Pada pertengahan Juli 2020, kelas ber-Zoom-pa Bahasa Indonesia via aplikasi Zoom yang saya ikuti sekitar empat bulan belakangan ini kedatangan tamu istimewa. Beliau bernama Bapak Suradi, seorang jurnalis senior dan penulis yang berhasil menyekolahkan ketiga anaknya keluar negeri dengan beasiswa yang diperoleh dari kemampuan menulis. Di pertemuan ini, beliau akan membocorkan kiat-kiat untuk memperoleh beasiswa tingkat dunia dengan kemampuan menulis.

Bapak Suradi memiliki tiga anak, yang saat ini kesemuanya sekarang sekolah di luar negeri. Anak yang terkecil setingkat SMU juga saat ini bersekolah diluar negeri. Beliau pada pertemuan ini menjelaskan bahwa bagaimana kemampuan menulis atau karya tulis itu bisa menjadi modal untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Anak pertama berama Qomaruliati Setiawati, biasa dipanggil Rully baru saja lulus dari pendidikan S1-nya pada bulan May 2020 di College of Atlantic di USA, tepatnya di negara bagian Maine di Utara Amerika berdekatan dengan Canada.

Anak kedua bernama Rahma juga saat ini berkuliah di IE University di Madrid, Spanyol –universitas yang setiap tahunnya memiliki mahasiswa lebih dari 130 negara--juga baru menamatkan studi S1-nya bulan Juli 2020 ini. Mengambil jurusan hukum bisnis Internasional, dan yang ketiga yang paling bungsu, setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP di usia 15 tahun, saat ini studi di sekolah internasional, bernama Knightsbright School International (KSI Montenegro) di Montenegro –pecahan Serbia— tepatnya di kota Tivat, Eropa Selatan.

Seluruh anak-anak Bapak Suradi ini mendapatkan beasiswa bersekolah di luar negeri ini dengan salah satu persyaratan, yaitu membuat tulisan esai. Bahkan saat ini, anak Bapak suradi yang berada di kelas tiga SMU, masih diwajibkan menulis oleh sang ayahandanya untuk persiapan pendaftaran ke perguruan tinggi yang diinginkan.

Rully, anak pertama Bapak Suradi ini telah menyelesaikan studi S1-nya di Amerika, akan melanjutkan studi S2-nya ke University of British Columbia di Canada yang juga merupakan impian sang anak. Jadi saat ini sang anak sudah berangkat ke Canada tanpa pulang dulu ke Indonesia.

Anak kedua, Rahma saat ini juga sudah menyelesaikan studi S1-nya dan sudah mendaftar untuk melanjutkan studi S2-nya ke Irlandia. Secara admisistratif, dia sudah menyelesaikan pendaftarannya dan sudah diterima, tinggal menunggu beasiswanya saja.

Anak ketiganya pun sudah memiliki cita-cita untuk melanjutkan studi S1 ke Amerika atau Eropa setelah menyelesaikan pendidikn SMA di Tivat, Montenegro. Kita doakan semoga apa yang dicita-citakan oleh anak-anak Bapak Suradi bisa tercapai.

Kiat Sang Ayahanda untuk Putra-Putrinya

Saat Rully masih duduk di bangku SMA dan naik ke kelas tiga, sang anak mendaftarkan dirinya ke sebuah sekolah bernama UWC (United World College) di Hongkong untuk melanjutkan kelas tiga SMAnya di sana, tapi karena kemampuan bahasa yang dimiliki (Inggris dan Perancis) dan rully saat itu sudah mengarang sebuah buku dengan judul “Live in Strasbourg”. Dengan berbekal kemampuan Bahasa dan hasil karya tulis berupa buku itulah, akhirnya Rully akhirnya masuk ke UWC Canada.

Intinya bukan hanya nilai akademis saja yang menentukan diterimanya seorang anak di sekolah-sekolah internasional seperti itu, tapi hasil karya dan kemampuan lain di luar akademis juga memberikan bobot yang cukup besar untuk penilaian seorang bisa diterima atau tidak.

Bapak Suradi juga menceritakan ada anak yang diterima di UWC ini karena memiliki karya, selain nilai akademis. Ada anak yang diterima karena pernah membuat pameran foto di Jogjakarta, karena memang passionnya fotografi, ada juga seorang anak SMK diterima di UWC ini karena pernah menjuarai festival film pendek dengan karya film pendek karyanya. Pernah juga ada anak dari Ciwedey, salah seorang anak pegiat literasi, yaitu mengelola perpustakaan di desanya bagi anak-anak

Sekolah UWC ini didirikan dengan tujuan untuk mem-blend anak anak seluruh dunia untuk bisa memiliki pandangan yang sama, bagaimana membangun peradaban yang baik di muka bumi ini. UWC ini memiliki 15 sekolah yang tersebar di seluruh dunia. Menteri Pendidikan kita, Nadiem Makarim adalah salah satu lulusan dari UWC ini cabang Singapura. Juga salah satu artis muda Indonesia Iqbal Ramadhan juga sekolah di sekolah ini di Amerika.

Bagi Bapak Suradi, anak pertamanya ini yang menjadi “kotak pandora” bagi adik-adiknya. Karena sejak kecil sang anak pertamanya ini diajarkan menulis, setelah sebelumnya juga dilatih agar gemar membaca. Karena untuk bisa menulus dengan baik, maka sebelumnya harus juga suka membaca, begitu kata Pak Suradi.

Sejak anak-anaknya SD, Bapak Suradi melatih agar anak-anaknya gemar membaca. Hampir setiap minggu, ayah tiga anak ini membawa anak-anaknya ke toko buku untuk membeli buku yang mereka sukai. Selain membeli buku yang mereka pilih, Dia juga membeli buku kosong yang dipakai sebagai buku diary, jadi semua anak-anaknya diminta untuk menulis apapun juga yang mereka ingin tulis. Kalau mereka tidak menulis, mereka tidak akan dibelikan buku lagi, begitu “ancaman” positif yang dipakai. Itulah trik Bapak Suradi melatih anak-anaknya untuk menulis.

Menginjak SMP, buku-buku yang dibeli juga sudah meningkat ke buku-buku berbahasa Inggris, karena memang sejak SD, anak-anaknya sudah dikursuskan Bahasa Inggris. Pada tingkatan ini Bapak Suradi  sudah meminta anak-anaknya untuk menuliskan resume dari buku-buku berbahasa Inggris yang dibaca, sebagai pelatihan menulisnya. 

Mereka wajib mengirimkan hasil resumenya kepada sang ayah via surat elektronik utuk dikoreksi. Tanpa mereka sadari, kemampuan menulis anak-anak Bapak Suradi kian terasah.

Metode ini akhirnya mengantarkan anak-anak Bapak Suradi memperoleh beasiswa seperti yang sudah dijelaskan di atas. Semoga ada manfaat yang bisa kita petik dari pengalaman beliau bagi kita yang masih memiliki anak-anak kecil yang mungkin mau mengikuti jejak beliau mengantarkan putra-putrinya mengenyam Pendidikan kelas dunia dengan beasiswa penuh dari kemampuan menulis.

 Itulah sekelumit mengenai apa yang dilakukan Bapak Suradi terhadap pendidikan anak-anaknya, dan semua itu bermula dari apa yang diajarkan bapak Suradi, yaitu kemampuan untuk menulis. Beliau mengajarkan anak-anaknya untuk menulis sejak usia dini. Apa yang diajarkan ketika itu, berbuah manis saat ini.