Masyarakat Indonesia saat ini sudah tidak asing dengan begal. Aksi begal merupakan tindakan kriminal yang cukup terbilang umum dan begitu marak terjadi di Indonesia. 

Begal adalah istilah klasik yang berasal dari Bahasa Jawa yang berarti tindakan kriminal yang dilakukan oleh penjahat dengan menghadang korban di tengah jalan untuk merampas atau merampok. Berdasarkan Pasal 365 ayat (1), pelaku pencurian yang diikuti kekerasan dapat dikenakan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 

Apabila mengakibatkan kematian, pelaku dikenakan pasal 365 ayat (3) KUHP, yaitu di pidana penjara paling lama lima belas tahun. Para pelaku begal ini sering kali melakukan aksinya di tengah malam. 

Mereka akan menunggu seseorang melintas di jalan, khususnya para pengendara sepeda motor untuk dijadikan sebagai korban. Kemudian para pelaku begal ini akan merampas motor sang korban. Masalah begal ini semakin meningkat sejak terjadinya pandemi.

Aksi begal sudah begitu banyak terjadi di Indonesia. Umumnya para pelaku begal menggunakan sepeda motor dan membawa senjata tajam berupa pisau atau celurit. Contohnya adalah kejadian begal yang baru saja terjadi di Jalan Raya CBL, Kampung Kedaung, Desa Kertamukti, Cibitung, Kabupaten Bekasi. 

Aksi begal tersebut terjadi pada Sabtu malam, pada tanggal 26 November 2022 dengan seorang buruh kasar sebagai korbannya. Ketika kejadian tersebut terjadi, korban diperkirakan hendak pulang ke rumah pukul 10 malam. 

Di tengah perjalanan, korban bertemu dengan tiga orang pelaku begal yang mengendarai dua sepeda motor. Tubuh korban sempat mengalami luka-luka, namun aksi begal tersebut dihentikan oleh beberapa warga yang sedang melakukan ronda.

Aksi begal yang begitu menakutkan tentu saja dapat memberikan dampak yang sangat merugikan, khususnya para korban. Mengalami cedera dan luka-luka tentu akan dialami oleh para korban. 

Selain itu aksi begal juga dapat menyebabkan kehilangan barang yang kemudian menimbulkan trauma bagi para korbannya, bahkan dapat menimbulkan korban jiwa. 

Maraknya kasus begal juga dapat menimbulkan kepanikan di lingkungan masyarakat. Warga yang mendengar berita begal di daerahnya akan merasa resah dan khawatir apabila mereka sedang berada di luar rumah pada malam hari.

D2817E4C-CD2E-4D8A-AAEF-26480003595E.jpg

Terjadinya tindakan begal disebabkan beragam faktor. Umumnya, pelaku melakukan tindakan begal karena faktor ekonomi. Keuangan merupakan hal yang cukup krusial dalam kehidupan. 

Pandemi menjadi faktor menurunnya perekonomian masyarakat. Ketika seseorang mengalami krisis ekonomi, hal ini akan mengakibatkan pelaku merasa tertekan dan frustasi, sehingga pelaku sulit berpikir jernih dan mengambil tindakan yang salah. 

Berdasarkan Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih pada tahun 2015, pelaku begal yang berhasil ditangkap merupakan anak di bawah umur sekitar 30% dan sisanya merupakan orang dewasa berusia 20 sampai 25 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan pelaku melakukan tindakan kriminal tersebut dengan sadar. 

Tidak sedikit aksi begal ini dilakukan secara berkelompok, yang membuktikan bahwa begal dapat dipengaruhi oleh ajakan orang lain. Ketika seseorang sedang berada dalam kondisi ekonomi yang buruk, akan lebih mudah untuk orang lain mengajaknya bekerjasama menjadi pelaku begal. 

Mengingat tindakan begal juga dilakukan oleh anak dibawah umur, aksi begal juga dapat disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari orangtua. Orangtua pelaku tidak mengawasi anaknya dalam beragam aspek, misalnya lingkungan. Ketika seorang anak di bawah umur berada dalam lingkungan yang kurang baik, hal ini dapat membentuk kepribadian anak yang kurang baik juga. 

Untuk menangani kasus begal yang masih marak terjadi, diperlukan kerjasama antara pihak keamanan dengan pihak sipil. Pihak kepolisian diharapkan dapat melakukan tindakan pencegahan atau memberikan sanksi tegas terhadap para pelaku begal. Misalnya dengan mlakukan Operasi Kejahatan Jalanan di sekitar titik rawan begal dengan memeriksa barang bawaan setiap pengemudi kendaraan. 

Pemeriksaan perlu dilakukan upaya mengantisipasi penyebab begal itu sendiri. Dengan demikian, hal tersebut dapat menimbulkan efek jera bagi para pelaku sehingga peluang untuk meminimalisir begal menjadi lebih besar. 

Para warga sekitar juga dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang aman. Bagi warga yang tinggal di daerah rawan begal, dapat melakukan siskamling atau ronda dan meletakkan kamera cctv di beberapa tempat yang rawan. 

Sehingga hal ini dapat mempermudah proses penangkapan pelaku. Para pengendara, khususnya kendaraan bermotor dapat melakukan beberapa tindakan upaya perlindungan diri dari ancaman begal. Usahakan menghindari berkendara di atas pukul sepuluh malam. 

Apabila situasinya tidak memungkinkan, pengendara dapat mengenakan beberapa perlengkapan seperti helm, deker kaki, deker tangan, serta rompi badan untuk meminimalisir luka atau cedera apabila terjadi tindakan begal. 

Selain itu, pengendara juga dapat mengantisipasi tindakan begal dengan melintas di jalan yang ramai karena pelaku begal cenderung menjalankan aksinya di jalanan yang sepi. Dengan adanya kerjasama serta kontribusi dari berbagai pihak, diharapkan dapat meminimalisir kriminalitas di Indonesia, khususnya tindakan begal.