Seorang gadis desa, tomboi dan pemberani. Itulah yang bisa menggambarkan seorang Becca. Ya namanya Becca bukan Mecca. Banyak orang yang sering keliru saat memanggilnya.

Bukan dari keluarga kaya, hidup seadanya dan begitu sederhana. Namun bukan berarti dia berpakaian lusuh kawan. Meskipun hidupnya sederhana tetapi begitu menikmati hidupnya.

Lahir di sebuah desa yang terpencil. Di sebuah perbatasan dua kabupaten yang jauh dari kota. Jalan menuju desanya begitu ekstrim, kata beberapa pengunjung dari desa lain. Jalan yang berkelok dan sangat licin membuat banyak orang takut melewatinya.

Jalan yang menakutkan itu terakhir kali dibangun ketika Becca masih di usia balita. Kini ia sudah mulai menua meskipun semangatnya masih tetap muda. Setiap pergi ke sekolah tidak ada kendaraan yang lalu lalang di desanya dan harus jalan kaki.

Jarak rumah ke sekolah kurang lebih 5 kilometer. Itu baru pergi belum nantinya ia harus berjalan lagi untuk pulang dari sekolah. 10 kilometer yang harus ia lalui setiap hari. Namun tidak ada rasa berat ataupun mengeluh. Semua ia lakukan dengan bahagia.

Kini ia mulai beranjak dewasa. Menghadapi kehidupan yang penuh dengan lika-liku yang begitu curam. Keadaan keluarganyapun tidak banyak berubah sejak ia kecil hingga saat ini. Masih menjadi keluarga sederhana dan apa adanya.

Sejak usia 14 tahun, ia telah pergi merantau mencari ilmu. Apa yang dikatakan Ayahnya menjadi alarm semangat untuknya.

“Nak, Ayah Ibumu bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa dan tidak punya harta yang akan kita wariskan. Kalian anak-anakku harus menjadi orang yang bisa hidup dengan bekal ilmu.” Nasihat Ayah yang selalu ia bawa dalam ingatannya.

Setiap kali perginya ke tempat rantau bukan sebuah kebahagiaan karena pergi dari kehidupan yang sederhana itu. Rasa berat selalu menemani, mengingat kehidupan di rumah adalah hal yang tidak mudah.

“Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh. Ayah telah kerja banting tulang dan mengharap selalu kesuksesanku. Aku di sini bukan untuk main-main atau menghabiskan uang orang tuaku.” Pikiran itu selalu menghantuinya.

Ia tidak pernah lelah menghabiskan hari-harinya untuk berusaha membahagiakan orang tua. Rasanya sampai dia lupa membahagiakan dirinya sendiri. Hangout bersama teman-temannyapun tak pernah.

Demi orang tuanya, ia tak pernah memberi kabar menyedihkan. Ia selalu mengirim kabar bahagia, sehat dan tidak pernah kekurangan. Apalagi masalah pertemanan, ia tidak pernah menceritakannya kepada keluarga. Takut menjadi beban.

“Rasanya aku akan berdosa jika menghabiskan waktuku untuk membahagiakan diriku sendiri. Sedangkan aku ingat bagaimana mereka tidak bahagia ketika mencarikan nafkah untukku dan saudara-saudaraku.” Penuh ingatan itu.

Seketika ia kaget mendengar seseorang bertanya kepada Becca.

“Kamu sudah lama tinggal di sinikan? Tempat wisata mana yang paling bagus?” tanya seseorang padanya.

Bingung bukan main. Bagaimana ia harus menjawab sedangkan ia tak pernah melangkahkan kakinya ke tempat wisata. Bukan karena malas tapi karena ingatan pada orang tuanya selalu muncul ke permukaan ubun-ubun ini.

 “Maaf aku tidak tahu.” Dengan rasa malu ia menjawab pertanyaan dari seorang kawannya yang sedang berlibur di tempat ia merantau.

“Serius kamu gak tahu?, kerjaan kamu masuk keluar perpustakaan dan masjid ya?”, ledeknya.

Becca hanya tersenyum malu. Ia memang kurang update tempat-tempat hiburan. Ia hanya sesekali melihat di instagram dan hanya bilang dalam hati Besok kesininya sama suami aja. Kalau saja ada orang yang dengar pasti akan tertawa.

Tahun ini adalah tahun pertama ia kembali ke rumah setelah ia menyelesaikan studinya di tanah perantauan. Kebahagiaan sedikit terpancar dalam hidupnya. Mendapatkan pekerjaan yang layak yang telah ia impikan begitu lama.

Perjuangan masih tetap harus ia tempuh. Tidak mudah kawan ia mendapatkan pekerjaannya itu. Sistem administrasipun ia telah melewati banyak kendala yang begitu rumit. Tapi ia terus berusaha memperjuangkannya.

“Ya Tuhan jika memang ini menjadi yang terbaik untukku berikan kesempatan ini padaku. Aku tak punya siapa-siapa di sini. Aku hanya mampu menengadahkan tanganku untuk memohon pertolonganmu.” Doanya setiap waktu.

Rasa takut dan khawatir telah ia lalui. Melewatinya dengan kesendirian. Dengan do’a yang selalu terpanjatkan. Dengan usaha yang tak terlewatkan. Tuhan membayar semuanya.

Pagi itu sebuah pesan masuk memberitahukan bahwa ia diterima di sebuah lembaga pendidikan. Ia hanya tersenyum dalam kesendirian. Tersenyum menikmati sebuah kehidupan dengan banyak cerita yang silih berganti.

“Yah, aku berjanji akan merawatmu dengan tenagaku. Menemani Ibu untuk merawatmu setiap hari. Menjagamu dan tidak membiarkanmu sakit sendirian.”

Begitulah hidup tidak pernah stagnan. Semua berubah. Hidup yang sedari dulu begitu sederhana kini setidaknya sudah lebih membaik. Namun kebahagiaan itu tidak sempurna ketika ia kembali pulang tetapi Ayah harus menerima banyak perawatan.

Kesedihanmu akan berjalan menuju kebahagiaan, Becca. Kamu kuat dalam menghadapi segala hal dalam hidupmu. Tuhan akan memberi cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuannya. Simpan rapat-rapat sedihmu itu, Becca. Semua akan segera usai.