Meski terkesan sepele, membangun sebuah definisi yang benar, tepat dan akurat sejujurnya bukan perkara mudah, apalagi jika menyangkut istilah-istilah tertentu yang kita sendiri tidak memiliki wawasan yang cukup tentang hal-hal terkait dengan istilah itu.

Misalnya ada orang meminta kepada Anda untuk mendefinisikan istilah demokrasi, tapi Anda sendiri tidak pernah membaca buku-buku politik. Atau ada yang meminta kepada Anda untuk mendefinisikan Syiah, tapi Anda sendiri tidak pernah membaca buku-buku teologi.

Apa yang akan terjadi? Sekalipun Anda menguasai setumpuk kaidah yang terserak dalam ilmu mantik, tetap saja Anda tidak akan mampu membangun sebuah definisi yang benar tentang istilah-istilah itu. Mengapa? Karena Anda sendiri tidak punya wawasan yang cukup untuk menjelaskan hal itu.

Karena itu, tidak jarang kita menyaksikan orang-orang yang keliru dalam mendefinisikan suatu istilah, dan sebabnya bukan karena mereka tidak tahu kaidah, tapi karena mereka tidak memiliki wawasan yang cukup tentang hal-hal terkait dengan istilah yang hendak mereka definisikan itu.

Ini salah satu sebab yang sering kita jumpai. Tapi, selain itu, ada juga sebab-sebab lain. Di antaranya ialah sebagai berikut:

Pertama, tidak memerhatikan kaidah. Saya kira sebab ini sangat jelas. Orang yang tidak mengindahkan kaidah dan syarat-syarat yang sudah kita terangkan sudah pasti akan jatuh dalam kesalahan dan kekeliruan.

Bisa saja seseorang itu pakar dalam bidang tertentu. Tapi kalau dia tidak mempelajari kaidah dengan benar, maka definisi yang dikemukakan pun kemungkinan besar tidak akan tepat.

Masalahnya tidak hanya sampai di situ. Dari definisi yang keliru ini akan muncul suatu hukum atau kesimpulan yang juga keliru. Persoalan akan bertambah parah ketika kesimpulan keliru—yang dihasilkan dari definisi yang keliru ini—dipandang sebagai sebuah putusan final yang mahabenar dan tak terbantahkan.

Kekeliruan semacam itu sering terjadi ketika kita mendefinisikan sesuatu tanpa memerhatikan kaidah dengan benar. Orang yang tidak mengindahkan kaidah ini ada tiga kemungkinan. Satu, sama sekali tidak tahu. Dua, tahu tapi tidak mempraktekkan. Tiga, tahu, mempraktekkan, tapi hasil prakteknya salah.

Masing-masing dari kita—tak terkecuali yang mempelajari ilmu mantik—sangat berpotensi untuk terjebak dalam tiga kemungkinan di atas. Karena itu, kaidah-kaidah yang sudah kita terangkan perlu dipelajari lagi secara mendalam. Setidaknya agar kita mampu meminimalisir kesalahan.  

Kedua, kesalahan dalam menentukan jins. Ini banyak terjadi. Di antara contoh kesalahan itu ialah sebagai berikut:

  • Menjadikan makna lazim dari sesuatu sebagai jins. Padahal, makna lazim itu bukan bagian dari esensi sesuatu itu. Sedangkan jins harus mampu menerjemahkan separuh dari esensi sesuatu. Contoh: Manusia didefinisikan sebagai wujud yang berpikir. Dalam definisi ini wujud menjadi jins. Padahal dia bukan bagian dari esensi manusia. Makna wujud itu memang menyertai manusia (lazim lil insan), tapi dia bukan bagian dari esensi manusia (mahiyyat al-Insan). Kekeliruan ini biasanya disebabkan dari ketidakmampuan dalam membedakan mana yang membentuk esensi sesuatu, dan mana yang tidak. Makna yang menyertai sesuatu itu tidak selamanya membentuk esensi, karena itu ia tidak bisa diposisikan sebagai jins (genus).

  • Memposisikan fashl sebagai jins. Artinya fashl diletakkan sebagai jins sehingga posisinya menjadi terbalik. Padahal, dalam rangkaian ta’rif bilhadd, fashl itu harus diletakkan setelah jins. Bukan dibalik. Ketika dibalik maka definisinya pun menjadi cacat. Contoh: Rindu itu ialah “berlebihnya rasa cinta”. Di mana letak kesalahan definisi ini? Perhatikan. Kata “berlebih” itu ialah atribut yang seharusnya dijadikan sebagai pembeda atau fashl, yang biasanya dirangkai setelah jins, yang dalam hal ini adalah cinta. Harusnya, rindu itu diartikan sebagai rasa cinta yang berlebih. Bukan dibalik. Karena fashl itu harusnya diletakkan setelah jins.

  • Memposisikan nau’ sebagai jins. Misalnya keburukan diartikan sebagai “kezaliman terhadap orang lain”. Padahal, kezaliman itu sendiri merupakan salah satu macam keburukan. Artinya keburukan itu lebih umum ketimbang kezaliman. Dan kezaliman berada di bawahnya. Karena itu, ia tidak mungkin diposisikan sebagai jins. Karena jins itu harus berada di atas kata yang didefinisikan, bukan di bawah.

  • Menjadikan materi pembentuk sesuatu sebagai jins. Contoh: pedang itu adalah besi yang berfungsi untuk membunuh lawan, ketimbang diartikan, pedang itu ialah “alat yang berfungsi untuk membunuh lawan.” Di mana letak kesalahan definisi ini? Kesalahannya jelas: Dia menjadikan materi pembentuk pedang, yang dalam hal ini besi, sebagai jins atau kata universal yang menjelaskan esensinya. Padahal besi ini bukan esensi pedang. Separuh dari esensi pedang itu adalah alat. Bukan besi. Meskipun pedang itu terbuat dari besi.

Ketiga, kesalahan dalam menentukan fashl. Dan ini sangat sering terjadi. Misalnya dengan memposisikan khasshah—yang merupakan aksiden—sebagai fashl. Padahal khasshah ini berada di luar esensi, sementara fashl merupakan bagian dari esensi, bahkan dia yang membentuk esensi itu sendiri.

Contoh: Orang Eropa itu adalah orang yang berkulit putih.

Di mata letak kesalahan definisi ini? Letak kesalahannya adalah: Dia menjadikan sifat putih sebagai esensi dari orang Eropa. Padahal putih itu bukan esensi, melainkan hanya aksiden. Artinya, kalaupun orang Eropa itu tidak berkulit putih, selama dia lahir dan bermukim di kawasan Eropa, maka dia adalah orang Eropa.

Begitu juga dengan definisi: Orang Afrika itu adalah orang yang berkulit hitam. Ini juga keliru. Karena dia menjadikan kekhususan sesuatu—yang merupakan aksiden—sebagai bagian dari esensi sesuatu itu sendiri.     

Kesalahan semacam ini biasanya timbul dari ketidakmampuan dalam membedakan fashl dengan khasshah itu sendiri. Uraian mengenai hal ini pernah kita jelaskan dalam salah satu tulisan sebelumnya.

Memang agak susah. Tapi, kalau mau lebih disederhanakan lagi, fashl dan khasshah itu bedanya simpel, yang pertama membentuk esensi sesuatu, sedangkan yang kedua ini hanya berupa kekhususan saja.

Contohnya seperti berpikir dan tertawa bagi manusia, yang sudah berkali-kali kita jadikan sebagai contoh. Berpikir ini membentuk esensi manusia sehingga kalau dia tidak ada, maka sebuah makhluk itu tidak bisa kita katakan sebagai manusia.

Tapi tertawa ini juga hanya dimilikinya oleh manusia. Hanya saja dia tidak membentuk esensi sehingga kalau dia tidak ada, maka manusia masih dikatakan sebagai manusia, selama dia berjenis hewan, dan selama dia memiliki potensi berpikir.

Inilah beberapa sebab kekeliruan yang sering dialami oleh banyak orang pada umumnya ketika merangkai sebuah definisi. Sebagai bagian dari praktek, pada tulisan selanjutnya kita akan mendiskusikan satu atau dua istilah populer yang selama ini kerap didefinisikan secara keliru oleh beberapa kalangan. Apa saja istilah itu? Simak ulasannya dalam tulisan mendatang. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.