Beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Dari segi cakupan pembiayaan, beasiswa dapat dibagi menjadi dua yaitu beasiswa penuh dan beasiswa parsial. 

Beasiswa parsial adalah bantuan dana yang hanya menutupi biaya studi saja tidak mencakup biaya akomodasi dan uang saku. Sedangkan beasiswa penuh adalah dana bantuan studi yang menutupi seluruh kebutuhan seorang pelajar dan mahasiswa selama menempuh pendidikan mulai dari biaya sekolah, biaya kos, biaya makan dan minum, dan lain-lain. 

Dari segi waktu, baik beasiswa parsial atau beasiswa penuh ada dua tipe yakni beasiswa sampai selesai studi, dan beasiswa persemester yang dapat diperpanjang apabila masih memenuhi syarat. Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh mereka yang berencana kuliah di luar negeri adalah Apakah Beasiswa Kuliah di Luar Negeri harus pintar/berprestasi? Padahal semua siswa yang berprestasi maupun tidak mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.

Pintar ataupun berprestasi bukanlah syarat utama untuk mendapatkaan beasiswa kuliah ke luar negeri. Tetapi ada hal yang jauh lebih penting, hal itu adalah mentalitas seseorang itu sendiri. Siswa yang merasa bahwa dirinya tidak pintar, biasanya sedang mengalami mental block. Apa itu mental block? Yaitu dimana seseorang sedang mengkondisikan bahwa dia bukan hanya tidak pintar, tetapi dia merasa tidak layak. 

Mentalitas block akan menjadi salah satu faktor penghambat bagi seorang siswa yang memiliki cita-cita berkuliah di luar negeri. Jika sudah merasa tidak layak maka seseorang akan kesulitan untuk menemukan titik kelemahannya yang mana mungkin masih bisa untuk memperbaikinya. 

Mentalitas inilah menjadi hal dasar bagi seorang siswa yang ingin mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri untuk mewujudkan cita-citanya. Apabila mentalitas yang baik sudah terbentuk maka seorang siswa  secara otomatis akan merasa percaya diri dan yakin bahwa ia layak untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. 

Permasalahan mentalitas blolck memang akan selalu ada, namun bukan berarti hal itu tidak bisa diatasi. Terkadang, seorang siswa yang berencana untuk kuliah di luar negeri sudah minder duluan sebelum bertindak. Mentalitas lebih penting dibandingkan dengan pintar atau tidak pintar, mental yang lemah akan menghambat seseorang untuk berusaha dengan jelas, keras, terencana, dan terstruktur.  

Pintar saja tidak cukup, mental dan karakter juga menjadi hal yang sama-sama penting bagi seorang siswa. Jika seorang siswa tidak mengalami kondisi mentalitas block maka mereka akan cenderung berpikir positif dan banyak melakukaan kegiatan positif yang dapat meningkatkan keahlian yang mereka miliki sehingga perasaan tidak layak pun tidak akan pernah ada. 

Semua orang layak untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, tidak ada pengecualian bagi siswa yang memiliki cita-cita yang tinggi. Optimis dan percaya diri menjadi dasar setiap orang yang ingin mewujudkan cita-cita nya, tentu saja harus dibarengi dengan usaha yang nyata. Tanpa adanya usaha keinginan dan harapan tidak akan terwujud dengan sendiri nya. 

Terkadang permasalahan yang sering terjadi selain mentalitas adalah rasa malas belajar yang menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat usaha yang sebetulnya dapat dilakukan oleh seorang pelajar. Pendidikan di Indonesia memang tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju, meski begitu pelajar Indonesia tetap bisa bersaing dengan pelajar internasional.

Sebagaimana diamanatkan oleh Presiden RI dalam pembukaan Konferensi Nasional Revitalisasi Pendidikan, tanggal 7 Agustus 2006, bahwa “bangsa Indonesia perlu mengadakan refleksi ulang sekaligus reposisi terhadap sistem pendidikan mengingat bahwa anak-anak bangsa yang terdidik merupakan aset yang paling berharga untuk menghasilkan human capital yang berdaya saing serta mampu mengubah Indonesia dari developing country menjadi developed country”.

Informasi yang terbatas bagi para siswa

Selain beberapa persoalan tadi, ternyata informasi yang didapat oleh pelajar kita sangat terbatas. Dimana seorang siswa tidak medapatkan informasi apa yang mereka butuhkan selain pelajaran disekolah, terutama informasi mengenai beasiswa kuliah keluar negeri. 

Padahal banyak sekali informasi mengenai beasiswa kuliah ke luar negeri seperti beasiswa LPDP, Chevening, Fullbright, Australia Awards, dan masih banyak  lagi beasiswa yang tersedia untuk semua pelajar di seluruh dunia termasuk pelajar Indonesia. Informasi mengenai beberapa beasiswa tersebut sudah banyak tersebar di internet dan sangat mudah untuk mendapatkan informasi beasiswa, dan masih banyak hal yang belum atau jarang diketahui oleh masyarakat luas khususnya para pelajar. 

Apa yang harus dilakukan siswa untuk mendapatkan beasiswa?

Hal pertama yang harus dilakukan siswa jika memiliki rencana untuk kuliah ke luar negeri jalur beasiswa yang pertama adalah perisiapan kemampuan bahasa inggris. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa bahasa inggris adalah bahasa internasional, sudah kewajiban seorang siswa untuk meningkatan kemampuan bahasa inggris jika memiliki rencana kulilah ke luar negeri.

Untuk belajar bahasa inggris bisa mengikuti les bahasa, kemudian untuk mengukur apakah kemampuan bahasanya sudah memenuhi standar kampus tujuan yaitu dengan cara mengikuti tes TOEFL atau IELTS. Hampir kebanyakan beasiswa luar negeri membutuhkan skor TOEFL minimal 550, dan IELTS 6.5. 

Persiapan yang kedua yaitu selama sekolah SMA atau kuliah sebaiknya banyak mengikuti organisasi, karena pengalaman dalam berorganisasi juga bisa menjadi acuan seleksi untuk pelamar beasiswa bagi pihak kampus yang dituju. Organisasi tidak hanya di lingkungan sekolah atau kampus, dilingkungan masyarakat pun pengalaman organisasi tidak juga kalah pentingnya.

Kemudian persiapan selanjutnya adalah persiapan kelengkapan dokumen seperti ijazah, nilai rapot atau nilai ipk, CV, dan beberapa dokumen lain sebagai pendukung syarat beasiswa. Banyak siswa dan mahasiswa yang keliru mengenai nilai yang tinggi untuk mendapatkan beasiswa, padahal nilai atau ipk yang tinggi, skor IELTS tinggi itu hanyalah mitos.

Banyak kampus-kampus yang kualifikasinya atau standarnya rendah.  Jadi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa untuk siswa yang tidak berprestasi sangat besar dan apabila siswa maupun mahasiswa memiiki keahlian dibidang non akademik bisa menjadi nilai lebih ketika melamar beasiswa. 

Jika siswa atau mahasiswa yang merasa kesulitan dan perlu bantuan dari pihak yang lebih mengerti untuk mempersiapakan segala persyaratan dan yang lainnya, sekarang sudah banyak lembaga-lembaga khusus yang dapat membantu siswa maupun mahasiswa yang merencankan study abroad.

Dalam lembaga-lembaga tersebut, banyak sekali informasi mengenai beasiswa di seluruh dunia yang dapat memberikan pilihan lebih variatif bagi calon pelamar beasiswa. Hal  ini akan sangat mempermudah bagi siswa maupun mahasiswa yang memiliki rencana kuliah ke luar negeri jalur beasiswa. 

Semua pilihan sudah disiapkan jadi tidak ada alasan bahwa beasiswa hanya untuk siswa yang berprestasi, sekarang semua siswa maupun mahasiswa bisa dan berhak untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri tanpa mengkhawatirkan nilai ataupun ipk yang kecil.