Dalam tradisi Yunani Kuno, dipercayai bahwa andaikan orang mau berdialog, maka perdamaian akan tercapai. Di era Yunani Kuno pula, orang-orang Athena belajar retorika (seni berkomunikasi) untuk mengalahkan lawan. 

Komunikasi tidak dimaksudkan untuk mengubah pikiran tentang suatu hal, tidak untuk memahami pemikiran lawan, juga tidak untuk masuk ke dalam sudut pandang lawan. Di sini, wacana yang berkembang dalam dialog sebagian besar kita cenderung agresif.

Di sisi pada era itu, Socrates menemukan sebuah teknik dialog yang berbeda dengan teknik mayoritas warga Athena kenal. Socrates menawarkan sebuah teknik bahwa dialog yang benar adalah ketika para penutur harus menjawab dengan lemah lembut dan lebih tepat untuk berdiskusi.

Lebih lanjut, dialog Socrates adalah sebuah latihan rohani yang dirancang untuk menghasilkan perubahan psikologis yang mendalam pada pesertanya. Tujuan lainnya yang menarik ialah Socrates ingin menunjukkan dalam ruang berdialog setiap orang harus memahami kedalaman kebodohannya sendiri, jadi tidak mungkin ada yang bisa menang.

Sedangkan Plato menggambarkan dialog sebagai meditasi yang komunal, yang membutuhkan kerja keras, banyak waktu dan kerepotan. Meskipun begitu, tetap bisa dilakukan dengan baik dan penuh kasih. Menurut Plato, dialog akan menjadi sarana bertukar wawasan bila di dalamnya terjadi proses pertukaran pertanyaan dan jawaban dengan iktikad baik dan tanpa kedengkian.

Dalam berdialog, Plato menekankan bahwa setiap orang harus benar-benar meluangkan diri dan membuka pikirannya untuk mendengar perspektif lawan bicara ketika berdialog, mendengar dengan saksama dan simpatik pada ide-ide lawan dialog.

Buddha dan Konfusius juga menerapkan metode diskusi yang sama. Konfusius selalu mengembangkan wawasannya dalam percakapan. Karena menurutnya, kita memerlukan interaksi ramah untuk mencapai kematangan. Konfusius juga setuju dengan pandangan Socrates bahwa dalam berdialog kita dituntut untuk menyerah kepada satu sama lain, bukan memegang secara kaku pendapat kita sendiri.

Lalu dalam Analect, metode lain digunakan, yaitu memarahi muridnya dengan lemah lembut, mendorong mereka ke batas kemampuan mereka, tetapi tidak pernah mengejek mereka. Di sisi lain, Sang Buddha juga mengajarkan para bikkhunya untuk berkomunikasi dengan baik dan sopan satu sama lain.

Beberapa tokoh di atas telah menunjukkan betapa dialog yang menghargai telah eksis sejak dulu. Namun dewasa ini, kita tumbuh dalam ruang dialog yang kompetitif. Contohnya seperti perdebatan dalam lembaga parlemen, media, akademisi, dan pengadilan hukum kita yang pada dasarnya bersifat kompetitif.

Ruang yang kompetitif tidak hanya untuk mencari kebenaran, juga menginginkan kekalahan dan bahkan memperlakukan lawan bicara. Oleh Socrates, kebencian dan taktik penggencetan lawan sangat dikecam.

Pada tulisan ini, mengutip penjelasan Karen Amstrong dalam bukunya Compassion yang mengatakan bahwa, dalam dunia kita yang sangat kontroversial, kita perlu mengembangkan bentuk wacana berbelas kasih.

Bahwa alih-alih mencoba menghantam orang lain untuk menerima sudut pandang kita sendiri, kita mungkin perlu menemukan pertanyaan yang menggiring ke pencerahan pribadi ketimbang hanya mengulangi fakta-fakta sebagaimana tampaknya oleh kita.

Kita harus berusaha bertanya pada diri sendiri apakah kita ingin menang berargumen atau mencari kebenaran?

Dan di atas segalanya, kita perlu mendengarkan. Mendengarkan yang sejati berarti lebih dari sekadar mendengar kata-kata yang diucapkan. Kita harus berusaha untuk mendengarkan rasa sakit atau ketakutan yang muncul dalam bahasa tubuh, nada suara, dan pilihan kiasan.

Sejarah menunjukkan bahwa menyerang setiap gerakan fundamentalis, baik secara militer, politik atau melalui media, adalah kontraproduktif karena serangan itu hanya akan meyakinkan pengikutnya bahwa musuh mereka benar-benar bertekad untuk menghancurkan mereka.

Jika kita mau menganalisis wacana fundamentalis secermat kita menafsirkan sebuah puisi atau pidato politik yang penting, menggali setiap emosi dan niat yang mendasari dari sang penyair atau pembicara, rasa takut dan penghinaan ini segera menjadi jelas.

Bahasa didasarkan pada kepercayaan. Kita harus berasumsi, setidaknya pada awalnya, bahwa lawan bicara kita mengucapkan kebenaran dan memberi tahu kita sesuatu yang bernilai.

Para ahli bahasa menunjukkan bahwa dalam komunikasi sehari-hari, ketika kita mendengar sebuah pernyataan, yang pada awalnya tampaknya aneh atau salah, kita akan secara otomatis mencoba menemukan konteks yang masuk akal karena kita ingin mengerti apa yang dikatakan kepada kita.

Dengan kata lain, ketika melakukan upaya untuk memahami sesuatu yang aneh dan asing bagi kita, penting untuk menganggap bahwa pembicara mempunyai sifat-sifat manusia yang sama seperti kita. Walaupun sistem kepercayaan kita mungkin berbeda, kita mempunyai ide yang sama tentang apa yang merupakan kebenaran.

Seperti yang dijelaskan Donald Davidson, Profesor Filsafat di Universitas California di Berkeley, bahwa upaya untuk mengerti ucapan dan perilaku orang lain, bahkan perilaku mereka yang paling menyimpang, mengharuskan kita untuk menemukan banyak kebenaran dan alasan di dalamnya. 

Jika kita tidak bisa melakukan seperti itu, kita akan mengabaikan si pembicara dan menganggapnya irasional, tidak masuk akal, dan pada dasarnya tidak manusiawi. Dipaksakan pada kita, entah suka atau tidak, jika kita ingin memahami orang lain, kita harus menganggap mereka benar dalam kebanyakan hal.

Dengan pemahaman empatik, kita dapat membayangkan diri kita sendiri dalam kondisi yang sama, merasakan yang sama. Dengan kata lain, kita harus melihat dari mana orang berasal. Dengan cara ini, kita dapat memperluas perspektif dan meluangkan tempat untuk yang lain. Namun di sisi lain, prinsip amal juga tak semestinya membuat kita pasif dan pasrah di hadapan ketidakadilan, kekejaman, dan diskriminasi.

Ketika kita berbicara membela nilai-nilai yang layak, harus dipastikan bahwa kita memahami konteksnya secara keseluruhan dan tidak mengabaikan nilai-nilai lawan sebagai barbar, hanya karena tampak asing bagi kita. Kita mungkin menemukan bahwa kita memiliki nilai-nilai yang sama tetapi mengekspresikannya dengan cara yang sangat berbeda.

Dalam pembahasan ini, kita mencoba membuat diri kita memperhatikan cara berbicara kepada orang lain. Ketika kita berdebat, apakah kita terhanyut oleh kepintaran diri sendiri dan sengaja menimbulkan rasa sakit kepada lawan? Apakah argumen kita bertujuan mengembangkan pemahaman lebih lanjut atau memperburuk situasi yang sudah memanas? Apakah kita benar-benar mendengarkan lawan bicara dengan hati terbuka?

Dan sebelum kita memulai sebuah argumen, mari tanyakan dan jujur pada diri sendiri, apakah kita siap untuk mengubah pikiran kita?