Bagi kita yang pernah bepergian cukup jauh dengan mengendarai motor ataupun mobil dan menempuh waktu berjam-jam (paling tidak 3-4 jam-an), seyogyanya kita harus bersyukur dengan adanya rumah makan yang biasanya berjejer rapi di pinggir jalan raya. Tanpa keberadaannya, sulit dibayangkan bagaimana nasib kita di tengah perjalanan menuju ke tempat tujuan.

Sebab, dengan perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu sangat mustahil bagi kita tidak memiliki keinginan untuk beristirahat sejenak, makan, minum, ngerokok, ngopi, ataupun ngeteh. Maka dalam keadaan seperti itu, tempat yang paling tepat untuk kita singgahi hanyalah rumah makan, selain rumah keluarga dan kerabat tentunya.

Karenanya, bukan pemandangan asing lagi saat di tengah perjalanan jauh kita jumpai sederetan rumah makan yang berbaris rapi di pinggir jalan raya. Dan dari setiap rumah makan itu semuanya memiliki karakter masing-masing.

Mulai dari namanya yang unik-unik, ciri khas masakannya, hingga daftar menu makanan yang disediakannya. Semuanya dengan segera akan kita tahu saat mampir ke sana.

Namun terlepas dari itu semua, sebagai orang yang lidahnya cukup sering mencicipi makanan-makanan warung di banyak tempat, entah itu saat melakukan perjalanan jauh, ditraktir teman, mentraktir teman karena sudah berjanji, ataupun dipaksa gebetan untuk makan berdua, tak jarang beberapa perilaku menjengkelkan yang ditunjukkan para penjualnya sering saya temui, utamanya saat mereka melayani para pembeli.

#1 Tidak Menyapa Pemebeli

Kita sebagai masyarakat +62 tentu tidak asing lagi dengan tradisi saling sapa, yang umumnya dilakukan dengan cara tersenyum terhadap seseorang. 

Jika kita keluar dari rumah atau kamar kita misalnya, lalu di jalan kita berpapasan dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal sekalipun, kemungkinan besarnya dia akan menyapa kita dengan senyuman. Dan untuk menghormati, kita pun kemudian akan membalasnya dengan sikap yang sama.

Namun anehnya tradisi tersebut tidak saya jumpai di sebagian rumah makan yang pernah saya kunjungi di sejumlah tempat. Bukan pada diri para pengunjung, melainkan pada penjualnya. Yang paling sering sih jika penjualnya laki-laki. Entah, padahal mereka juga adalah asli warga +62. 

Seperti pernah saat saya mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi perut yang sedang keroncongan. Alih-alih saya disambut riang oleh penjualnya karena sudah datang berkunjung sebagaimana yang biasanya dilakukan para karyawan di banyak supermarket (sekalipun sebenarnya hanya basa-basi saja), penjualnya malah bersikap super cuek sama saya.

Padahal tidak ada masalah yang terjadi antara saya dengan penjualnya. Lha, kenal juga belum. Alih-alih tersenyum, berbicara sepatah katapun juga tidak. Bahkan saat saya memanggil-manggil "mas...mas...pesan nasi gorengnya mas!" juga tidak digubris olehnya. 

Sampai-sampai saat itu saya jadi ingin memukul hingga pecah kaca lemari yang ada di rumah makan tersebut. Sumpah, benar-benar menjengkelkan!

#2 Lupa dengan Pesanan Pembeli

Seumur-umur saya belum pernah dilupakan oleh teman, sahabat, bahkan mantan (ya iyalah, kan saya nggak punya mantan. Wong saya setia kok. Hehehehe). Teman saya waktu TK juga masih banyak yang ingat sama saya, padahal sudah lama tidak bertemu. Tapi tidak untuk sebagian penjual makanan yang ada di sejumlah rumah makan yang pernah saya kunjungi. Hanya mereka yang sukses membuat saya jadi merasa terlupakan.

Pasalnya, bisa-bisanya mereka lupa dengan makanan yang sudah saya pesan. Padahal sewaktu saya memesannya, wujud saya yang masih berbentuk materi murni ini nampak begitu jelas di mata mereka. Sehingga sangat tidak masuk akal jika alasannya karena mereka tidak menyadari keberadaan saya.

Ya, Kejadian tersebut sering kali saya alami saat mampir ke sebuah rumah makan. Sudah capek-capek mengantri, disuruh menunggu, eh tahu-tahunya malah dilupakan. Jengkel nggak tuh? Ya jengkel lah! Namun saya tidak sendiri, sebab tidak jarang saya jumpai pengunjung yang lainnya juga mengalami hal yang sama.

Bahkan ada yang sampai marah-marah segala hingga baku cekcok dengan penjualnya. Sehingga tidak sedikit dari rumah makan yang pernah saya kunjungi tiba-tiba berubah menjadi tempat yang penuh dengan ketegangan. Sungguh sebuah kehidupan yang penuh dengan drama. 

Bagaimana tidak, bahkan untuk sekadar mengisi perut saja psikologi kita terlebih dahulu meski harus dikocok-kocok segala dengan suatu persoalan. Alamak!

#3 Diam dan Bermuka Masam di Depan Pembeli

Menurut saya, salah satu perilaku menjengkelkan yang juga sering ditunjukkan sebagian penjual makanan yang pernah saya temui saat melayani pembeli adalah bermuka masam di depan pembeli sembari diam dengan seribu bahasa. Membayangkannya saja sudah bikin emosi boss!

Bukan apa-apa, kita sebagai pembeli tentunya juga sangat ingin mendapat perlakuan hangat dari mereka. Pembeli adalah layaknya seorang tamu yang harus dilayani dengan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya oleh si penjual.

Coba bayangkan saat kita bertamu ke rumah seseorang misalnya, namun si tuan rumah malah tidak berbicara apapun sama kita, bahkan tersenyum pun juga tidak, alih-alih menyuguhkan makanan dan minuman! Dan itu terjadi sampai kita hendak ingin pulang. Kebayang nggak tuh betapa canggungnya kita sebagai tamu?

Demikian halnya yang dirasakan para pembeli yang akan sangat merasa tidak dihargai, bahkan merasa tidak dianggap apa-apa saat mendapat perlakuan yang seperti itu dari si penjual. Jadinya kita sebagai pembeli tidak lagi hanya menderita secara biologis (lapar), tapi juga secara psikologis (emosi).

Jujur saja, setiap kali saya mendapati "jenis" penjual makanan seperti itu, kerap kali saya bergumam dalam hati "Ini penjual kok kayak nggak ikhlas banget melakukan pekerjaannya." Kalau ada masalah pribadi jangan dilampiaskan ke pembeli dong! 

Kalaupun misalnya sikap ramah tamah yang kalian tunjukkan hanya sekadar basa-basi saja itu sebenarnya tidak jadi masalah. Karena paling tidak kita sebagai pembeli merasa dihargai dan dilayani dengan baik. Dan kita pun juga pastinya akan bersikap yang sama terhadap kalian.

Masa iya cuma pembeli saja yang senyum-senyum lebar sedangkan penjualnya hanya memasang muka masam. Kan nggak adil toh boss!

Sejatinya, baik penjual ataupun pembeli keduanya sama-sama berhak untuk dihargai dan sama-sama berkewajiban untuk menghargai. Jika hal yang mendasar ini sudah dipahami dengan baik oleh keduanya (penjual dan pembeli), maka proses berlangsungnya transaksi akan berjalan dengan lancar, tanpa ada satupun pihak yang merasa dirugikan.

Jika guru yang sukses adalah ia yang muridnya mampu menandinginya, maka penjual makanan yang sukses adalah ia yang mampu membuat pembelinya merasa puas dan kenyang. Iya kan? Iya.