Dalam lintasan sejarah umat manusia, banyak sekali kita temukan tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan luar biasa, karena ia dapat mengubah tatanan dunia di zamannya. Dari nabi Ibrahim yang mampu menyalamatkan umatnya dari kekejaman Raja Namrud, yang nantinya para keturunannya melahirkan 3 agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam), hingga Adolf Hitler yang melahirkan Fasisme di Jerman, adalah contoh-contoh tokoh sejarah yang memiliki “karisma” kepemimpinan yang mampu menggerakan sejarah, bahkan mengubah tatanan sejarah di zamannnya.

John Potts dalam bukunya “A History Of Charisma” menyamakan kata “Charis” ke dalam bahasa Inggris dengan kata “grace”, dengan prasyarat memiliki makna: kemenarikan (attractiveness), kebaikan hati/berkah (favour), rasa terima kasih (gratitude), pesona (charm) dan juga karunia (gift).

Sedangkan dalam kamus Oxford, karisma dikategorikan kata benda yang memiliki arti ganda: pertama, daya pikat/pesona yang dapat menginspirasi ketaatan/ loyalitas dalam diri orang lain; kedua, kekuatan atau anugerah yang didapatkan dari ilahi.

Max Weber dalam bukunya “Economy and Society” menyebutkan bahwa karisma adalah sebuah kualitas khusus dari kepribadian seseorang. Kualitas ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Kualitas karisma sering kali ditandai dengan kualitas supranatural, manusia super, atau setidaknya memiliki spesifik kekuatan tertentu.

Dari kualitas yang dimiliki oleh seorang tersebut melahirkan ketaatan dan ketundukan para pengikutnya, secara sukarela. Bahkan mereka bersedia memperaruhkan nyawa dan apa pun yang dimilikinya untuk kepentingan sang pemimpin yang memiliki karisma tadi.

Dalam pandangan Weber sendiri, karisma ini memiliki dua tipe. Pertama, “genuine/pure type of charisma/karisma asli, tipe karisma yang mampu menggerakkan pengikutnya untuk melakukan tindakan tanpa harus menegaskan “legitimasi” kepemimpinannya, karena para pengikutnya menganggap mereka tanpa sadar tergerakkan oleh dorongan spiritual di dalam dirinya dengan kesadaran bahwa tindakannya merupakan tugas yang harus dikerjakan.

Tipe karisma ini mampu menjadikan musuh, kawan dan bahkan oleh orang yang tidak dikenalnya, ketika berhadapan dengan pemimpin yang memiliki tipe karisma ini, ikut melakukan bergabung bersama-sama dan secara suka rela menyerahkan apa pun yang dimilikinya untuk mendukung perjuangan si pemimpin.

Monkey D. Luffy dalam anime One Piece memiliki kualitas kepemimpinan pure charisma ini. Ia memiliki aura kepemimpinan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional dan sistematis. Bahkan dengan karismanya tersebut ia secara perlahan mampu mewujudkan mimpinya menjadi Raja Bajak Laut.

Ia seperti seorang nabi, pembaru, revolusioner dan seorang agen pengubah sejarah di dalam setiap plot ceritanya. Di mana Luffy selalu dapat memberikan kesan persuasif terhadap orang lain untuk mau dan mengikuti cara pandangnya. Bukan karena argumennya yang masuk akal, tetapi karena karisma kepemimpinan yang ia miliki.

Pertama kali Luffy bertemu dengan Roronoa Zoro, ia telah dibuat terkejut dengan segala tingkah polah Luffy, yang dianggapnya aneh tetapi menarik. Meskipun dalam setiap cerita One Piece, Zoro dan Luffy tidak terlihat akur, namun ia tidak pernah sekalipun menentang perintah Luffy.

Bukan hanya itu, Luffy pada akhirnya mampu merekrut anggota Bajak Laut Topi Jerami yang lain, seperti Nami, Sanji, Cooper, Usop, Niko Robin dan Brook lewat karisma kepemimpinan yang ia miliki. Bahkan anggota grup bajak laut ini selalu mengikuti perintah-perintah Luffy yang terkadang tidak masuk akal, dan cenderung membahayakan nyawa mereka demi mewujudkan cita-cita Luffy untuk menjadi Raja Bajak Laut.

Bukan hanya itu, apabila kita jeli melihat plot cerita One Piece dari sekian lama berlangsung, akan kita temukan persamaan, di mana Luffy yang memiliki “pure charisma” yang selalu memiliki sekutu baru dalam membantunya menaklukan setiap musuhnya. Anehnya pula, setiap sekutu yang ia miliki selalu rela bertaruh nyawa untuk membantu perjuangan Luffy –inilah merupakan tanda dari pure charisma yang dimilikinya.  

Tipe kedua, yaitu Imitation of Charisma, atau karisma tidak asli, yaitu karisma yang membutuhkan landasan yang lain, untuk melegitimasi pengaruhnya terhadap pengikutnya. Landasan yang lain itu, seperti klaim pribadi dari individu pemimpin tersebut ataupun institusi sakral tertentu, seperti raja bajak laut dan hokage contohnya.

Contoh dari tipe karisma kepemimpinan ini adalah Uzumaki Naruto dalam anime Naruto Shippuden. Tidak seperti Luffy, Naruto tidak memiliki pure charisma tetapi ia membutuhkan landasan yang lain seperti keturunan Hokage ke-4 dan menjadi pahlawan desa serta Perang Ninja ke-4 terlebih dahulu untuk mendapatkan karisma kepemimpinannya.

Bahkan karisma kepemimpinannya tersebut tidak secara otomatis menjadikan ia diangkat menjadi Hokage, tetapi harus menyelesaikan beberapa tahap persyaratan yang prosedural. Karisma kepemimpinan yang dimiliki oleh Naruto inilah charisma imitation, atau kharisma yang didapatkan oleh legitimasi atau dibangun oleh hal-hal yang dapat diusahakan.

Karisma yang dimiliki oleh Naruto merupakan hasil dari perjuangan dia menjadi Shinobi yang “diakui” oleh orang lain. Bahkan untuk menegaskan karisma kepemimpinan yang ia miliki, Naruto berjuang sangat keras untuk menjadi seorang Hokage –dengan alasan ia ingin diakui keberadaannya oleh penduduk desa Konoha.

Ketika Naruto masih menjadi shinobi biasa, ia bahkan harus berkali-kali membangun dan meyakinkan pengaruhnya terhadap orang lain mengenai prinsip hidupnya -“jalan ninja” yang ia perjuangkan. Bahkan berkali-kali pula Naruto mengalami kegagalan-kegagalan dalam menegaskan legitimastinya, untuk diakui kemampuannya –mendapatkan karisma.

Di saat Naruto telah menyelamatkan dunia ketika terjadi Perang Ninja ke-4 melawan Madara dan Kazuya, karisma kepemimpinan Naruto masih belum diakui sepenuhnya oleh musuh-musuhnya, bahkan oleh teman-temannya sendiri. Bukan hanya itu, tidak ada teman Naruto yang mau berkorban mempertaruhkan nyawanya demi cita-cita Naruto menjadi Hokage, seperti yang cerita Luffy di One Piece -selain Hinata yang memang mencintai Naruto, bukan karena karisma yang dimiliki oleh seorang Naruto.

Di akhir kisah Naruto Shipuden pun, Naruto harus dipaksa oleh Kakashi dan aturan desa –yang saat itu menjadi Hokage ke-6- untuk terus memantaskan diri menjadi Hokage dan diakui kemampuannya. Naruto dipaksa untuk mengikuti ujian Chunin, ia harus mempelajari pelajaran di kelas. Hal tersebut harus dilakukan oleh Naruto, meskipun ia merupakan pahlawan besar di dunia Ninja.

Pada akhirnya, karisma kepemimpinan Naruto benar-benar ia peroleh ketika ia diangkat menjadi Hokage ke-7 desa Konohagakure. Ini pun baru terlihat di anime Boruto: Naruto Next Generation. Di mana karakter seorang Uzumaki Naruto sedikit berubah menjadi lebih berkarisma sebagai seorang pemimpin yang diakui pengaruhnya.