"Angkat benderamu tinggi-tinggi!" teriak panita OSPEK yang membuat para mahasiswa baru mengangkat bendera.

Semua mahasiswa baru telah berbaris rapi di lapangan. Sambutan dari Pak Rektor pun kini dimulai, namun di ujung gerbang kampus. Ada seorang gadis yang berjalan santai dengan wajah tenang. Gadis itu bernama Rena.

Rena terlambat, semua mahasiswa datang dari jam 5 pagi, sedangkan Rena tiba jam 7 pagi, sungguh benar-benar membuat panita OSPEK kesal.

"Jam segini baru datang, kamu kira ini kampus punya ayahmu, hah!" bentak Panitia OSPEK yang berambut gondrong sambil memakai kacamata hitam.

"Aku istrinya Kak Arendra, presiden mahasiswa dari kampus ini."

Tiga panita OSPEK itu terkekeh, dia mengira bahwa gadis itu sedang berkhayal. "Hey bocah, kalau mimpi jangan tinggi. Nanti jatuh, mampus kamu."

"Aku gak bohong. Itu suamiku datang," ucap Rena dengan menunjukkan jarinya, ke arah pria tampan yang kini berjalan mendekatinya.

"Arendra, gadis ini mengaku bahwa kamu suaminya. Sungguh lucu sekali gadis ini," ucap Zaki dengan menahan tawanya.

Arendra tersenyum tipis lalu mengelus kepalanya Rena dengan lembut. "Memang benar yang dikatakan Rena, bahwa dia adalah istriku."

Ketiga panita OSPEK itu terkejut bukan main. Arendra yang dikenal pria dingin, bijaksana dan dikagumi banyak perempuan di kampus ini, tidak mungkin sudah menikah dengan seorang gadis aneh itu.

"Tapi Presma, meskipun dia istrimu, dia harus dihukum karena terlambat."

"Oke setuju, hukumlah istriku sesuai peraturan yang telah dibuat."

Rena pun membulatkan matanya. "Loh, Kak Arendra kok tega banget sih sama istri sendiri, nanti kena azab."

"Mampus kamu," ucap ketika panita OSPEK secara bersamaan.

Arendra hanya tersenyum tipis, lalu langsung pergi meninggalkan istrinya. Rena berdecak kesal, gadis itu kini menjalankan hukuman push up sebanyak 20 kali.

Saat di rumah, Rena pun senang menonton TV Upin dan Ipin, film kesukaan Rena. Gadis itu menatap sinis ke arah suaminya, yang baru saja pulang.

"Nonton apa, hmm?" tanya Arendra dengan tersenyum.

"Udah tahu lihat anak botak masih saja tanya," ucap Rena dengan kesal.

Arendra terkekeh melihat istrinya yang masih kesal. Kini pria itu duduk di sampingnya Rena. Arendra menyingkirkan sehelai rambut yang sedikit menutupi wajah cantiknya Rena. 

"Kamu masih marah denganku, Rena?" 

"Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?" ucap Rena dengan tatapan tajam.

Arendra tersenyum sambil menghela napasnya. "Mau kupeluk, biar marahnya hilang?" 

Rena menatap Arendra dengan terkejut. "Ihh ... apaan sih gak jelas banget, sudah aku mau tidur."

Arendra dapat melihat jelas bahwa istrinya saat ini salting, pria itu tersenyum menatap kepergian Rena. Pria itu mematikan film anak berkepala botak kesukaan istrinya itu, lalu Arendra pergi mandi.

Malam hari pria itu tidak bisa tidur, sebelum pergi dia menatap ke samping istrinya yang sedang tertidur pulas. "Maafkan aku, Ren. Masih belum mencintaimu."

Arendra pun langsung bangun dari tidurnya lalu segera memakai jaket jeans, pria itu segera keluar dan mengendarai sepeda motornya. 

Pagi hari Rena pun terkejut tidak menemukan suaminya. Dia menemukan sebuah surat dari suaminya itu, yang mengatakan bahwa Arendra berangkat sangat pagi ke kampus.

Rena pun sudah bersiap pergi ke kampus. Gadis itu kini mencari keberadaan suaminya, untuk meminta uang buat bayar paket shopee. 

Rena bertemu dengan panita OSPEK yang berambut gondrong dan suka memakai kacamata hitam. "Hey, jamet. Apakah kamu melihat suamiku? Di mana dia?" tanya Rena.

"Tumben kamu gak telat. Tuh, di sana suamimu sedang pacaran."

Rena tidak memahami perkataan pria itu, lalu gadis itu bergegas untuk melihatnya sendiri. Rena pun tidak langsung masuk ruangan, dia kini mengintip sedikit dan mendengarkan suaminya berbicara dengan perempuan.

"Apakah kamu mencintai gadis itu, Ren?" tanya perempuan itu yang bernama Fira dengan berkaca-kaca.

"Tidak mungkin, Fir. Perasaanku tetap sama, aku masih mencintaimu."

"Lalu kenapa kamu menerima perjodohan dengan gadis itu, sedangkan kamu tidak mencintainya. Asal kamu tahu, Ren bahwa kamu telah menyakiti dua hati dalam satu waktu." 

"Aku terpaksa menikah dengannya, karena ayahku yang memaksaku. Aku tidak bisa menolak permintaan terakhir Ayah."

"Permintaan terakhir, maksudnya apa, Ren?" 

"Ayahku meninggal dunia, Fir. Aku tidak ingin ayah sedih di sana."

Fira menghela napasnya dengan kasar sambil memejamkan matanya. Rasa sakit hatinya dengan pria yang dicintainya itu,  sulit untuk disembuhkan. 

Kini, Fira pun langsung pergi meninggalkan Arendra. Dia pun membuka pintu dan terkejut melihat Rena yang berdiri di depan pintu.

"Permisi aku mau lewat." Rena sedikit menepi, lalu Fira pun segera keluar.

Jantung Arendra pun berdegup kencang, saat melihat Rena. Panik dan resah yang dirasakan Arendra saat ini. "Ada perlu apa, Ren kamu ke sini?"

Rena tersenyum mencoba untuk tetap baik-baik saja, meskipun dia sudah tahu kebenaran suaminya itu. "Minta uang buat bayar paket."

Arendra pun bisa bernapas dengan lega, dia bersyukur dan mengira kalau istrinya tidak tahu kebenaran. 

"Kamu beli apa di shopee?" tanya Arendra dengan tersenyum.

"Alat-alat melukis, aku ingin melukis soalnya." 

Arendra mengangguk setuju lalu memberikan uang 100 ribu rupiah kepada Rena.

"Terima kasih suamiku yang sangat tampan," ucap Rena dengan ceria, gadis itu berhasil menyembunyikan sakit hatinya dengan senyum kepalsuan.

Rena pun segera pergi dari ruangan ini. Saat di rumah Rena telah menerima paket shopee, dia kini sedang melukis sambil menangis. Lukisan itu menggambarkan isi hatinya saat ini.

"Rena," panggil Arendra yang baru pulang dari kampus. 

Rena dengan cepat menyeka air matanya lalu tersenyum menatap suaminya. Arendra berjalan mendekati istrinya itu. "Kamu melukis apa, hmm?"

"Menurutmu apa?" 

Arendra menatap lukisan itu dengan saksama. Lukisan yang dominan warna merah, di dalamnya ada dua seorang perempuan dan satu pria. Dua perempuan itu jaraknya sangat jauh dengan pria, mereka melambaikan tangannya ke arah pria itu. 

"Maksudnya apa lukisan ini, Rena? Aku tidak paham."

"Sama aku juga," ucap Rena dengan tersenyum.

Arendra terkejut melihat sisa air mata di pipi Rena. "Kamu habis nangis, Ren? Kenapa kamu menanggis?" 

Rena hanya diam lalu menatap suaminya dalam-dalam. "Kak Arendra, apakah mencintaiku?" 

Arendra tersenyum lalu menggenggam tangannya Rena. "Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa?" 

"Kalau iya aku bahagia, kalau tidak aku akan pergi." Rena pun kecewa dengan suaminya yang tidak langsung to the point.

Pagi hari pun tiba, Rena dan Arendra memutuskan untuk jalan-jalan di taman. Mereka melihat anak kecil yang sedang bermain bola, tiba-tiba bolanya menggelinding di jalan. 

Arendra langsung mengambil bola itu, Rena terkejut bukan main saat melihat truk yang hendak akan menabrak suaminya. Pak sopir tidak bisa mengerem truknya, karena remnya kini belong. 

Tin tin tin

"Kak Arendra, awas ...."

Brak 

Tubuh Rena terpental jauh, Rena berhasil mendorong tubuhnya Arendra di tepi jalan, dan berhasil menyematkan suaminya itu. Arendra yang memakai baju putih, kini dipenuhi warna merah darah istrinya.

"Rena," teriak Arendra.

Pria itu ingin pingsan saat melihat kondisi Rena yang mengenaskan. Pria itu memeluk Rena dengan erat, dia ingin agar Rena tetap hidup.

"Kak, Arendra apakah kamu mencintaiku?" tanya Rena dengan lemah.

"Aku mencintaimu, tolong ... jangan pergi!" Arendra tidak kuasa, pria itu meneteskan air matanya.

"Kamu terlambat, Kak. Waktunya aku pergi, aku selamanya mencintaimu." Rena pun batuk dan mengeluarkan darah. Kini Rena pun memejamkan matanya sambil menghembuskan napas terakhirnya.

"Rena, kamu gak boleh pergi." Arendra sangat menyesal, tidak dari awal mencoba berusaha mencintai Rena dan melupakan mengakhiri hubungannya dengan Fira.

Pria itu telah membuat sakit hati dua perempuan dalam satu waktu. Kini Fira pun juga dikabarkan akan menikah dengan pria lain, dan hidup di luar negeri. Hati Arendra pun benar-benar terluka, dia menyesal telah egois dengan cinta.

"Ternyata aku baru memahami arti lukisan ini, setelah Fira dan Rena pergi," batin Arendra menatap lukisan itu.

Tamat.