Sebagai seorang yang memasuki fase pradewasa, apalagi berjenis kelamin jantan, aku tentu mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis, khususnya dalam hal bersenggama. Walaupun pada fase ABG manusia sudah mampu untuk saling tertarik terhadap lawan jenis, mereka belum benar-benar mengerti konsep bersenggama.

Bahkan jika saja tidak terdapat akses untuk memasuki web-web porno, meskipun para ABG merasakan hasrat untuk bersenggama, mereka tidak akan mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Dengan begitu, mereka tidak akan tahu cara melampiaskan hasratnya. Itulah sebab adanya mimpi basah.

Eits, jangan mengira hanya lelaki saja yang mimpi basah. Perempuan pun dapat mengalami mimpi basah. Mimpi basah terjadi akibat rangsangan terhadap organ vital.

Walaupun tanpa menonton adegan seks atau memikirkannya saat sebelum tidur, rangsangan tersebut masih tetap ada. Mekanismenya dimulai ketika kuantitas aliran darah meningkat pada area pelvis (panggul) setelah 60 - 90 menit tertidur. (Dian Septi Arthasalina, Mimpi Basah Pada Wanita Ternyata Bisa Lho, Begini Penjelasannya!, IDN Times, 11 Februari 2019)

Sempat terpikir olehku sebuah pertanyaan yang kutujukan sebagai dukungan atas ketertarikanku terhadap persenggamaan. Apa salahnya jika kedua belah pihak saling menginginkan dan sepakat untuk melakukan persenggamaan? 

Toh memang sebuah kebutuhan biologis, kadang juga kebutuhan psikis. Kalau masalah teknis, kan, bisa dipelajari? Kalau masalah dosa, kan, bisa mengucap istighfar? Tetapi pada waktu itu aku tidak mengerti alasan agamaku menyebut bersenggama di luar nikah sebagai perbuatan keji.

Kebingunganku pada waktu itu masih tetap bertahan dalam benak, bahkan sempat terlupakan. Namun aku kembali diingatkan mengenainya ketika menonton anime yang berjudul Beastars.

Latar tempat Beastars tidak jauh berbeda dengan dunia manusia saat ini. Hanya saja lebih berfokus pada lingkungan sekolah yang berasrama. Dalam anime tersebut, peran manusia digantikan oleh hewan. Ya, para tokoh dalam anime tersebut bisa kita sebut siluman.

Dalam anime tersebut, karnivora dan herbivora mampu hidup berdampingan, karena terdapat hukum perlindungan bagi para herbivora. Mereka digambarkan sebagai masyarakat berbudaya, tetapi mereka tetap memiliki insting alamiah. 

Insting yang karenanya, mau tidak mau, hukum rantai makanan harus diakui kebenarannya. Insting yang karenanya melahirkan pasar gelap yang menjual jasad para herbivora sebagai konsumsi para karnivora untuk tujuan terciptanya kestabilan lingkungan sosial.

Hierarki yang tercipta dari hukum rantai makanan sangat kental terasa dalam dunia mereka. Walau begitu, banyak dari para herbivora yang berjuang untuk mengungguli para karnivora.

Misal, sebut saja Leouis, si rusa merah, yang terus mendisiplinkan diri agar menjadi yang terbaik di sekolahnya dan usahanya tercapai. Pejantan tersebut mampu mempertahankan diri sebagai idola dan teladan sejak awal SMA hingga saat ia telah kelas tiga SMA.

Sayang, pencapaiannya tetap tidak membuatnya mampu memenangkan perkelahian melawan para karnivora kelas atas, melawan Legosi, si serigala abu-abu.

Semua herbivora dalam anime tersebut digambarkan mirip Leouis. Akibatnya, stereotip dan perundungan terhadap karnivora tidak terelakkan, bahkan terhadap sesama herbivora. Selain itu, para pejantan herbivora mempunyai cara tambahan untuk melampiaskan ketidak-berdayaannya, yaitu dengan menggauli para betina.

Leouis bukanlah pemeran utama. Pemeran utama lelaki bernama Legosi, si serigala abu-abu. Sedangkan heroinenya bernama Haru si kelinci imut. Legosi digambarkan sebagai introvert yang pemalu. Sedangkan Haru digambarkan sebagai sosok yang tegar, karena dalam situasinya yang sulit tetap menampakkan sisi ceria.

Haru adalah kembang desa di lingkungan sekolahnya. Hanya dengan melihat judul artikel ini dan mengerti situasi sosial dalam anime Beastars, pasti mudah untuk menebak di situasi seperti apa Haru menjalani kesehariannya. 

Oh, Haru, sosok malang yang memaklumi situasinya ketika menjadi objek bancaan, digilir oleh para pejantan herbivora. Walau begitu, Haru mampu memaklumi situasi tersebut karena menyadari posisinya dalam susunan hierarki, dalam rantai makanan, sebagai spesies lemah.

Aku akan menceritakan adegan menyedihkan yang diperagakan oleh Haru. Adegan itu berlangsung saat dirinya baru menginjak kelas satu SMA. Saat itu, ia bertemu dengan Leouis yang terluka. Tanduk milik Leouis copot dan menyebabkan kepalanya mengalami pendarahan.

Dengan tangan terbuka, Haru secara tulus menawarkan bantuan. Ia meminta Leouis untuk sementara waktu menginap di kamarnya yang dikelilingi oleh kebun bunga miliknya (tentu masih dalam lingkungan sekolah).

Setelah tiga hari menginap, saat Haru merawat Leouis, wajah mereka saling bertatapan. Leouis mencoba mencium Haru.

Leouis bukanlah sosok bajingan. Buktinya, sebelum berhasil mencium Haru, ia berhenti dan meminta maaf. Sayang, Haru terbawa suasana. Dengan kerelaan, ia memberikan tubuhnya kepada Leouis.

Aktivitas tersebut berlanjut hingga tiga tahun berlalu. Namun karena perbedaan spesies, mereka berdua tidak bisa menikah. Akhirnya Leouis bertunangan dengan sesama spesies. Tetapi bangsatnya, ia tetap rutin meniduri Haru. Walaupun Leouis menjaga janjinya untuk selalu melindungi Haru, tetapi itu hanya jasadnya, bukan jiwanya.

Haru dalam belenggu depresi mencari seseorang yang benar-benar mencintainya, banyak pejantan yang telah mengencaninya, namun hanya untuk menidurinya. Karena itu, Haru mendapat stereotip perempuan nakal. Zina benar-benar perbuatan yang keji, bukan?

Mungkin itulah sebabnya mengapa agama mengenalkan konsep pernikahan dan mengecam perzinahan, karena dunia tidak akan mampu bersih oleh relasi kuasa. Bagaimanapun perempuan berusaha sekuat tenaga untuk menyamai laki-laki, tetap laki-lakilah yang akan menjadi predator dan menempati puncak rantai makanan.

Untung Legosi tidak seperti pejantan yang pernah mengencani Haru. Legosi tulus mencintai Haru, bahkan mampu menahan instingnya sebagai predator agar tidak akan pernah melukainya, apalagi memangsanya.