Freelancer
5 bulan lalu · 65 view · 4 menit baca · Cerpen 18642_97210.jpg
Google Drive

Begawan Kehilangan Paspor

Baca dulu: Begawan Pilihan Ijtima' Begawan

Sampai detik ini, Bani Katimin belum tahu jika Lik Kijo sudah tidak berwujud di dunia ini. Ia telah meninggalkan Tlatah Jembar untuk selama-lamanya. Anggoro yang diberi amanh untuk merahasiakannya. 

Pergantian masa dilewati Bani Katimin dengan beragam rasa. Keputusan mendaulat Ndoro Ngab-Ngab beberapa saat lalu menjadi spirit baru dalam karir politiknya di tlatah para bagawan yang kudus itu, meski nyatanya ia harus melepas semua baju gengsi yang mendarah daging sejak dulu. Keputasan medeklarkan Ndoro Ngab-Ngab sebagai calon pemimpin Tlatah Jembar berarti ia harus berdamai dengan Ndoro yang baru saja mendapat julukuan “Begawan Kardus” itu. 

Namun ia tidak peduli. Bagi Bani Katimin, semua jerih payah pasti ada buahnya. Tinggal menunggu momen yang tepat. Menanti hari turunnya pulung. Dan menunggu Begawan Sukmabrata menyelesaikan kholwat palsunya dan pulang kembali ke Tlatah Jembar. Setelah itu, kemenangan umat bisa diraih. Begitu pikir Bani Katimin sambil membusungkan dada. 

*** 

Siang itu, Bani Katimin tampak termenung. Wajahnya sedikit keruh. Seperti banyak beban yang ia pikirkan. Dua matanya beberapa kali terlihat mengerjap bingung. Diikuti gelengan kepala pelan. “Rencana harus dirubah. Begawan Sukmbrata tidak bisa diambil manfaatnya. Harus ada alternatif baru. Kawan-kawan harus membuat poros baru,” katanya lirih sambil melepas napas berat. Paradoks. 

Akhir-akhir ini, peta politik di Tlatah Jembar sangat dinamis. Dua kubu besar yang berseteru terus bermanuver, melakukan banyak lobi. Para Begawan Tlatah Jembar juga sering terlihat berkumpul. Baik di rumah Begawan Adiyoso maupun di rumah Begawan Sastro. Bincang-bincang strategi dan pematangan koalisi menjadi menu utama pertemuan mereka. 

Rupanya Bani Katimin gelisah melihat dinamika itu. Ia yang menganggap dirinya sebagai salah satu pemersatu para Begawan merasa tidak disenggol oleh mereka. “Ini tidak bisa dibiarkan!” Keras, ia memekik sendiri. 

Fakta bicara ketika itu. Koalisi Begawan tidak bernilai apa pun. Mereka hanya pendorong mobil mogok. Sementara tiga koalisi utama telah memulai langkah baru. 

Sejak mengumumkan bahwa Ndoro Ngab-Ngab berpasangan dengan Ndoro Uni, tiga rumah besar berfusi. Tiga rumah besar itu dinahkoadai tiga nama besar juga. Mereka adalah Ndoro Ngab-Ngab, Ndoro Broto, dan Ndoro Raras. Berita yang beredar, Begawan Yada memilih untuk diam. Bersamadi dalam hening. Dua Ndoro, yakni Ndoro Broto dan Ndoro Raras lebih diplomatis. Keduanya menerima Ndoro Uni, tapi dengan beberapa syarat yang dirahasiakan. Namun, kerahasiaan itu menjadi buah bibir umum. Kata mereka, upeti yang mengalir ke kantong Ndoro Broto dan Ndoro Raras dari Ndoro Uni tidak sedikit. 

Tiga koalisi besar itu terlihat sangat mengacuhkan suara para Begawan. Ini menjadi masalah yang sangat besar bagi Bani Katimin. Akan menjadi mimpi buruk jika mesin para Begawan itu kehabisan bahan bakar. Itu tidak bisa dibiarkan, kata Bani Katimin. Harus ada korban! 

*** 

Sudah hampir tiga tahun Begawan Sukmabrata meninggalkan Tlatah Jembar. Meski tidak sedang bersama para Begawan, nama Begawan Sukmabrata selalu mengaum di setiap agenda yang dijadwal oleh Bani Katimin. Militansi yang dimiliki oleh pengikut Begawan Sukmabrata harus dirawat. Jangan sampai pudar, ataupun hilang. Sebab militansi itu sangat penting. Bisa jadi martir ketika Bani Katimin dalam posisi yang tidak menguntungkan. 

Sudah beberapa kali ini isu kepulangan Begawan Sukmabrata menyebar ke seantero Tlatah Jembar. Tapi semua berakhir pada kekecewaan umat Begawan Sukmbrata yang sudah bersiap menyambut junjungannya itu. 

Kronologisnya memang sangat panjang, dan juga rumit. Berawal dari kasus yang menimpa Begawan Sukmabrata ketika itu. Semua terlihat baik-baik saja ketika Sang Begawan selalu taat pada surat pemanggilan pihak yang berwajib. Namun situasi berubah ketia ia ditetapkan sebagai tersangka. 

Dalam peta konsep para kesatria, perbuatan paling tidak bisa diterima oleh kalangan mereka adalah perbuatan asusila. Dan masalah ini sedang membelit Begawan Sukmabrata. Sidang Begawan bentukan Bani Katimin seperti kiamat tatkala Sang Begawan utama mereka sebentar lagi harus menjadi pesakitan di meja hijau. Waktu berjalan begitu cepat. Kasus asusila yang dituduhkan kepada Begawan Sukmabrata menjadi konsumsi utama publik Tlatah Jembar. Melihat kenyataan itu, Bani Katimin merancang sebuah misi besar penyelamatan Begawan Sukmabrata. Baginya, itu momen untuk mendongkrak popularitas. Ia butuh karir. Ia butuh pengakuan. Ia butuh diangkat tinggi-tinggi melebihi sahabatnya, Lek Kijo. Tapi ia mendadak ingat, jika ia bukan siapa-siapa. Ia tak berharta seperti Ndoro Uni atau Begawan Yada. Ia hanya seorang oportunis yang lihai membuat strategi dengan bumbu penyedap ayat-ayat suci Aksoro Suci Sabdo Rojo. Ia terus berpikir bagaimana menyelamatkan Begawan Sukmabrata tanpa biaya. 

Setelah hampir sebulan berpikir, ia mendapat ilham. Langkah jitu untuk menyelamatka Begawan Sukmabrata sudah ia dapatkan. Katanya, Begawan Sukmabrata harus diungsikan; bahasa kasarnya disingkirkan sementara. 

Ia membuat pertemuan singkat dengan beberapa Begawan dan pasukan militan Begawan Sukmabrata. Di pertemuan itu, Bani Katimin mengatakan kepada semua yang hadir, bahwa langkah satu-satunya untuk menyelamatkan Begawan Sukmabrata adalah dengan memindahnya ke suatu tempat. Dan tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah Gunung Haraman, yang berada di ujung sana. Para militan itu mengangguk setuju, begitu juga dengan para Begawan. Yes! Misi berhasil, gumam Bani Katimin penuh semangat.

 *** 

Setelah berhasil ‘mengusir’ Begawan Sukmabrata dengan dalih penyelamatan dirinya, kini ia sedang mencari cara agar Begawan Sukmabrata tidak bisa kembali, atau bisa kembali ketika Bani Katimin sudah menjadi Menteri Agama di Tlatah Jembar. 

Begitulah Bani Katimin. Sang Oportunis sejati. Begawan yang sudah dinobatkan sebagai Imam Besar pun ia korbankan. Baginya, gelar Imam Besar yang disematkan pada diri Begawan Sukmabrata hanyalah lucu-lucuan. Tidak berarti sedikit pun di depannya. 

Akhirnya, semua berjalan baik-baik saja. Tidak ada satu pun yang mengerti jika Begawan Sukmabrata sengaja tidak bisa dibikin pulang. Para Begawan dan pengikutnya yang militan hanya tahu jika Sang Begawan sedang berkholwat panjang, bukan kehilangan paspor seperti yang direncakan oleh Bani Katimin. 

Dan dari Nirwana sana, Lek Kijo hanya bisa menahan tangis. Ia berbisik lirih: Hanya waktu yang bisa membuka semuanya! (Bersambung)

Artikel Terkait