Pada umumnya, sebuah festival diadakan di tempat terbuka dengan lapangan luas ataupun di sepanjang jalan. Namun, ada yang berbeda untuk festival yang satu ini. Bedog Arts Festival diselenggarakan di bantaran Kali Bedog, Studio Banjarmili, Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman.

BAF merupakan festival seni yang  diselenggarakan setiap tahunnya. Tahun ini menjadi tahun ke-10 BAF diselenggarakan. Dengan mengusung tema  “Satu Dalam Keberagaman”, tema ini ingin memberikan pesan bahwa keragaman bangsa Indonesia harus dilestarikan dan dikembangkan. Tema ini sekaligus merespons gejala sosial yang belakangan ini terjadi di tanah air, di mana perbedaan selalu ditampilkan di permukaan.

Untuk menuju ke lokasi Bedog Arts Festival yang berada di perdesaan, jalan yang dilalui cukup berkelok-kelok sehingga akan sedikit kesulitan. Namun, kita tidak perlu khawatir karena telah tersedia petunjuk arah yang dibuat oleh panitia serta keramahtamahan warga desa yang siap membantu jika kita tersesat dalam perjalanan.

Pada saat memasuki pintu utama BAF, kita akan langsung disuguhkan dengan penampilan sesosok orang yang sedang menari di atas pasir sambil membacakan mantra-mantra. Dengan ditemani lilin-lilin di sekitarnya menjadikan suasana lebih terkesan mistis.

Tidak jauh dari situ, terdapat berbagai macam stand makanan dan minuman, baik modern maupun tradisional, yang dijual oleh masyarakat sekitar Desa Kali Bedog tersebut.

Setelah berjalan masuk lebih dalam menuruni anak tangga, kita akan menemukan penampilan dua orang yang sedang bermain permainan yang terlihat cukup asing di mata pengunjung. Selain itu, kita dapat ikut berpartisipasi dalam permainannya.

Lebih menelesuri ke dalam, kita akan langsung menemukan panggung utama. Di panggung utama inilah para pelaku seni, baik nasional maupun internasional, akan menyuguhkan penampilan terbaiknya.

BAF menyuguhkan konsep yang berbeda dengan kebanyakan festival seni pada umumnya. Konsep yang digunakan lebih menyatu dan berpadu dengan alam. Hal ini juga disebabkan karena lokasi yang digunakan berada tepat di atas sungai bedog yang memiliki muara di Puncak Merapi.

Suasana syahdu yang dihidangkan dengan adanya suara gesekan pepohonan, suara gemericik air, tebing cadas, kolam mata air dan pancuran menambah suasana alamnya makin terasa. Ditambah lagi dengan adanya tatanan lampu sentir (lampu minyak tanah dalam botol) yang diletakkan hampir di setiap sudut menambah susana arena BAF menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Untuk masuk dan menonton BAF tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Kita hanya perlu mengisi link untuk reservasi tempat duduk. Bagi pengunjung yang tidak sempat mengisi link tetap diperkenankan masuk dan menyaksikan pertunjukan, tetapi tidak mendapatkan kursi tribun untuk tempat duduk.

Jam operasional dari BAF sendiri dimulai pada pukul 19.30 sampai selesai, yaitu pada tengah malam. Karena diadakan hanya dua hari saja dalam setahun, festival ini sangat ramai didatangin pengunjung. Dianjurkan untuk datang ke BAF lebih cepat untuk menghindari desakan pengunjung.

Walupun tidak dikenakan biaya masuk, tetapi kita tetap dikenakan biaya  parkir. Untuk parkir kendaraan beroda dua dikenakan biaya sebesar Rp5.000 dan untuk parkir kendaraan beroda empat membayar Rp10.000.

Makanan dan minuman yang dijual di BAF cukup murah meriah. Makanan berat hanya dibandrol dengan kisaran harga Rp5.000 hingga Rp20.000. Sedangkan untuk harga minuman yang dijual rata-rata Rp3.000 sampai Rp10.000.

BAF sendiri banyak melibatkan para pelaku seni, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Para pelaku seni tersebut berasal dari daerah Papua, Kalimantan, Surabaya, Solo, Kartasura, Jogja, Jakarta, Bandung, Sumatra Utara, Jerman, Ekuador, dan Jepang.

Hari pertama BAF dibuka dengan penampilan Dolanan Anak (Yogyakarta), Komunitas Biola Jogja (Yogyakarta), Omah Cangkem (Yogyakarta), Uyan Taka (Kalimantan Timur), Cristina Duque (Cayambe Ecuador), Zita Pramesti (Yogyakarta), Mekratingrum Hapsari (Surakarta), Mila Rosinta feat Mila Art Dance (Yogyakarta), Komunitas Ronggeng Deli (Sumatra Utara).

Sedangkan pada hari kedua menampilkan Kaori Okada (Jepang), Prof. Sardono W. Kusumo (orasi budaya), Mulyo Joyo Enterprise (surabaya), Marvel Gracia (sukoharjo), Jogja’s Body Movement (yogyakarta), Wajiwa (bandung), Tri Putra Mahardika (jambi), Anterdans (yogyakarta), Kolaborasi Darlane Litaay dan Pelantara (papua).

Pada sela-sela penampilan ada kata sambutan yang disampaikan oleh prof. Sardono W. Kusumo yang sangat berkesan menurut saya, pada intinya beliau membahas bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya yang termuat dalam Bhineka Tunggal Ika.

Sudah sepatutnya kita sebagai generasi bangsa menjaga dan meneruskan kebudayaan tersebut. Tetapi hanya karena beberapa isu-isu yang tidak benar menjadikan negara kita berpecah belah. Sebagai generasi yang cerdas kita harus selektif dalam menerima berbegai isu yang ada. Dengan begitu Indonesia akan tetap jaya.

Hal ini juga yang mendasari pemilihan tema BAF pada tahun ke-10 ini, yaitu “Satu Dalam Keberagaman”.

Bagi para pengunjung yang menginginkan suasana festival yang  berbeda dari festival lainnya maka BAF bisa menjadi salah satu solusinya. Festival ini sangat cocok bagi semua kalangan baik dari anak-anak, remaja, dewasa serta lanjut usia.

BAF juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mempelajari seni serta keanekaragaman budaya Indonesia. selain itu BAF bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia agar tidak punah dan dilupakan.