Dalam tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang dua syarat dalam membangun ta’rif berdasarkan kandungan maknanya. Kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa ta’rif itu harus mampu menghimpun seluruh individu yang tercakup oleh kata yang didefinisikan, dan dalam saat yang sama ia juga harus mampu mencegah masuknya segala sesuatu selain yang didefinisikan kedalam definisi yang sudah dirumuskan.

Jika dalam tulisan sebelumnya dua syarat tersebut berkaitan dengan kandungan maknanya, maka pada tulisan kali ini akan menguraikan beberapa syarat lain berdasarkan lafaznya. Syarat-syarat tersebut bisa kita rangkum kedalam poin-poin sebagai berikut:

Pertama, ta’rif harus lebih jelas dari mu’arraf. Atau, lebih jelasnya, yang mendefinisikan harus lebih jelas lafaznya ketimbang yang didefiniskan. Syarat ini sangat masuk akal. Karena tujuan dari ta’rif itu sendiri ialah memperjelas. Dan kita tidak mungkin mampu memperjelas sesuatu dengan kata-kata yang maknanya samar, apalagi dengan yang lebih samar.

Melalui syarat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa ta’rif-ta’rif di bawah ini keliru dan tidak bisa dijadikan sandaran:

  • Mendefinisikan suatu kata dengan kata yang lebih samar. Misalnya ada yang bertanya: Apa itu api? Lalu dijawab: Api itu adalah substansi halus (jauhar lathif) seperti halnya jiwa (nafs). Definisi ini kurang tepat. Sebab, alih-alih memperjelas, jawaban yang dikemukakan justru tidak kalah membingungkan ketimbang kata yang hendak didefinisikan. Orang awam tentu tidak tahu apa itu jauhar. Apalagi setelah itu disertakan kata jiwa, yang maknanya tentu lebih samar ketimbang makna api. Dalam ilmu mantik, ini disebut sebagai ta’rif bil akhfa, mendefiniskan sesuatu dengan kata yang lebih samar. Dan ini keliru. Karena tujuan utama dari ta’rif itu ialah memperjelas, bukan memperumit.   
  • Mendefinisikan suatu kata dengan kata lain yang tingkat kesamarannya setara (musawi fil khafa). Misalnya Anda mendefinisikan panas dengan tidak dingin. Apa itu panas? Panas itu adalah tidak dingin. Definisi ini tentu tidak menjelaskan esensi dari panas itu sendiri. Dia hanya mengulang makna saja. Dua-duanya masih samar. Kita belum tahu hakikat panas itu apa, lalu setelah itu kita disuguhi kata dingin, yang kita sendiri belum tahu esensinya apa. Dalam konteks ini harus dibedakan antara pengetahuan kita tentang wujud panas, dengan pengetahuan kita tentang esensi panas. Pengetahuan kita tentang wujud panas memang tidak membutuhkan penjelasan. Karena hampir setiap hari kita merasakan hal itu. Tapi esensi (mahiyyah) dari panas itu sendiri tentu masih membutuhkan penjelasan. Artinya, esensi panas ini masih samar. Kalau kita mendefinisikan panas dengan tidak dingin, itu artinya kita mendefinisikan suatu kata yang esensinya samar dengan kata lain yang sama-sama samar. Dan ketika itu definisinya menjadi tidak berarti. 
  • Mendefiniskan suatu kata dengan kata lain yang tingkat kejelasannya setara. Seperti halnya kita mendefinisikan genap dengan tidak ganjil. Dan yang ganjil dengan tidak genap. Ini juga kurang tepat. Karena ta’rif itu harusnya lebih jelas—sekali lagi lebih jelas—ketimbang mua’rraf. Ganjil dan genap maknanya sudah jelas. Dan kejelasan makna keduanya itu bersifat setara. Kita mengetahui makna ganjil setelah kita mengetahui makna genap, dan juga sebaliknya. Karena itu, menjelaskan yang satu dengan yang kedua—atau sebaliknya—menjadi tak ada gunanya. Karena kedua-duanya sudah sama-sama jelas, dan kejelasannya bersifat setara. Sementara ta’rif harus lebih jelas ketimbang mu’arraf.
  • Definisi yang berujung dengan kemustahilan. Contohnya ada orang bertanya apa itu ilmu? Lalu Anda jawab: Ilmu itu ialah mengetahui apa yang diketahui (idrak al-Ma’lum). Kita ingin mengartikan ilmu, yang artinya mengetahui, lalu setelah itu kita disuguhi lagi dengan kata mengetahui. Ini artinya kita mendefinisikan sesuatu dengan dirinya sendiri (ta’rif al-Syai binafsihi). Dan pada akhirnya kita akan terjebak pada apa yang diistilahkan dengan daur. Dan daur itu mustahil.
  • Mendefinisikan suatu kata yang maknanya saling bergantung pada makna dari kata yang lain. Dalam istilah arabnya ini disebut sebagai ta’rif bilmutadhayifain. Mendefiniskan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang maknanya bergantung pada kejelasan makna dari sesuatu yang pertama itu. Contohnya Anda mendefinisikan istri sebagai orang yang memiliki suami. Dan suami sebagai orang yang memiliki istri. Anak adalah orang yang memiliki bapak. Dan bapak adalah orang yang memiliki anak.Anak-bapak, suami-istri, itu disebut mutadhayifain karena kedua-duanya saling bergantung satu sama lain. Kita tidak mungkin tahu makna anak, kecuali setelah kita tahu makna bapak. Kita tidak mungkin tahu makna istri, kecuali setelah kita tahu makna suami, dan sebaliknya.

Kedua, ta’rif tidak boleh menggunakan kata-kata kiasan atau majaz (metafor) yang tak disertai qarinah. Mengapa? Karena kata kiasan masih mengandung kesamaran. Sementara tujuan utama dari ta’rif, seperti yang sudah saya singgung di atas, ialah memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya.          

Contoh: Mendefinisikan orang bodoh dengan keledai. Orang bodoh itu adalah keledai. Titik. Tidak ada kalimat apa-apa lagi setelah itu. Kata keledai tidak menjelaskan hakikat orang bodoh, meskipun ia bisa dijadikan sebagai kata kiasan untuk mengisyaratkan orang bodoh. Tapi karena di sana tidak ada qarinah, maka ta’rif tersebut menjadi tidak jelas.

Contoh lain: Orang berilmu itu ialah lautan yang meluap. Hanya itu. Tidak ada kalimat lain. Apa yang dimaksud dengan kata lautan dalam definisi tersebut? Tidak lain kecuali kata kiasan yang menunjuk sesosok orang yang berilmu.

Tapi definisi ini juga tidak tepat, karena makna dari kata kiasan itu sendiri masih belum jelas. Kita tidak menemukan adanya qarinah yang dapat membantu kita untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan kata lautan dalam definisi itu bukan makna aslinya.  

Intinya, sebuah ta’rif yang benar tidak boleh mengandung kata kiasan jika tidak disertai qarinah yang jelas. Namun, apabila qarinah-nya jelas, maka ketika itu boleh.

Contohnya: Orang berilmu itu ialah lautan yang mampu menguasai ilmu-ilmu syariat dan memiliki rasa takut kepada Tuhan. Lautan dalam ta’rif tersebut memang kata kiasan (majaz). Tapi di sana ada qarinah. Maksudnya ada sebab yang dapat mengalihkan kata lautan tersebut dari makna aslinya.

Lalu apa bedanya dengan contoh sebelumnya, yang juga sama-sama menggunakan kata lautan? Perhatikan. Dalam definisi sebelumnya yang disertakan itu hanyalah kata lautan, lalu setelah itu disertakan kata meluap. Lautan yang meluap. Hanya itu saja. Tidak ada rangkaian kalimat lain yang membantu kita untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan kata lautan itu bukan makna aslinya.

Tapi dalam ta’rif kedua ini kita menemukan rangkaian kalimat lain yang dapat membantu kita untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan kata lautan itu bukan makna aslinya, meliankan makna kiasannya, yang dalam hal ini adalah sebuah sosok. Dari mana makna tersebut bisa kita tangkap? Dari kalimat: “yang menguasai ilmu-ilmu syariat dan memiliki rasa takut kepada Tuhan”.

Rangkaian kalimat inilah yang memberikan pemahaman kepada kita bahwa yang dimaksud dengan kata lautan itu bukan makna aslinya, melainkan makna kiasannya, karena yang bisa menguasai ilmu dan memiliki rasa takut kepada Tuhan itu sudah pasti berwujud manusia, bukan limpahan air yang kita namai dengan lautan itu.

Pada prinsipnya, penggunakan majaz dalam ta’rif itu tidak diperbolehkan. Atau, sekurang-kurangnya, tidak dianjurkan. Mengapa? Karena, sekali lagi, kata kiasan itu masih mengandung ambiguitas dan kesamaran. Sedangkan tujuan utama dari ta’rif ialah memberikan kejelasan. Kalaupun digunakan, maka harus ada qarinah yang jelas.

Ketiga, ta’rif tidak boleh menggunakan musytarak lafzhiy, yakni suatu kata yang bermakna plural. Mengapa? Jawabannya sama dengan yang di atas: karena suatu lafaz yang mengandung banyak makna tentu tidak akan mampu memberikan satu makna yang tegas dan jelas. Kecuali kalau penggunaan kata tersebut disertai qarinah. Ketika itu boleh digunakan.

Contoh: Mendefinisikan jasus (mata-mata) dengan kata ‘ain. Dalam bahasa Arab, kata ain itu memiliki banyak makna. Bisa bermakna mata air, mata-mata, emas, perak, dzat, dan lain sebagainya.

Ketika kita mendefinisikan mata-mata dengan kata ‘ain saja, maka ketika itu makna yang dimaksud belum jelas, karena tidak ada qarinah-nya. Artinya tidak ada rangkaian kalimat lain yang dapat memberikan pemahaman kepada kita bahwa yang dimaksud itu bukan makna aslinya.

Tapi ketika definisinya ditambah menjadi: “mata yang berfungsi sebagai pengawas dan merekam pembicaran orang lain”, ketika itu menjadi jelas bahwa makna yang dimaksud dari mata itu bukan bola mata seperti yang kita kenal, melainkan sesesok manusia. Karena bola mata tentu tidak punya kemampun untuk merekam pembicaraan orang.

Namun, sebagaimana penggunaan majaz, dalam merangkai sebuah definisi yang benar, kata-kata yang masuk kategori musytarak lafzhiy ini sebaiknya dihindari, demi menghindari ketidakjelasan. Karena tujuan utama dari ta’rif itu, sekali lagi, ialah memberikan kejelasan.

Keempat, ta’rif tidak boleh mengandung daur. Apa itu daur? Daur itu ialah bergantungnya sesuatu pada sesuatu yang lain yang bergantung padanya sesuatu itu” (tawaqquf al-Syai ‘ala ma yatawaqqafu ‘alaihi dzalika al-Syai). Lebih jelasnya, kita tidak boleh mendefinisikan sesuatu dengan dirinya sendiri. Mengapa? Karena kita tidak akan mendapatkan kejelasan.

Contoh: Matahari didefinisikan sebagai bintang di siang hari yang bercahaya. Di mata letak kecacatan definisi ini? Perhatikan. Dalam definisi tersebut disertakan kata siang. Kita tahu bahwa pemahaman kita tentang makna siang tidak akan kita peroleh kecuali setelah kita memahami makna matahari, sebagaimana pemahaman kita tentang matahari juga—melalui definisi tersebut—bergantung pada pemahaman kita tentang makna siang.

Artinya di sana ada dua kata, yang satu bergantung pada yang kedua, dan yang kedua bergantung pada yang pertama. Yang pertama bisa dipahami melalui yang kedua, dan yang kedua baru bisa dipahami setelah kita mengetahui makna dari kata yang pertama. Alih-alih memberi penjelasan, definisi semacam ini justru membingungkan. Padahal, sekali lagi, tujuan utama dari ta’rif itu ialah memberikan kejelasan.

Kelima, tidak boleh menggunakan kalimat negatif selama penggunaan kalimat positif masih dimungkinkan. Contoh: kezaliman didefinisikan dengan ketidakadilan. Padahal, misalnya, bisa saja kita mengartikan kezaliman sebagai “perbuatan yang merugikan orang lain” atau “meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya”.

Artinya, kita masih bisa menggunakan kalimat positif. Selama penggunaan kalimat positif itu masih dimungkinkan, maka kita tidak boleh menggunakan kalimat negatif.

Contoh lain: Kekikiran didefinisikan dengan tidak memberi. Padahal bisa saja kita mengartikan kekikiran itu sebagai “tindakan menahan harta”. Intinya, selama masih bisa menggunakan kalimat positif, sebaiknya penggunaan kalimat negatif itu dihindari. Kecuali kalau memang kata yang hendak kita definisikan itu mengandung makna negatif.

Contoh: Pelaku maksiat diartikan sebagai orang yang tidak mentaati aturan Tuhan. Atau orang kafir diartikan sebagai orang yang tidak memercayai prinsi-prinsip keimanan. Dalam konteks ini, penggunan kalimat negatif boleh-boleh saja. Karena mua’rraf-nya sendiri mengandung makna negatif.

Keenam, ta’rif tidak boleh mengandung unsur penghukuman. Mengapa? Karena penghukuman atas sesuatu itu bukan esensi dari sesuatu itu sendiri. Misalnya khamar didefinisikan sebagai minuman haram yang memabukkan.

Penggunaan kata haram dalam definisi ini tidak perlu. Karena ia bukan bagian dari esensi khamar itu sendiri. Sedangkan tujuan utama dari ta’rif itu ialah menyingkap esensi sesuatu. Cukup dengan mengatakan bahwa khamar itu ialah minuman yang memabukkan, maka ta’rif-nya sudah benar.

Itulah beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam merangkai sebuah definisi yang benar. Poinnya cukup banyak. Setidaknya ini menunjukkan bahwa ilmu mantik memiliki perhatian besar dalam soal definisi ini. Karena tanpa adanya aturan yang jelas, kekeliruan dalam merangkai definisi ini seringkali melahirkan perdebatan-perdebatan yang tidak sehat.

Tapi pada akhirnya tetap saja, orang yang sudah tahu tentang kaidah dan syarat-syarat itu pun belum tentu mampu membangun sebuah definisi yang benar. Karena perangkaian definisi itu sendiri sangat bergantung pada kejelian sekaligus wawasan yang bersangkutan tentang istilah atau kata yang hendak didefinisikan.

Dalam tulisan selanjutnya kita akan membahas tentang beberapa contoh kekeliruan yang sering dialami oleh banyak orang itu. Dalam bahasa ilmu mantik, kekeliruan dalam merangkai sebuah definisi itu disebut dengan istilah maghlathah, atau mughalathah. Seperti apa contoh-contohnya? Simak uraiannya dalam tulisan mendatang. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.