menuju ke warung pojok kampus, saya duduk di depan warung sambil menyeduh panasnya kopi sembari melihat ramainya hiruk-pikuk suasana kampus beserta padatnya kendaraan di parkiran kampus dan sesekali memikirkan masa depan dalam lamunan.

Di sela-sela seduhan panasnya kopi, saya mendengar obrolan mahasiswa di dekat saya yang konon hendak berhenti untik kuliah, salah satu obrolannya yaitu, “Mahasiswa kalau sudah lulus paling-paling jadi kacung”. Obrolan salah satunya dengan nada mengejek. Saya pura-pura tidak tahu pembicaraan mereka, saya tetep menikmati kopi sambil makan sedikit cemilan. Telinga saya jadi mulai fokus ke pembicaraan mereka tetapi pandangan mata saya pura-pura tidak tahu, mimik wajah saya seperti biasa sebagaimana mestinya orang-orang ngopi.

Berdasarkan pembicaraannya, mereka menekuni dunia bisnis. Eh bro hidup adalah pilihan, mau bekerja ya boleh mau berbisnis ya boleh. Orang bekerja ya baik orang berbisnis juga baik, bahkan dosen saya pada waktu mengajar, memberi arahan kepada mahasiswanya untuk memilih mau berbisnis atau bekerja, sudah Pasti masing-masing ada resikonya . Kalau bisa berbisnis saya akui memang hebat, apalagi bisa memperkerjakan banyak orang , Karena bisnis itu bisa berkreasi sendiri tidak perlu susah-susah mencari kerja, eh berbisnis juga susah ya, siapa bilang mudah? Karena paling tidak harus mempunyai skill, harus memiliki modal, terus harus bisa mengatur manajemennya agar bisa berjalan dengan kondusif.

Tapi tolong diksinya itu lho yang benar, pilihlah diksi yang baik dengan tidak merendahkan orang lain. orang memilih bekerja itu karena itulah kemampuan mereka bisanya bekerja, kalau merasa punya kemampuan berbisnis ya bisa bagi ilmunya, jangan bisanya Cuma mengejek. toh tidak sedikit juga yang bekerja juga nantinya punya usaha sendiri. Seperti apa yang di katakan jack ma ( pengusaha sukses china), di waktu umur 25 tahun ikutilah seseorang, maksudnya bisa bekerja dulu mengikuti seseorang untuk mencari pengalamannya. Setelah umur 30 tahun kamu tidak boleh pindah kesana kemari, harus sudah punya pendirian tetap, maksudnya di umur 30 tahun di harapkan sudah punya pegangan tetap, yang di maksud di sini adalah punya bisnis sendiri, karena sudah cari pengalaman di umur 25 tahun.

Masalah-masalah seperti pengangguran, sulitnya mencari kerja selalu menghantui dari zaman dulu sampai sekarang. Saat ini memang indonesia butuh banyak orang-orang yang kreatif dan inovatif agar bisa menciptakan banyak lapangan kerja, hal seperti ini sudah banyak di wacanakan sejak dulu. Sudah banyak di bicarakan di mana-mana baik itu lingkungan akademis seperti seminar, lokakarya di kampus misalnya, di sekolah smk pun sudah ada jurusan bisnis online, kalau zaman dulu itu jurusan-jurusan di smk orientasinya di arahkan untuk jadi karyawan di pabrik, kalau sekarang sudah mulai nampak berbeda.

Apalagi pada pandemi covid-19 ini banyak tempat kerja seperti pabrik salah satunya, memphk karyawannya. Ada pabrik yang berhenti total beroperasi ada juga yang memphk sebagai karyawannya. Memang banyak sektor ekonomi yang terkena dampak pandemi covid-19 ini tetapi yang paling memprihatinkan adalah pabrik yang memphk sampai ribuan karyawannya. Tentunya mereka harus cari alternatif lain, apalagi yang sudah punya tanggungan keluarga.

Anjuran dari pemerintah soal sosial distancing, sehingga Kegiatan yang bersifat kerumunan dilarang, alternatifnya yaitu daring. Saat saya membuka akun media sosial seperti instagram, facebook, ataupun youtube banyak diskusi yang bersifat dua arah ataupun satu arah semacam ceramah. Kegiatan-kegiatan semacam seminar ataupun dialog publik para pengamat ekonomi ataupun pelaku ekonomi bersifat daring, dari sekian macam yang saya saksikan acara-acara daring tersebut, di era pandemi seperti ini para pelaku ekonomi di tuntut harus punya gebrakan baru, karena tempat-tempat yang bersifat kerumunan di larang pemerintah, tempat seperti warung ataupun restoran dan sejenisnya sangat terkena dampaknya, tetapi saya pernah menyaksikan di media sosial bahwa ada restoran yang sudah menutup puluhan cabangnya, tetapi mereka punya terobosan baru seperti memproduksi dalam bentuk kemasan yang bisa di kirim lewat ekspedisi, sungguh terobosan yang sangat brilian yang bisa di tiru oleh orang-orang pada umumnya, di era seperti ini ekspedisi cukup ramai bahkan sudah banyak bermunculan ekspedisi-ekspedisi baru dengan berbagai terobosannya. siapapun orangnya memang harus punya tatanan baru di era seperti sekarang ini agar tidak terlalu bergantung dan supaya lebih mandiri. Semua manusia sudah mulai sadar dengan tatanan baru tersebut, generasi-generasi muda harus banyak belajar agar bisa lebih kreatif dan inovatif,sudah selayaknya generasi tua berbagi pengalaman kepada generasi muda, demi masa depan yang lebih baik supaya tidak ada ketergantungan dan lebih berdikari. Entah ada tantangan apalagi kedepannya. Semoga pandemi ini segera berakhir, biar semuanya baik-baik saja.