19762_80775.jpg
Koleksi Pribadi
Cerpen · 8 menit baca

Begawan Gagal Muksa

Lek Kijo tak habis pikir dengan niat Bani Katimin dan kelompoknya untuk mengumpulkan semua anggota persaudaraan yang ia bentuk beberapa bulan lalu. Lek Kijo memang dikenal waskita; mampu menembus dimensi waktu. Mampu menghitung angka-angka nasib di masa mendatang. 

Siang itu, Lek Kijo mendapat isyarat jika apa yang diniatkan Bani Katimin dan kelompoknya akan kandas; hanya finis menjadi bahan ledekan tetangga sebelah. Tentu saja, mereka adalah Ndoro Ngab-Ngab dan kacungnya yang bernama Maton.

Kelompok Bani Katimin sejak nenek moyangnya dulu memang sudah berseberangan dengan garis keturunan dari Ndoro Ngab-Ngab. Lek Kijo bungkam atas perseteruan mereka. Ia lebih memilih bermain aman. Tidak memihak. Tidak berat sebelah. Baginya, keduanya itu saling mengisi. Maklum, desah Lek Kijo, keduanya sedang mabuk Aksoro Suci Sabdo Pandito; pepeleng untuk para pembesar Tlatah Jembar.

Lek Kijo terus mengepulkan asap. Rokok klobot favoritnya dibikin porsi lebih. Sehingga sekali isap, bibirnya mampu menyemburkan residu nikotin setara sepur klutok peninggalan kompeni. Ambin reot yang menyangga tubuh cemasnya hanya bisa berdoa, semoga Lek Kijo tidak memukulnya lagi. 

Lek Kijo membeku. Ia ditawan kecamuk pikiran di kepala. Ia terus meramu dan mengelola firasat-firasat yang terus berdatangan seiring semakin dekatnya rencana Bani Katimin dilaksanakan. Ia tahu, itu bukan acara biasa. Begawan Sukmabrata akan jadi agenda utama mereka. Sang Begawan tidak perlu datang. Sebab, spirit beliau adalah kekuatan utama atas terjaganya niat mereka. Keoptimisan ini pernah didengar langsung dari bibir Bani Katimin ketika ia dan Lek Kijo menyiksa ambin reot itu.

“Lalu bagaimana langkah kita, Lek?” tanya Anggoro tiba-tiba. Ia melihat guru spiritualnya itu sedang dipenjara banyak tebakan.

Anggoro adalah murid paling setia yang dimiliki Lek Kijo. Meski pada mulanya, Anggoro adalah pemandu sorak kelompoknya Begawan Sukmabrata. Ia menyatakan tobat dan akan mengabdi kepada Lek Kijo hingga akhir hayat. Ia selalu berada di samping Lek Kijo, apalagi di saat Lek Kijo sedang dicengkram kegelisahan.

“Sudah saya bilang kepada mereka, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Jangan sampai apa yang dilakukan menjadi bahan lucu-lucuan.” Geram, Lek Kijo menjawab pertanyaan Anggoro.

“Lek Kijo tidak mencoba menghentikan mereka?” Anggoro terus memburu gurunya.

“Tidak bisa. Suara saya hanya berhenti di telinga. Tidak pernah masuk ke kalbu mereka. Jadinya ya sia-sia saja. Saya sekarang memilih diam. Melihat saja. Sambil menunggu kebenaran firasat yang saya dapat beberapa waktu lalu,” urai Lek Kijo serius. 

“Mereka seperti bermain-main dengan syahwat mereka sendiri. Sebab faktanya, Begawan Sukmabrata tidak berada di tengah-tengah mereka. Pulanglah, jika tidak bisa, pulangkan! Tlatah Jembar ini sudah terlampau gaduh,” imbuh Lek Kijo berapi-api. Anggoro menanggapinya dengan anggukan-anggukan kepala. Ia mencoba menafsirkan sabda gurunya itu.

***

Di luar sana semakin ramai. Para pemangku kepentingan persaudaraan itu tampak sibuk menyiapkan segala keperluan demi suksesnya agenda mereka. Bani Katimin memang tidak mempertimbangkan masukan-masukan dari Lek Kijo. Ia butuh panggung untuk eksistensi peran. Ia tidak ingin seperti Lek Kijo yang hanya diam. 

Bani Katimin sebenarnya sadar, derajat Lek Kijo sudah sampai pada tingkat Begawan. Tapi saking tawadlu’nya, Lek Kijo enggan sekali dilabeli Begawan. Ia lebih senang disebut kacung ngelmu; hamba ilmu. Jika sudah begitu, ia tidak bisa memiliki kesempatan merasa lebih baik dari lainnya. Begitu kata Lek Kijo suatu waktu.

Garis pemikiran Lek Kijo yang seperti itu sangat tidak diminati Bani Katimin. Dalam lakon film, Bani Katimin ini memangku peran sebagai antagonis sekaligus protagonis. Ia tidak pernah dalam menancapkan kakinya di semua hiruk-pikuk; yang Lek Kijo yakini sebagai buah sepak terjangnya sendiri. Ia mengambang. Ia siap terbang menghilang, jika panggung yang ia pijak runtuh diterpa karma.

Dalam drama persaudaraan itu, Bani Katimin memilih untuk mengagung-agungkan Begawan Sukmabrata sebagai Imam Agung; imam tunggal yang memimpin umat manusia di Tlatah Jembar. Bani Katimin mengesampingkan kewaskitaan Lek Kijo yang lebih matang dibandingkan dengan Begawan Sukmabrata. 

“Beliau Imam Agung yang bisa menenangkan gejolak di Tlatah Jembar.” Kalimat itu terus ia teriakkan di kuping Lek Kijo. Mendengar teriakan itu, Lek Kijo hanya bisa tersenyum, lalu mengurut keningnya pelan. Dalam hati kecilnya, Bani Katimin tak lebih dari seorang penjudi. Ia seperti tak modal, tapi berharap memenangkan semua pertandingan. Ia lupa dengan sabda dan karma.

Pernah suatu ketika Bani Katimin berkunjung ke gubuk Lek Kijo. Ia membawa sejuta mimpi yang ia desain sendiri. Tolok ukurnya adalah nafsu yang sedang galak-galaknya di jiwa. Terjadi perdebatan panjang antara dua kawan lama itu. Meski memilih beda jalan, Lek Kijo pantang memutus hubungan dengan Bani Katimin.

“Jo. Sampeyan ini sudah saatnya mudun; turun, gunung. Apa guna ilmumu jika sampeyan hanya menghabiskan waktu di ambin reot ini?”

“Min. Aku ini duduk sopo-sopo: bukan siapa-siapa. Aku juga tidak memiliki ilmu sesuai pikiran sampeyan. Tapi jika aku yang bodoh ini boleh mengutarakan pendapat, hentikan semua rencanamu. Sampeyan ini pinter. Jangan sampai syahwat politik menguasaimu. Dunia kita bukan di sini. Apa lagi sampeyan libatkan Begawan Sukmabrata, yang entah ada di mana sekarang.” Tenang, Lek Kijo menangkis serbuan kalimat Bani Katimin. 

“Berilah Begawan Sukmabrata kesempatan untuk mensucikan diri dulu dari masalah-masalah yang sedang membelitnya. Berilah beliau buku putih yang bakal beliau isi klarifikasi-klarifikasi atas semua persoalan itu. Setelah itu, terserah sampeyan. Jangan sampai masyarakat Tlatah Jembar ini mumet melihat polah tingkah sampeyan,” imbuh Lek Kijo sambil mengepulkan asap rokoknya. 

Bani Katimin termangu, tapi sedetik berikutnya meradang. Ia lebih merasa, Lek Kijo sedang mengguruinya ketimbang memberi masukan.

“Yang penting kita punya calon penerima pulung dulu, Jo. Perkara klarifikasi itu gampang. Toh, faktanya Begawan Sukmabrata memang tidak bersalah,” jawab Bani Katimin enteng.

“Salah benar itu jika sudah dibuktikan. Pulangkan beliau, Min. Kegaduhan Tlatah Jembar harus segera dihentikan. Jangan sampai sesuatu lebih hebat terjadi. Jika terpaksa terjadi, sampeyan adalah aktor sejarah yang paling banyak menanggung dosanya.” Tegas, Lek Kijo mematahkan argumentasi Bani Katimin.

Ia terdiam. Menatap wajah teduh Lek Kijo; yang dalam hati kecilnya membenarkan pendapatnya. Tapi logika dan jiwa keruh Bani Katimin mati-matian menolak pembenaran itu.

“Percuma bicara dengan sampeyan, Jo. Dimensi otak kita beda. Perubahan peradaban harus aku wujudkan. Aku tidak ingin beku ditelan sejarah, Jo!” seru Bani Katimin berapi-api.

Lek Kijo terdiam. Ia menarik napas kuat-kuat sembari tangan kanannya mengelus dadanya yang sudah tampak melemah. Bani Katimin menatapnya tajam. Tapi sorot matanya berkata jika ia ingin sahabat karibnya itu panjang umur. Kedekatan ruhani mereka memang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Bani Katimin memutuskan pamit. Jengah mengerubuti kepalanya. Lek Kijo melepasnya dengan keprihatinan. Ia membisu. Bibirnya hanya sibuk mengisap klobot. Pandangannya tak lepas dari langkah kaki Bani Katimin. Jauh. Semakin jauh. Kini, seorang sahabat yang sedang gelap itu sudah tidak ada di depannya.

Hati Lek Kijo pilu. Tapi karibnya tidak melihat itu.

***

Hari masih pagi ketika Bani Katimin dan beberapa orang dekatnya berkumpul di Balai Cokro Kemayangan; balai bersejarah yang dimiliki Tlatah Jembar. Mereka tampak girang. Warna tawanya melukiskan kemenangan yang sebentar lagi digenggam.

Di tempat lain, Lek Kijo memilih untuk berkhalwat. Menunda makan dan minum. Kata Anggoro, sudah seminggu ini gurunya poso muteh; puasa mutih. Sebuah paradoks yang sangat menggetarkan jiwa. Itu tidak wajar, desah Anggoro berkali-kali.

Sidang dimulai. Riuh Balai Cokro Kemayangan menyeruak, memenuhi semesta. Nama Begawan Sukmabrata melambung tinggi di angkasa; suci, memberkahi.

Bani Katimin memulai orasinya, “Hari ini saya bersumpah! Tlatah Jembar akan masuk peradaban baru. Era pencerahan. Akan memiliki pemimpin yang linuih; mampu berperan selayaknya pemimpin. Kita akan mempunyai Imam Agung yang menahkodai bahtera besar ini. Hari ini, di tengah-tengah kita Begawan Sukmbrata adalah jawabnya.”

Riuh tepuk hadirin menggema. Optimisme tingkat tinggi memenuhi gelas-gelas harapan di jiwa mereka. Peradaban baru. Era pencerahan. Pemimpin linuih. Imam Agung.

Waktu terus merambat pergi. Detik berganti detik. Tapi tawa kemenangan mereka tak berkurang. Balai itu makin bergemuruh. Dan puncaknya, Bani Katimin sebagai pimpinan siding membacakan hasil lobi-lobi mereka yang sebenarnya hanya formalitas. Mereka satu suara. Satu hati. Tapi dengan jutaan kepentingan yang berbeda.

Bani Katimin beranjak dari duduknya. Ia berdiri tegap, gagah di depan semua hadirin. Suaranya yang lantang memenuhi balai keramat itu.

“Hadirin semua. Siang ini, kesepakatan sudah bisa diambil. Keputusan bersejarah ini akan terus diingat manusia. Dicatat di dinding peradaban. Anak cucu kita akan terus mengingatnya. Tentu mereka akan sangat bangga.” Pongah, Bani Katimin berprolog. Riuh hadirin semakin membuatnya berapi-api. 

“Atas nama Yang Maha Kuasa. Para Begawan. Para Keramat Tlatah Jembar. Sidang ini memutuskan bahwa Begawan Sukmabrata adalah calon tunggal pemimpin Tlatah Jembar yang akan bertarung pada pemilihan Pimpinan Tlatah Jembar tahun depan. Begawan Adiyoso sudah saatnya turun ke prabon. Beliau sudah tidak layak lagi menjadi pempimpin tlatah ini. Banyak janji yang tidak beliau tunaikan,” lanjut Bani Katimin dengan wajah yang memerah. 

Semua hadirin histeris. Mereka berdiri menyambut keputusan itu. Mereka kompak berteriak: Tahun Depan Ganti Pemimpin!

Di sudut lain, Lek Kijo terlihat meneteskan air mata. Dalam samadinya, ia menyesali keputusan Bani Katimin siang itu. Lek Kijo kembali memejamkan mata. Kalbunya menembus nirwana. Tenang. Hening. Terbang sangat jauh.

Namun ada pesta lain. Di rumah besar itu. Rumah dengan lantai emas. Ada banyak manusia terbahak-bahak di sana. Suara gaduh itu bersumber dari Ndoro Ngab-Ngab dan segenap tim hasutnya.

“Ndoro. Ini lucu sekali. Lawong Begawan Sukmabrata aja enggan pulang dari persinggahan kok Bani Katimin dengan bangga mencalonkannya jadi pimpinan Tlatah Jembar,” kata Maton di sela-sela tawa mereka.

“Lebih lucu lagi. Nek nyalon arep numpak opo: kalau mencalonkan lewat apa? Partai tidak punya. Mereka hanya gerombolan manusia panik yang ngebet pingin punya jabatan. Tapi parodi mereka layak kita apresiasi. Yuk, Ton. Kita ketawa berjamaah: Ha ha ha!” sahut Ndoro Ngab-Ngab girang. Sejurus kemudian, rumah megah itu sesak dengan lantunan tawa yang meledak-ledak.

***

Tlatah Jembar hening. Pagi itu, udara sangat dingin. Manusia penghuninya lebih memilih diam lebih lama di dalam rumah. Berita tentang pencalonan Begawan Sukmabrata sangat cepat menyebar ke seantero Tlatah Jembar. Bisik-bisik manusia tidak bisa lepas dari tema itu. 

Banyak yang menganggap kelompok Bani Katimin sedang bermain parodi. Lucu dan menghibur. Namun ada juga sebagian masyarakat yang terjebak dalam mimpi utopis Bani Katimin.

Tuhan memang memberkahi tlatah itu. Meski diisi oleh masyarakat yang sangat beragam, Tlatah Jembar tetap utuh. Gesekan kerap terjadi, tapi tidak bisa membuat luka Sang Tlatah. 

Banyak yang bilang, Tlatah Jembar itu keramat. Malaikat sering sambang ke sana. Tlatah Jembar dibangun atas pondasi kholwat para Begawan yang kalbunya benar-benar menembus nirwana. Bukan Begawan-begawan bentukan yang gagal muksa.

Malam datang dengan cepat. Tlatah Jembar segera menutup mata. Tahun depan tinggal berjarak sehasta. Para Begawan kembali melantunkan doa. Menunggu fajar menyingsing lagi. Di ujung sana, Begawan Sukmabrata dikhawatirkan gagal muksa.