Dua media cetak terbesar tanah air ini pernah terlibat persaingan sengit berebut atensi pembaca. Kompas yang awalnya mendominasi sirkulasi di berbagai daerah, pada medio 80-an tersaingi Jawa Pos. Dahlan Iskan berhasil membawa Jawa Pos bersinar terutama di Jawa Timur.

Kompas menyadari jika positioning mereka di daerah sangat lemah. Kelemahan inilah yang kemudian dimanfaatkan Jawa Pos. Oplah Kompas merosot. Untuk mengatasinya, Kelompok Kompas Gramedia (KKG), sebagai pemilik Kompas, menerbitkan Harian Surya di Surabaya. KKG juga mencetak Kompas di Surabaya dengan sistem cetak jarak jauh. Namun karena Jawa Pos sudah terlalu kuat, usaha ini tidak mampu mendongkrak oplah secara signifikan.

Jawa Pos tak berhenti membuat inovasi. Bahkan saat krisis ekonomi 1998, Jawa Pos berinovasi dengan merampingkan ukuran koran menjadi 7 kolom. Langkah ini kemudian diikuti Kompas beberapa tahun kemudian dengan mengecilkan ukuran korannya menjadi 8 kolom. Ukuran koran 7 kolom akhirnya menjadi standar ukuran koran-koran di tanah air setelah sebelumnya ukuran 9 kolom mendominasi.

Inovasi Jawa Pos berlanjut dengan menerbitkan halaman Radar di tujuh kota di Jawa Timur. Kehadiran suplemen Radar memperkuat positioning Jawa Pos di daerah-daerah. KKG pun tak ketinggalan. Mereka menerbitkan koran-koran daerah seperti Tribun Jogja, Tribun Jabar, Warta Jateng, dll. Tujuannya tentu merebut pangsa pasar di daerah-daerah yang tak bisa lagi dilakukan Kompas.

Saat era digital menguasai kehidupan masyarakat, persaingan keduanya menurun. Dua koran ini mempunyai “musuh” bersama. Internet.

Internet membuat perubahan cara masyarakat mendapatkan informasi. Distribusi berita tak lagi didominasi media cetak. Media online hadir memberi pasokan berita yang dibutuhkan masyarakat. Dulu, masyarakat menerima apapun informasi yang dipilih redaktur yang disajikan via koran. Sekarang, pilihan menjadi beragam. Berita diantar langsung ke timeline medsos. Masyarakat bahkan bisa memproduksi informasi.

Media online juga mempunyai keunggulan dibanding media cetak, yaitu cepat dan gratis. Dua hal ini menjadikan persaingan antara sesama koran menjadi tidak relevan. Wajar jika persaingan antara Kompas dan Jawa Pos tidak seperti dulu. Malah bisa dikatakan tidak ada.

Inovasi di koran juga membutuhkan biaya tinggi. Padahal turunnya pemasang iklan dan kondisi ekonomi yang jelek membuat biaya menghidupi koran semakin membengkak. Penambahan oplah yang tak diimbangi kenaikan jumlah iklan tak akan membuat koran untung namun malah merugi.

Pelajaran yang bisa dipetik dari persaingan Kompas dan Jawa Pos adalah lahirnya berbagai inovasi untuk meraih atensi pembaca. Inovasi itu membuat masyarakat diuntungkan. Kompas dan Jawa Pos menghadirkan berita-berita berkualitas yang dikemas secara menarik.

Kompas merupakan koran dengan berita dan informasi yang menjadi referensi kalangan profesional dan akademisi. Sementara Jawa Pos menyajikan informasi dengan gaya ringan, segar dengan desain tampilan yang atraktif. Berita-berita yang dihasilkan tentu saja disertai akurasi kuat sehingga masyarakat memberi kepercayaan tinggi kepada mereka.

Sayang, wajah kedua koran itu tidak ditemukan di edisi onlinenya. Kompas online berbeda bentuk dengan Kompas Cetak. Jawa Pos online pun setali tiga uang. Jika kita membaca edisi online mereka, kita akan merasakan karakter dan rasa yang berbeda.

Di era digital di mana informasi bisa diraih dengan cepat, mereka berusaha menghadirkan berita-berita secara cepat. Sayangnya, mereka kadang melupakan akurasi.

Kompas.com pernah menurunkan berita Arya Pradana Budiarto, orang Indonesia yang mengaku sebagai dokter tim Real Madrid. Padahal pengakuan itu hanya didapat lewat wawancara tanpa konfirmasi kepada Real Madrid. Kompas.com menurunkan beberapa seri berita itu.

Pada akhirnya, masyarakat mengetahui jika pengakuan itu hanya klaim. Kompas.com kemudian mencabut semua berita tentang Arya. Saya yakin berita-berita seperti ini tak akan dijumpai di Kompas cetak.

Jawapos.com tak hanya melupakan akurasi, tapi menurunkan berita-berita ngawur dengan judul-judul bombastis. Misalnya berita tentang 200 juta orang Tiongkok yang dikhawatirkan masuk ke Indonesia. Berita itu hanya didapat dari wawancara anggota DPR tanpa disertai data yang akurat. Redakturnya juga malas menanyakan logika anggota DPR. Misalnya, dari mana angka 200 Juta itu berasal? Dan terbukti, berita tersebut akhirnya menjadi bahan tertawaan.

Bagaimana bisa wajah edisi online mereka berbeda dibanding edisi cetaknya?

Saya menduga karena mereka lebih mementingkan traffic ketimbang menyajikan informasi yang akurat dan terpercaya. Dan muaranya adalah uang. Traffic yang banyak akan menghasilkan uang lebih banyak. (Baca: Ketika Traffic Menjadi Tuhan Bagi Media Online)

Jumlah kebutuhan akan berita yang melimpah juga menjadi alasan mengapa wajah mereka berbeda. Tentu berita-berita panjang khas Kompas cetak tidak akan laku. Satu berita panjang akan dipecah menjadi banyak dengan judul-judul yang memancing klik. Tidak heran jika liputan tentang Ahok menghasilkan banyak angle dan disajikan dengan singkat.

Alasan lain adalah adanya ketakutan seandainya wajah media online dibuat sama, media cetak mereka akan tergusur. Sementara, bisnis utama mereka ada di media cetak. Secara penghasilan, pendapatan media cetak tentu jauh lebih besar. Masyarakat akan memilih edisi online yang gratis kan?

Namun ada risiko jika kualitas media online dibuat berbeda dibanding media cetaknya. Apalagi jika kecepatan dan traffic menjadi agama mereka dibanding akurasi. Jika ada kesalahan fatal, pasti akan berimbas pada brand yang telah mereka bentuk.

Misal pada berita 200 Juta orang Tiongkok di atas. Masyarakat yang protes tahunya berita itu berasal dari Jawa Pos. Meski manajemen Jawa Pos cetak dan Jawapos.com berbeda. Masyarakat tidak mau tahu karena brand media yang menyajikan sama. Sebuah hal yang patut disayangkan karena membangun brand tentu membutuhkan usaha keras.

Saya juga yakin jika pendapatan iklan Google Adsense Jawapos.com per bulannya bisa ditutup dengan penghasilan iklan seperempat halaman koran Jawa Pos. Sayang jika mempertaruhkan brand untuk penghasilan recehan.

Saya pernah menulis bagaimana koran AS The New York Times dan koran Inggris The Guardian (GU) menyesuaikan diri di era digital. Dua koran itu tidak membuat media online dengan wajah dan kualitas lebih jelek. Berita-berita yang diturunkan tidak jauh berbeda dengan media cetaknya. Konten-konten mereka pun lebih kaya karena edisi digital bisa menyajikan konten-konten yang tak bisa didapat di media cetak seperti video dan audio.

Apakah mereka tidak khawatir media cetak mereka ditinggal pembaca? Sepertinya tidak. Kedua koran itu mempunyai strategi menyinergikan media cetak dan media online dengan baik. (Baca: Apakah Kita Masih Perlu Membaca Koran?).

Saat ini, tren masyarakat mengonsumsi berita sudah berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Masyarakat semakin cerdas sehingga mereka akan mencari berita-berita yang sesuai dengan value yang mereka anut. Alternatif bacaan mencerdaskan juga semakin beragam.

Saya terkesan dengan media online seperti tirto.id, rappler.com, atau beritagar.id. Mereka mengemas berita dengan cerdas dan menarik. Berita-berita yang disajikan tak asal cepat dengan judul-judul bombastis. Target pembaca mereka di atas kompas.com atau jawapos.com.

Mereka membentuk pasar baru dan tidak bermain aman dengan berlindung di balik selera pasar. Yang mengagumkan, media-media itu tidak berasal dari media cetak yang mempunyai tradisi jurnalisme yang panjang seperti Kompas dan Jawa Pos. Mereka adalah media online dari awalnya.

Pilihan bentuk wajah adalah hak sepenuhnya media. Namun masyarakat mempunyai kekuasaan melebihi para redaktur koran. Mereka akan semakin cerdas dalam memilih sumber berita. Jika suka, mereka akan membaca dan membaginya via medsos. Jika tidak, mereka akan meninggalkannya dengan gampang.