Arsiparis
2 minggu lalu · 58 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 15416_52730.jpg

Begawan Desa

Semua orang tertegun melihat sosokmu. Dengan topi khas seniman dan rokok menyala di tangan kananmu. Sesekali kau hisap rokok itu penuh penghayatan dan orang orang yang duduk di kursi acara peringatan kepenyairanmu begitu terpesona. Gayamu seringkali menjadi panutan namun jarang cara berkaryamu.

“Terima kasihku pada Anda semua yang hadir di sini, ini bagiku terlalu berlebihan,” Katamu. Semua yang hadir seperti tertusuk saat kau mengucapkan itu. Mereka yang selam ini mengenal sosokmu hanya lewat puisi dan geguritan yang kau tulis menjadi begitu terpukau. Bengong.

Seseorang yang duduk disampingku bertanyam, “Mas, itu, ya, yang bernama Herry Lamongan?”

“Betul, dia memang begitu cara bicaranya, serak dan berat.” Jawabku memberi penjelasan seadanya karena aku sendiri juga baru tahu sosoknya. Bagiku pura pura mengenalnya akan membuatku sedikit keren dimata orang yang bertanya kepadaku.

Saat acara dimulai, dan Herry member sambutan semua terdiam. Namun, saat semua diberi kesempatan bertestimoni semua antusias ingin maju ke depan. Ruangan Aula Perpustakaan umum itu menjadi riuh dengan gelak tawa.

“Bagiku, Mas herry adalah guru menulis yang rendah hati. Meski namanya sudah melanglang buanan di jagad sastra, ia masih mau bergaul dan membimbing kita yang notabene dari desa atau kota kecil di Jawa timur yaitu Lamongan,” kata Syauqi anak didiknya yang paling tawaduk dan kualitas karyanya bisa dikatakan sebanding dengan gurunya itu.


Puja puji terus mengalir siang itu di ruang Aula Perpustakaan Umum Lamongan. Si Kribo kecil dengan penampilan dekil mendadak maju ke depan. “Karena sebab aku berkenalan dengan Herry Lamongan aku pun menjelajah lima benua. Dia adalah guru menulis pertamaku dan sampasi kini ia masih menjadi guruku.” Teriaknya lantang.

“Mas Gusti, dia itu adalah penulis produktif, ia tinggal di Yogya dan jika lebaran pasti berkunjung ke rumah Herry Lamongan,” ujar Munduk yang selama acara duduk di sampingku memberitahuku saat melihat aku begitu tercengang mendengar testimoni si kribo.

Sebenarnya acara ini hanyalah untuk memperingati ulang tahunnya yang keenam puluh tahun perjalanan hidupnya. Selama itu hampir empat puluh tahun lebih ia telah berjibaku dengan dunia tulis menulis. Ia bisa menulis dengan dua bahasa yaitu bahasa ibunya, bahasa jawa dan bahasa nasional bahasa Indonesia.

Dalam dunia sastra jawa ia malah lebih dulu dikenal daripada di dunia sastra Indonesia. Geguritan yang ditulisnya sangat bernas dan liris sekali bahasanya. Aku lebih menggemari puisi bahasa jawanya itu karena lebih mudah kuhayati. Dan memang,  bahasa jawa lebih  dalam dan merasuk dihati saat diucapkan daripada bahasa Indonesia. Mungkin itu juga karena pengaruh bahwa aku adalah orang Jawa.

Inila salah satu geguritannya yang paling kusuka:

SANGU ELING
layangmu kang tansah dhawuh
ora leren leren
ngentas sapa wae kang sudi ngundhuh
bagus lan ala kanthi anteng
kanti meneng lan seneng

kadya bumi apadene bengawan
tansah bungah karawuhan sapa wae
lila dilurug apa wae,
pawongan kang ora gampang nyacat
utawa ngroweng dening kahanan krana sih-palilahmu
yekti bakal mapan ing larik ngarep
jalaran ngerti yen sejatine ora ngerti

Dalam testimoni aku pun membacakan gurit ciptaanya ini. Aku merasa diksi yang ia pilih begitu pas dengan jalan hidupnya.

Plok plok plok plok………tepuk tangan itu begitu panjang saat aku usai membaca puisi berbahasa jawa itu. Kulihat mas Herry berkaca kaca. Lama ia tertegun dengan tatapan kosong, menerawang entah mengingat suatu peristiwa yang mana.

“Menjadi orang itu harus rendah hati, mas…” kata harist mengulang kata kata Herry Lamongan suatu ketika ketika kami ngopi berdua.  

Saat itu, sebagaimana yang  diceritakan oleh Harist,  temanku yang memang sangat gemar sastra dan mengaku terinspirasi oleh Herry Lamongan ketika ia juga memutuskan menjadi sastrawan, ia sedang bermain ke rumah Herry Lamongan ketika Sang Begawan itu memberinya petuah karena ia terlalu berbangga memperlihatkan novel pertamanya padanya .


“Yang paling kuingat adalah suara tawanya yang berat dan singkat,” terang harist menambahkan.

“Dan dia juga penggemar kopi yang akut,” kata nisa saat aku bertanya padanya perihal kesukaan Herry Lamongan ketika kami sedang sama sama mengambil teh hangat yang disediakan panitia.

Tanpa terasa hari semakin panas dan kami yang berada di Aula pun makin kegerahan. Tinggal satu lagi testimoni yang belum tampil. Lelaki pendiam berkacamata yang sedari tadi duduk membaca buku persembahan untuk Herry Lamongan tiba tiba terhenyak.

“Hadewwwww…….MC nya ini bikin gara gara!” sungutnya saat mendengar namanya disebut pembawa acara siang itu.

Lelaki berkaca mata ini pun menambahkan, “Dia, Herry Lamongan, adalah sastrawan yang anti pakem dan juga tidak liar sebagaimana Remy Sylado. Bahkan puisinya pun liris namun bukan seperti gayanya Sapardi. Ia membuat gayanya sendiri, Gaya Lamongan.”

Serentak seluruh peserta pun tergelak dan merasa ujaran lelaki ini ada benarnya. “Dia adalah bagi kita yang akan mengambil air kata kata. Yang paling kuingat adalah pesannya saat pertama kali aku dan Herry saling berjumpa, jika kita hanya butuh air satu gayung mengapa mesti kita angkat itu sumur,” pungkasnya sambil menjabat tangan Herry Lamongan.

Dan seluruh peserta, terdiam meresapi kutipan lelaki berkaca mata tersebut.

Artikel Terkait