Pelajar
3 minggu lalu · 123 view · 14 min baca menit baca · Cerpen 50527_32401.jpg

Beban Moral

   Aku akhirnya bisa menyapamu di tengah udara dingin. Sebuah pekarangan kosong tak berpenghuni. Kalau kamu tahu ini pertama kalinya aku datang ke sini, maaf baru bisa menyempatkan diri sekarang. Sepertinya aku terlalu sibuk belakangan ini, tapi jangan kuatir, sudah kuletakkan bunga favoritmu di atas rumah, sebagai permohonan maaf dari orang yang sudah membuatmu sangat menderita.

   Aku tahu mungkin kau tak akan bisa lagi menyambutmu di pintu rumah seperti sedia kala, sayang. Tetapi, izinkan diriku kembali menceritakan kejadian itu, kejadian pengubah hidup selamanya—bisa dibilang.

   Semuanya dimulai sore hari itu, saat aku mulai merapikan barang dagangan di tengah sepinya kawasan pinggiran kota.

“Hei! Kau sedang apa?” si teman urakanku baru saja kembali, entah dari mana  datangnya, aku tak peduli. Dengan santainya melenggang menggerakkan tangan kanannya mengacak dagangan, sambil jari kirinya mengapit sebatang rokok.

“Balak! Jangan mengacak-acak barangku! Kau kan tahu bahwa aku paling benci barang dagangan berantakan. Kenapa melakukan hal yang tidak penting begini?” kataku dengan segenap emosi yang sudah terkumpul sejak tadi. Tangan mengepal terlipat ke belakang agar tidak terhantam ke wajah Balak.

“Santai saja, Bung. Tadi aku mencari korek api berjam-jam tapi belum ketemu juga.” ia mengusap belakang kepalanya seolah tidak punya salah apa-apa, membuatku semakin emosi karenanya.

“Ya ampun! Sudah tahu aku tidak merokok, masih saja mencari korek api di sini. Lagi pula kompor ini dijalankan dengan bahan bakar gas. Mana ada korek api di sini. Kalau kau lebih cerdas sedikit saja, harusnya kaunyalakan saja kompor itu!” Aku hanya bisa menepuk dahi mendengar alasan konyolnya. Bagaimana mungkin dia bisa lupa dengan hal-hal remeh? Benar-benar aneh nan sulit ditebak, bukan?

   Saat itu matahari masih berada di  ambang kejatuhan, belum menampakkan satu pun tanda bahwa ia akan pergi, namun cukup mengindikasikan bahwa sebentar lagi langit akan gelap. Oh, andai saja aku bisa mengajakmu menyaksikan pertunjukkan spektakuler dari alam ini, itu pasti membuatmu amat terhibur.

  Bukan apa-apa, kau mungkin belum tahu hal ini, jadi aku akan bilang padamu, bahwa: biasanya kios hanya ramai ketika malam tiba. Jadi, aku masih punya waktu mengajakmu jalan-jalan ke jembatan untuk menengok matahari terbenam, sekadar mengobati rasa letih setelah seharian beraktivitas.

   Dan sekarang, karena beberapa alasan yang kau sendiri sudah tahu, hal itu tak akan pernah terjadi. Balak memang begitu, selalu membuat repot, dan meski tingkahnya menyebalkan, kau akan senang bertemu dengannya—kalau saja aku bisa melakukannya (juga). Dia adalah pria besar dengan tato di lengan kirinya, tampangnya sangar seperti halnya preman pasar, tapi dia sangat humoris dan setia kawan. Bukankah kau suka orang humoris?.

   Dia tak pernah lelah melakukan hal mengesalkan, kau tahu? Selalu saja ada tingkah payah yang harus kumarahi agar dia bisa berbenah, tiap kali kumarahi dia selalu menyengir sambil bilang, “iya, dasar cerewet”. Walau pun begitu, dari sekian banyak temanku di perantauan, Balak adalah orang paling berjasa. Kau mungkin ingin aku menceritakannya, sayang? Jangan, tidak perlu meminta, akan kuceritakan nanti.

   Selain menjadi penjual makanan manis lezat, kedai ini juga merangkap jadi tempat untuk menceritakan semua masalah orang-orang setempat. Biasanya ketika sedang sepi, banyak orang datang ke mari hanya untuk bertukar pikiran, mengobrol santai tentang permasalahan hidup klasik. Sudah menjadi kebiasaan, setiap berkumpul sambil menikmati camilan, mengobrol di bawah pohon besar nan asri. Karena itu pula kopi tersedia di kedai sederhanaku sebagai teman untuk mengobrol, bahkan kadang kami mengadakan menonton bareng pertandingan sepak bola di sini.

   Ada mitos yang mengatakan bahwa jika tidak menonton pertunjukkan wayang hingga selesai maka salah satu dari mereka akan menghantuimu selamanya, selama bernyawa, sampai kau binasa. Itu mengerikan, apalagi jika melihat bahwa di pinggiran kota seperti ini jalanan selalu sepi setiap malam tanpa lampu penerangan. Itulah sebabnya orang-orang di sini selalu menontonnya hingga selesai untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 

Ah sudah, kita tidak ingin membuat kisah ini tidak relevan, dan aku rasa kau bukanlah orang yang suka dengan hal-hal mistis. Asal tahu saja, jangan pernah menceritakan kisah mistis tidak baik dilakukan di tempat angker seperti bawah pohon beringin, apalagi matahari mulai kembali ke ufuk.

“Bang! Pesan kopi susu dua cangkir.” Seseorang berambut panjang baru saja membuatku terkena serangan jantung. Kaget setengah mati aku dibuatnya.

“Baik, Bang. Silakan tunggu.”

“Kudengar skandal terbaru di desa ini.“ ujar seseorang pria gondrong dengan penuh semangat.

   Detik-detik setelah itu aku tak terlalu mendengarkan, karena ... aku akan mengajarkan etika ini kepadamu; tidak sopan menguping pembicaraan orang—bahkan jika ia tak mengenalmu. Jangan sampai kau melakukan itu, pokoknya aku tak mau.

   Jadi akan kupotong saja sampai bagian di mana aku mulai menagih uang kopi kepada mereka, saat mulai melangkahkan kaki menuju meja kotak, tempatku biasa menaruh kopi pesanan rasanya ada sesuatu hal buruk menimpaku, entah cuma kebetulan, ah itu hanya perasaanku.

“Maaf?” katanya, sambil mengacungkan pisau dapur mengkilap ke arah leherku, saat kata itu terucap aku tahu maksudnya bukan permintaan maaf, itu adalah sebuah ancaman untuk mendapat uang hasil kerja kerasku serta meminta kopi gratis. Tapi kali ini entah aku harus tertawa atau ketakutan dibuatnya, pasalnya warung baru buka, jadi belum ada pemasukan untuk “uang keamanan”.

   Meh, baru saja mereka membicarakan kesalahan orang lain, ternyata sudah berani bermain di luar batas kewajaran dengan meminta sesuatu yang bukan hak mereka secara paksa. Mungkin sudah terlambat untuk mengatakan bahwa beberapa saat lalu membicara “kesalahan” orang lain dengan penuh semangat, sekarang mereka malah menjadi pelaku kejahatan dengan semangat serupa. Sungguh ironi, aku bahkan tak percaya ada manusia jenis ini di dunia.

“Cepat berikan! Aku tahu kau mengerti maksudku,” ia membentak seolah sedang meminta makanan di meja makan lantaran sudah tidak makan selama berhari-hari, namun bedanya, kali ini jauh dari itu.

“Pergilah! Ini wilayahku!” Balak tiba-tiba datang dengan menenteng sebilah golok di tangannya, berkata dengan datar namun sangat mengintimidasi.

Pelan-pelan ia menarik golok dari sarungnya hingga membuat suasana sedikit mencekam, ditambah dengan semilir angin senja yang membuat kulit merinding, adrenalin terpacu begitu cepat. Aku hanya berharap si preman kemarin sore ini segera pergi dan menyingkirkan pisaunya dari leherku. Andai saja semudah itu.

   Selang beberapa menit, setiap detik terasa berjam-jam menunggu di bawah tekanan. Setiap detiknya terasa tertusuk pisau tajam di depan mataku, menunggu untuk tertusuk membunuhku.

   Kendati Balak sudah hampir mengeluarkan seluruh golok dari sarungnya, sialnya pisau itu masih juga menempel di sana, di leherku. Kalau kau ingin bertanya seperti apa rasanya, akan kujawab: rasanya sangat mengerikan, lebih mengerikan daripada saat ibumu datang padaku untuk memberitahu bahwa uang bulanan hampir habis.

“Bruk!” Balak tanpa diduga menendang perut bagian samping si preman gondrong hingga membuatnya mengaduh kesakitan.

   Temannya tak bisa berbuat banyak, ia malah lari ketakutan. Dia, barangkali hanya sesosok figuran yang menemani pemeran asli dalam pertunjukan drama akhir sekolah.

   Dan sebelum kau bertanya lagi, sayang. Itu bukan kejadian yang mengubah segalanya, sama sekali tidak, itu tidak ada apa-apanya, malah. Kau lihat langit biru itu? Dahulu ketika semuanya berjalan dengan baik-baik saja, namun rasanya sekarang dunia sudah berputar 180 derajat. Dalam beberapa momen lagi, anomali akan terjadi, langit berubah kelabu, semua hal berubah sejak saat itu. Jadi, pastikan untuk menyimak dengan baik bagian ini.

“Apa kedaimu sudah buka?” seorang wanita berbaju cokelat moka datang sepuluh menit kemudian, ia memarkirkan motornya di depan gerobak kemudian duduk manis.

“Maaf, Bu. Sepertinya aku masih belum buka, gerobak ini harus dibereskan dulu sebelumnya.” Ujarku, berusaha menutupi kegelisahan akibat masih syok setelah mengalami kejadian barusan.

“Aku tidak keberatan menunggu.” ia duduk di sebuah kursi plastik berwarna hijau yang sebelumnya sudah kusiapkan.

   Dengan sigap aku membersihkan cetakan yang sudah panas dengan serbet putih bergaris-garis, lalu tertuangkanlah adonan kental berwarna putih itu, setelah cukup lama kutaburi gula pasir putih yang manis. Setelah matang langsung kuangkat dan masukkan beberapa topping andalan yang biasa diminta Ibu Gris—pelanggan setia martabak manisku. Ya, tepat sekali tebakanmu, aku telah mengenalnya sebelum memutuskan untuk berjualan martabak.

“Ini, Bu. Maaf menunggu lama.” Aku menyodorkan plastik putih martabak dengan senyum penuh keramahan.

“Oh, tidak masalah,” ujarnya, membalas senyumku, menerima martabak yang kusodorkan.

   Malam harinya, cuaca mendung sekali, seperti akan hujan deras melanda wilayah ini. Aku hanya bisa diam dan menyeruput secangkir kopi di bawah pohon rindang yang sudah menjadi pangkalanku sejak lima tahun terakhir. Tidak ada tempat perlindungan memadai selain sebuah terpal biru tua untuk melindungi diri dari tetes hujan. Itu cukup, aku yakin cuaca semendung itu hanya sebuah gertakan.

   Ah, lupakan bagian di mana aku menyebut bahwa langit mendung hanya sebuah gertakan dari alam, itu sedikit keliru, kadang alam adalah pertanda. Lagi-lagi, sayang, itu mitos, tapi kali ini ada hubungannya dengan kisah ini—tapi karena aku tahu kau akan bosan mendengar tentang mitos, jadi akan kulewatkan bagian mitosnya.

   Kau mungkin akan menagih janjiku menceritakan tentang sahabatku—Balak? Baiklah, akan kuceritakan.

   Sejak memutuskan untuk merantau ke kota, orang yang kutemui adalah Balak, aku sudah bilang di awal. Walau dia punya kepribadian urakan, tapi setidaknya dia teman yang baik. Dia dulu membantuku membuat gerobak ini, entah dengan cara apa orang seperti dia bisa membuatnya, aku tak peduli atau tak peduli? Itu kenangan manis di antara sederet kenangan buruk saat bersamanya.

   Sekarang dia entah ke mana malam-malam begini, kelihatannya dia sedang berjalan-jalan untuk mencari setoran dan mengontrol wilayahnya dari “orang-orang jahat”—sebenarnya aku bingung harus memakai kata apa, masalahnya jika menjadi preman adalah kejahatan maka Balak bukan saja jahat, dialah bosnya.

   Aku mohon jangan menghakiminya karena itu, Putriku. Terkadang Balak memang seperti berandal jalanan, namun bukanlah kapasitas kita untuk menilai baik atau buruk. Selain itu, oh ya; sebelum melanjutkan cerita ini, izinkan Ayah meneguk air dari botol ini sebentar saja. Bagian berikutnya mungkin adalah bagian inti—akar semua permasalahan.

   Balak temanku, dia bukanlah orang seperti itu, dia—walau pun menyebalkan kadang-kadang, seperti yang kuceritakan tadi—adalah orang yang pertama kali membantu ayah dan ibu sewaktu pertama kali datang ke kota ini. Kota yang konon akan menjadi saksi bisu peristiwa itu.

“Oh iya, Dasa. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, tapi ini masalah pribadi. Jadi, bisakah kamu datang ke rumahku pagi ini?” Bu Gris tiba-tiba bermuram durja, seperti baru disambar petir di siang bolong. Kuharap masalah yang ia bicarakan tidak begitu buruk, biar bagaimana pun tidak ada seorang pedagang pun yang ingin pelanggan setianya bersedih? Lagi pula, aneh sekali ia datang malam-malam di tengah cuaca hampir badai begini bukan?.

“Soal apa, Bu?” tanyaku, mencoba sedikit bersimpati.

“Anakku, Boni. Ia selalu murung.” Bu Gris menghela nafas panjang. “Teman-temannya selalu menanyakan di mana ayahnya, bahkan tak jarang anak-anak nakal merisaknya. Itu membuat Boni sangat sedih, padahal aku sudah coba meyakinkannya  bahwa ayah sedang bekerja mencari nafkah untuk bekal kami makan.”

   Saat itu aku melamun, mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu masalahnya, Balak datang dan lagi-lagi hendak mengacak-acak daganganku.

   Benar-benar sulit ditebak? Itu hanya salah satu tingkahnya yang abstrak. Percaya padaku.

“Balak, bisakah kau menjaga kios ini sebentar, aku punya masalah harus ditangani sekarang juga.” Kataku, mengabaikan tingkah lakunya yang tidak mengherankan itu.

“Tapi aku ....” dia kelihatan keberatan, namun tak ada waktu bernegosiasi.

“Baiklah, terima kasih.” Aku langsung pergi menstater motor bebek keluaran lama dengan buru-buru, diikuti Bu Gris yang menumpang di belakang. Tanpa sedikit pun memikirkan jawaban balak, aku tahu dia bisa diandalkan.

“Hei! Bagaimana cara membuat martabaknya? Jangan memberiku tugas yang tak bisa kulakukan.” Balak mengingatkan sesuatu yang aku dan Bu Gris lupakan.

“Lakukan ha terbaik yang kau bisa!”

   Hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke rumah Bu Gris karena memang jaraknya tidak begitu jauh.

“Itu dia, Boni sayang. Ini Dasa, dia akan menyelesaikan masalahmu.”

“Halo, Boni. Bisakah kau ceritakan apa masalahmu?”

   Boni masih duduk terdiam di atas kasurnya. Matanya memerah, kantung matanya membesar seperti sudah tak tidur berhari-hari. Ya ampun! Kasihan sekali dia, kenapa bisa sampai seperti ini?.

   Menit demi menitnya berlalu sangat lama, kami hanya bisa menunggu sambil Boni berdiam dengan wajah pucat, mata berair mengeluarkan air mata.

“Boni sayang, Kamu baik-baik saja?”

   Boni masih menatapku dengan kosong, lingkaran matanya terlihat lebam seperti sudah menangis selama berjam-jam lamanya, badannya sudah sedemikian kurus hingga aku lupa terakhir kali melihatnya.

   Hari kedua aku berkunjung, hari-hari Boni kelihatannya lebih baik dari sebelumnya, setidaknya terlihat dari matanya yang lebih hidup, lingkaran hitam matanya juga mulai hilang. Di hari pertama kemarin, aku sudah berjanji kepadanya untuk datang lagi, menghiburnya dengan dongeng sebelum tidur.

   Hari ketujuh, mulai ada perubahan berarti setelah aku menghiburnya setiap malam selama seminggu belakangan ini. Aku sengaja memindahkan jadwal berjualan martabakku lebih malam lagi demi menghiburnya dari masalah pelik menjelang dewasa.

   Dua minggu, dia mulai sering tersenyum gembira setiap kali menyambutku. Aku tahu itu adalah saat paling menggembirakan setelah 14 hari berkunjung hanya untuk memberikannya hadiah kecil untuk anak 16 tahun.

   Tiga minggu, dia masih ceria seperti biasanya, dia bilang hari-harinya sebelum malam tidak berarti selama malamnya bisa bertemu denganku.

   Sebentar lagi masuk ke minggu keempat, namun di situlah titik kritis dari cerita ini.

   Sebulan sudah aku pergi ke rumah Boni untuk menghiburnya sebisaku. Aku melihat banyak sekali surat bertumpukan di atas selimut tempat tidur, namun Boni juga tak ada di sini, sedangkan Gris, entah ke mana dia saat ini.

   Air mata meluncur deras saat memasuki kamar. Tak bisa kubayangkan kejadian mengerikan itu terjadi di depan mataku, kejadian yang kutakutkan sejak saat pertama kali Gris bilang bahwa Boni memiliki masalah. Aku merasa sangat gagal karena tak bisa menjaganya.

   Boni terkapar di samping tempat tidur berlumuran darah, tangan kirinya tersayat megeluarkan banyak darah kental. Badannya membiru, detak jantungnya tidak terdengar dalam keheningan malam sekali pun, denyut nadinya hilang. Boni sudah kehilangan banyak darah. Gris, ibunya pingsan di dekatnya, memeluk putri satu-satunya yang sudah terkapar.

  Badanku terguncang hebat, namun berusaha kutemukan kesadaran untuk menyelidiki apa yang terjadi. Dengan tangan masih gemetar aku membaca surat tak berkepala itu dengan hati-hati dan perlahan, alangkah terkejutnya ternyata surat itu berisi banyak makian dalam bahasa yang aku yakini tidak ada satu manusia pun bisa menerimanya—begitu kejamnya, tidak mungkin ada satu manusia pun bisa menulis surat sedemikian keji hingga membuat orang merasa frustrasi.

   Surat itu berisikan olok-olok serta makian bahwa Boni adalah anak hasil hubungan terlarang, mereka menghakimi Boni seolah dia adalah makhluk paling berdosa di dunia ini. Padahal, mereka tak sedikit pun mengetahui kejadiannya seperti apa.

   Tidak ada satu pun anak berhak dihakimi atas kesalahan orang tuanya, karena tidak ada satu pun dari mereka bisa memilih akan lahir dari keluarga seperti apa. Aku meyakini bahwa jika saja Boni tidak pernah menerima surat itu, atau setidaknya teman-temannya tidak menjustifikasinya dengan sebutan tidak pantas, mungkin semua ini tak pernah terjadi.

    Kebenaran kadang begitu dekat, namun terlalu rumit untuk dibuktikan, diungkapkan, atau dianggap terlalu tabu untuk diterima khalayak. Seperti hari ini, hari kelam yang mengubah hidupku selamanya. Kebenarannya adalah aku ayah yang buruk dengan membiarkan anakku lahir tanpa didampingi sesosok pahlawan yang kuceritakan di setiap sebelum dia tidur. Kebenarannya adalah: aku dan Gris, kami tidak pernah melakukan suatu hal yang dianggap buruk oleh masyarakat. 

Dulu, ketika kami masih tinggal di desa, kami melangsungkan pernikahan secara siri—tanpa ada surat nikah, atau dokumen lain sebagai bukti pernikahan kami. Singkat cerita ketika berbulan madu di sebuah hotel melati di luar desa, sialnya kami digerebek warga, dituduh melakukan hubungan di luar pernikahan. Padahal saat itu kami jauh dari rumah, posisi kami sangat sulit untuk membuktikan bahwa kami memang tidak bersalah, ditambah warga yang sudah tersulut emosi. Posisi kami benar-benar sulit pada saat itu.

   Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian berita bohong itu mulai tersebar ke mana-mana, warga mulai marah dan mengusir kami. Itu benar-benar buruk. Ditambah lagi, Gris mengatakan ia positif hamil, kami benar-benar dituntut untuk berpikir keras, keadaan genting memaksa.

   Lalu aku dan Gris memutuskan untuk merantau ke kota dan merahasiakan semuanya. Bahkan di kota ini, hanya ada satu orang selain Gris yang bisa kupercaya, dia mau membantu kami ketika kami ceritakan semuanya, dia tidak menghakimi soal kesalahan fatal untuk menikah tanpa dokumen pernikahan. Saat kami ceritakan semuanya, dia hanya percaya dan mau membantu. 

Dia bukanlah seorang moralis, dia bahkan tidak tahu apa itu moral saat bertanya kepadanya, dia hanya tahu apa itu membantu sesama. Dan saat aku bertanya, “kenapa kau menjadi preman, bukan pekerjaan lain?” dia menjawab dengan cengengesan, seperti tidak serius menjawabnya “Bang,”—aku ingat betul saat pertama kali dia memanggilku dengan sebutan itu “kalau aku tidak jadi preman, nanti akan banyak preman-preman pasar kemari memalak pedagang dengan paksaan. 

Mereka itu tidak peduli pada keamanan pasar yang terancam, mereka cuma mau uang ...” aku masih mengingat kalimat itu, kalimat yang mengingatkanku pada kenangan pahit harus “terusir” hanya karena tuduhan tak berdasar, kalimat yang selalu mengingatkanku betapa terbalik dan rancunya standarku terhadap baik dan buruk dahulu.

   Malam itu, aku—bukan, bukan aku, tapi anakku yang malang harus membayar mahal semua rahasia yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

  Kebenarannya, selama ini kusembunyikan karena aku tak mau Boni sampai dihakimi.

   Kau tahu Boni, maaf belum sempat memberitahukan semua kebenaran ini. Cerita tentangmu ini akan menjadi pelajaran berharga bagi Ayah, agar lebih bisa melihat situasi dengan lebih realistis lagi.

Aku tahu kau tak bisa mendengarku lagi, Nak. Tetapi sebagai seorang ayah, aku harus menceritakan semuanya kepadamu—walau pun sudah terlambat. Aku harap tidak akan ada lagi yang mengganggumu di alam sana.

    Hari sudah senja, aku harus kembali ke rumah untuk menenangkan ibumu. Maaf telah mengecewakanmu, anakku. Aku berjanji akan berkunjung setiap minggu untuk mengantar bunga kesukaanmu.

   Kemudian aku meninggalkan rumah pertama dan terakhir Boni yang terbuat dari batu pualam. Aku hanya bisa menangis setiap kali mengunjunginya setelah pertama kalinya menceritakan kejadian tersebut. Aku benar-benar bodoh dalam mengambil keputusan.

Artikel Terkait