Penyeduh Kopi
1 bulan lalu · 95 view · 6 menit baca · Cerpen 74368_35729.jpg
Koleksi Pribadi

Begawan Pilihan Ijitma' Begawan

Anggoro menerawang jauh. Ia terus mengingat apa yang disampaikan oleh gurunya ketika itu. Lek Kijo pernah membisikinya: “Kelak, para Begawan akan menjual spirit ruhani mereka demi ambisi seorang Ndoro yang ngotot pingin disebut Begawan. Dan mereka itu bukan Begawan yang sesungguhnya. Mereka tak sealim Begawan Condrokinasih. Sang Pencipta kelak akan murka. Ingat baik-baik kalimatku ini.

Siang itu, Anggoro mendapati kebenaranya. Tak pelak, ia sangat menyesali kepergian gurunya. Andai Sang Guru tidak memilih untuk muksa, tentu Anggoro tidak akan pernah khawatir dengan semua yang terjadi hari ini, besok, dan selanjutnya. Ia juga tidak akan pernah takut Tlatah Jembar akan bergejolak. 

Sebab peredam itu masih ada. Ia; Lek Kijo, seorang Begawan dengan derajat tak tertandingi memilih meninggalkan kefanaan. Ia tidak ingin tingkah laku sahabatnya; Bani Katimin, mengotori jubah sucinya. Ia ingin hening bersama Sang Hyang Tunggal, di Nirwana sana. Bersama para pendahulunya.

***

Bani Katimin masih memegang kunci semua kekonyolan itu. Begawan Sukmabrata yang ia elu-elukan, dan ia gadang-gadang sebagai pemimpin Tlatah Jembar masa depan sudah tidak pernah ia hiraukan. Sebab faktanya, Sang Begawan sampai detik ini tidak ia upayakan untuk pulang. Bahkan kesannya, ia sengaja menahannya di tempat yang jauh, dengan sesekali membawa namanya demi legalitas pilihan. Kelicikan Bani Katimin ini sering disebut Lek Kijo di depan Anggoro. Selicik-liciknya manusia saat ini adalah sahabatku sendiri; Bani Katimin, kata Lek Kijo ketika itu. Anggoro masih mengingat semuanya.

Bani Katimin tampak sangat sibuk pagi itu. Ia menggalang semua Begawan untuk menentukan sikap dan pilihan. Mereka akan mendeklarasikan siapa yang layak menjadi opsi untuk dipilih pada pemilihan tahun depan. Begawan Sukmabrata yang telah dideklarasikan beberapa saat yang lalu terpaksa harus dihapus dari ingatan. Menurutnya, Begawan Sukmabrata lebih pantas sebagai produsen fatwa ketimbang ikut dalam kontestasi politik di Tlatah Jembar. 

Namun sebenarnya, itu hanya akal-akalan Bani Katimin saja. Sebab semua tahu bahwa Begawan Sukmabrata tidak memiliki elektabilitas sepersenpun. Namanya tidak menjual. Ia hanya memiliki beberapa murid militan yang setiap saat bisa dijadikan martir oleh Bani Katimin dan kelompoknya.

Riuh teriakan dan ambisi mulai memenuhi Balai Cokro Kemayangan; balai suci yang dibangun oleh para Begawan Tlatah Jembar. Sebenarnya, para Begawan itu sudah berpesan kepada anak turun mereka jika balai suci itu harus steril dari hiruk-pikuk politik. Balai itu dibangun untuk meneduhi umat; khususnya masyarakat Tlatah Jembar. Tapi pagi itu, semua pesan para Begawan berantakan. 

Balai Cokro Kemayangan disulap menjadi panggung eksistensi politik seorang Bani Katimin. Sebenarnya, ia juga sudah diingatkan oleh beberapa Begawan yang paling sepuh. Namun ia bergeming. Ia beralasan, itu rapat umat. Pertemuan suci para Begawan. Jauh dari agenda politik. Jauh dari simbol-simbol ambisi. Namun pada kenyataannya, di hari itu Ndoro Ngab-Ngab diajukan sebagai pemimpin penyelamat umat yang didukung mayoritas Begawan. Ini jelas retorika belaka. Semua paham itu. 

Para Begawan sepuh hanya bisa meratapi takdirnya; yang oleh mereka disebut azab. Mereka berbisik satu sama lain: “Sang Hyang Tunggal sedang menyembunyikan para Begawan Suci, dan memunculkan Begawan-Begawan palsu.” Keputusan Sang Hyang Tunggal ini adalah neraka bagi mereka. Para Begawan sepuh lebih memilih menjauh. Lalu bersamadi, dan meminta maaf kepada Sang Pencipta atas ketidakmampuan mereka menjadi pengayom umat.

Pertemuan yang mereka namakan Ijitima’ Begawan itu benar-benar memutuskan untuk mencalonkan Ndoro Ngab-Ngab, yang secara garis keturunan selalu berseberangan dengan trah Bani Katimin, sebagai calon pemimpin Tlatah Jembar dengan opsi wakil dari kalangan Begawan. saat itu, ada tiga nama Begawan muncul untuk bisa dipilih oleh Ndoro Ngab-Ngab sebagai wakilnya. Mereka adalah Begawan Samada; Begawan muda yang mendadak dibegawankan karena ceramah-ceramahnya viral di penjuru Tlatah Jembar. 

Kedua adalah Begawan Gajah; seorang politikus impor yang juga dibegawankan karena dalam banyak kesempatan, ia seringkali mengutip ayat-ayat Aksoro Suci Sabdo Rojo; pepeleng para pembesar Tlatah Jembar untuk menguatkan polah politisnya. Dan yang ketiga adalah Begawan Laham; seorang Begawan yang memiliki Majelis Akbar, dan suaranya dikenal mampu membius ribuan umat yang datang kesana. Keterpilihan Begawan Laham ini hanya berdasar popularitasnya, bukan kompetensi politik yang ia miliki.

Tiga nama Begawan yang diajukan itu harus dipilih oleh Ndoro Ngab-Ngab untuk maju dalam pemilihan tahun depan. Jelas, ini pilihan yang sangat sulit. Jika menolak, ia kehilangan suara umat dan para Begawan (versi mereka), dan jika menerima berarti ia harus siap disetir dengan ayat-ayat sakti yang dimiliki para Begawan itu. Dan itu berarti juga ia harus berhadapan dengan Begawan Yada yang mengajukan putra sulungnya sebagai wakil. 

Memilih beseteru dengan Begawan Yada bukan pilihan yang masuk akal; ibaratnya ia sedang menggali kuburannya sendiri. Begawan Yada yang dua periode memimpin Tlatah Jembar tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Sepuluh tahun berkuasa, ia pasti membangun jaringan yang sangat kuat. Merata, mulai akar rumput sampai tingkat elit. Narasi-narasi Begawan Yada juga masih didengar oleh lawan-lawan politiknya. Ia masih disegani kawan dan lawan.

Ndoro Ngab-Ngab bukanlah Begawan yang hakiki. Penyematan Begawan kepadanya murni unsur politik. Ndoro Ngab-Ngab tidak selevel dengan Lek Kijo atau Begawan Condrokinasih; yang ketika bimbang keduanya akan samadi; istikhoroh, meminta petunjuk kepada Sang Pencipta.

Ndoro Ngab-Ngab hanya bisa menggebrak meja untuk mereduksi kebimbangannya. Ia terus mondar-mandir di ruang tengah. Ia beberapa kali membungkus dagunya yang bersih. Dua matanya juga mengerjap. Dan tampak pula ia memukul pelan keningnya. Maton tidak ada di sana. Ia sedang berada jauh di luar Tlatah Jembar. Ia pergi menemui Ndoro Uni. 

Ia membawa misi besar dari Ndoro Ngab-Ngab. Misi itu tentang carut-marutnya isi kepala Ndoro Ngab-Ngab. Maton juga akan menyampaikan, jika saat ini Ndoro Ngab-Ngab sedang tersandera oleh para Begawan itu. Dan ketika pulang, Maton harus membawa jawaban semua keruwetan yang diahadapi Ndoro Ngab-Ngab.

***

Pintu rumah besar itu membuka. Maton berdiri tegap di sana. Sementara Ndoro Ngab-Ngab sudah menunggunya sejak semalam. Dua mata Ndoro Ngab-Ngab tampak lelah. Ia tidak bisa mengatubkannya sejak semalam.

“Apa yang kamu bawa pagi ini, Ton?”

Maton bungkam. Bibirnya kelu. Hanya kepalanya menggeleng. Ndoro Ngab-Ngab hampir saja tidak bisa menahan diri. Amarah itu sedang ada di pucuk ubun-ubunnya. Tapi untung, semenit berikutnya terdengar suara seseorang menyapa. Suara itu tidak asing di telinga Ndoro Ngab-Ngab. Dan benar, Ndoro Uni datang menemuinya. Sebuah senyum tersungging di bibir tebal Ndoro Ngab-Ngab.

“Bagaimana kabarmu Ndoro?” tanya Ndoro Uni cepat.

“Tak sebaik Ndoro Uni tentunya.”

Ndoro Uni terkejut dengan kalimat Ndoro Ngab-Ngab. Tak biasanya ia sejujur itu. Bukan karakter Ndoro Ngab-Ngab.

“Kita harus masuk ke kamar. Kita tidak bisa bicara di sini. Banyak telinga yang akan mencuri dengar, lalu menggoreng apa yang ia dengar,” ajak Ndoro Uni.

Ndoro Ngab-Ngab hanya mengangguk. Suasana sangat hening. Lalu kamar itu terkunci rapat. Ndoro Ngab-Ngab dan Ndoro Uni sedang berada di dalamnya. Berbincang dengan senyap; tanpa suara yang bisa didengar dari luar.

Sementara Maton harus menjauh dari sana. Ada beberapa hal yang harus ia pikirkan terkait dengan segala risiko atas pilihan yang diputuskan oleh Ndoro Ngab-Ngab dan Ndoro Uni. Dan jawaban atas usulan Ijtima’ Begawan tinggal menyisakan waktu satu hari.

***

Mereka tampak berkerumun di rumah besar itu. Para Begawan yang tergabung dalam Ijtima’ Begawan sudah memenuhi ruang utama rumah Ndoro Ngab-Ngab. Bani Katimin terlihat paling sibuk. Kesibukan Bani Katimin adalah meredam gejolak hatinya yang, sebenarnya, menolak berdamai dengan Ndoro Ngab-Ngab. Namun berkali-kali ia meyakinkan hatinya, semuanya hanya politik, tidak lebih dari itu.

Ndoro Ngab-Ngab keluar dari ruang dalam. Ia menyapa para Begawan dan para pendukungnya. Ia juga berpelukan dengan Bani Katimin. Tapi pelukan itu melambungkan kesan politis, bukan murni muncul dari hati keduanya.

Namun tiba-tiba saja, Ndoro Ngab-Ngab tampak sangat pucat. Dua matanya mengedar ke penjuru sudut ruangan. Ia tidak menemukan Ndoro Yada. Baginya, ketidakhadiran Ndoro Yada adalah simbol perseteruan.

Ndoro Ngab-Ngab mengerutkan kening. Benar kata Ndoro Uni, banyak yang mencoba mencuri dengar apa yang dibicarakan keduanya.

Waktu terus berjalan mendesak Ndoro Ngab-Ngab untuk mengumumkan siapa yang kelak mendampinginya dalam pemilihan tahun depan.

Saudara sekalian. Saya sudah bicara dengan beberapa orang linuih, dan juga melakukan samadi. Memohon petunjuk kepada Sang Pencipta. Sore ini, petunjuk itu akan saya sampaikan kepada Saudara semua. Dengan mengucap Aksoro Suci Sabdo Rojo, saya mengumumkan bahwa yang akan mendampingi dalam pemilihan tahun depan adalah Ndoro Uni.

Lalu hening.

***

Sejak pengumuman itu, para Begawan pecah. Puncaknya, kubu Begawan Yada menembakkan sebuah meriam: Begawan Kardus! (Bersambung)