Serial Indonesia My Lecturer My Husband sering disebut-sebut sebagai serial Indonesia rasa Korea. Mungkin karena drama ini cukup singkat, tidak seperti sinetron yang tayang di channel televisi lokal yang bisa tayang hingga ratusan episode. Namun, bagi saya, setelah menonton serial ini, jumlah episode yang pendek ternyata tidak bisa dijadikan patokan jika serial ini seberkualitas drakor.

Beberapa alasan menurut saya yang membuat serial MLMH ini tidak seperti drama Korea saya tulis di bawah ini.

Alasan nomor satu, Inggit merupakan anak orang kaya yang  kerja part time di cafe.

Sebagai anak orang kaya raya di Jogja dan kemudian kuliah di Jakarta, Inggit itu masih mau-maunya kerja part time di cafe. Jika di drama Korea mahasiswa yang kerja part time itu ya mahasiswa yang butuh uang, atau setidaknya mahasiswa ini  berasal dari kalangan menengah hingga ke bawah. Yang jelas, kerja part time di cafe itu  bukan untuk gaya-gayaan tapi memang butuh  uang.

Di beberapa drakor sering digambarkan si tokoh yang mahasiswa yang harus kerja part time ini, kesulitan dalam keuangan. Misal di My Id is Gangnam Beauty, kita ketemu Soo Ah, peran antagonis  di drama ini yang harus kerja part time di cafe milik temannya mahasiswa yang kaya. Dia mengaku sebagai anak orang kaya tapi beberapa temannya bertanya-tanya kenapa juga Soo Ah harus kerja part time kalo udah kaya.

Setelah ditelusuri, ternyata dia berbohong tentang dia yang bersal dari keluarga kaya. Soo Ah ini berasal dari keluarga  biasa bahkan dia  dibesarkan oleh neneknya seorang diri yang berasal dari desa, maksudnya bukan dari Seoul. Dia sendiri harus tinggal di apartemen kecil yang tidak ada mewah-mewahnya sama sekali. Tempat tinggalnya pun masuk ke dalam gang sempit.

Jadi jelas si Inggit kerja part time ini sungguh mencengangkan akal sehat. Dengan punya rumah sendiri di Jakarta sebesar rumah yang bisa dihuni satu keluarga besar plus ada kolam renangnya pula, jelaslah Inggit tidak ada masalah keuangan. Rumah orang tuanya yang di Jogja juga tak kalah besarnya. Lalu untuk apa Inggit bekerja di cafe segala?

Kalau Inggit ini sudah kaya kenapa waktu senggangnya tidak dipakai buat aktif di organisasi kampus misal. Atau bisa juga aktif di kegiatan sosial. Ya kalau mau mengembangkan ketrampilan kapitalisnya Inggit harusnya lebih kreatif lagi.

 Dengan kekayaan orang tuanya bisalah minta modal untuk membuat perusahaan start up, lalu mengajak temen-temennya untuk terlibat. Kalau saja cerita dibuat seperti ini justru semakin mendekati rasa Korea, ya kan?

Alasan kedua, pak Arya memasak daging barbeque.

Scene yang  juga jauh dari rasa Korea menurut saya adalah saat pak Arya, tentu sudah jadi suaminya Inggit, memasak daging barbeque di rumah. Oh ini jelas jauh sekali dengan rasa drama Korea.

Setelah menikah yang tiba-tiba itu, pak Arya tinggal di rumahnya Inggit. Di awal-awal kehidupan pernikahan, pak Arya memasak daging barbeque untuk dimakan  berdua pastinya. Pertanyaannya dari mana dapat bahan makanan?

Bagi penonton drakor tidak asing lagi jika seorang penghuni rumah yang sendiri itu tidak punya bahan makanan di dapur bahkan alat masak saja tidak lengkap. Gaya hidup minimalis ala masyarakat urban begitu terasa di drama Korea. Nah saking minimalisnya, di drakor kita sering melihat rumah itu perabotnya sedikit, apalagi untuk ditinggali satu orang.

Nah saat pak Arya masak daging, pertanyaan yang berkelabat di kepala saya, ini apa bahan masakan sudah komplit untuk rumah yang ditinggali oleh satu orang? Kenapa juga saat mereka kembali dari Jogja, orang tua Inggit tidak membawakan bahan makanan?

Atau kenapa tidak dibuay masak Indomi apa mi Sedap saja kan? Ini bisa sekalian promosi produk makanan dalam negeri seperti di beberapa drakor. Jika scene dibuat misal orang tua Inggit membawakan sekarung beras dan bahan lauk pauk mungkin ceritanya bisalah lebih saya tangkap.

Eh ya tapi saya lupa, Inggit kan anak orang kaya raya ya. Maka logika bahan makanan sudah komplit tiada tara itu ya logis saja sepertinya.

Alasan ketiga, tidak ada rak buku yang penuh dengan buku.

Di drakor, kita akan terbiasa disuguhkan tempat yang selalu tersedia rak buku yang penuh buku. Tidak hanya di rumah, bahkan di cafe maupun rumah makan.

Nah, di MLMH ini saya  tidak menemui setiap sudut tempat ada buku-bukunya. Padahal, pak Arya ini berprofesi sebagai akademisi, akan tetapi tumpukan buku atau  rak penuh buku tak terlihat di serial ini.

Dari alasan-alasan tersebut saya meyakini bahwa serial  ini tidak  bisa dikatakan serial Indonesia rasa drama Korea dan masih sulit dikatakan seberkualitas drama Korea.