2 tahun lalu · 105 view · 6 menit baca · Perempuan 20140504170350-aktivis-remaja-gelar-kampanye-hentikan-kekerasan-seksual-di-hi-001-nfi.jpg
Foto: merdeka.com

Bayangan Yayan

Matahari tak membiarkan sinarnya menerpa wajahku. Matahari pun tak mengizinkanku melihat bayangan yang selalu membuntutiku. Bayangan itu serupa denganku. Tinggi semampai. Dagunya runcing. Ia mengenakan rok panjang dan baju lengan panjang menutupi tubuhnya. Hanya itu yang kutahu tentangnya. Rambut ikalnya selalu berantakan. Apa ia sengaja, entahlah.

Aku tak pernah bisa melihat matanya. Sebab setiap kupalingkan badan, bayangan itu lantas mengutukku dalam diam. Aku tak suka kemarahannya. Aku hanya ingin melihat siapa bayangan yang bersekongkol dengan matahari ini. Matahari dan bayangan serupa rahasia. Aku tak akan pernah tahu. Aku memilih subuh untuk waktuku pergi sekolah. Kakiku melangkah perlahan. Kali ini tidak ada suara gaduh seperti biasanya.

Bayangan mungkin masih tidur. Ia memang selalu tepat janji dengan matahari. Sungguh, aku tak ingin diikuti lagi. aku ingin seperti anak lainnya. Pergi ke sekolah tanpa resah, pulang sekolah tanpa gelisah. Aku melenggang dengan tenang. Langkahku belum jauh. Tiba-tiba ada yang memainkan rok sekolahku. Bagai embusan angin ia mengusik yang ada di dalamnya.

“Sakit....tolong hentikan.” Ada benda tajam yang bermain kasar di kemaluanku. Aku tak bisa menahan sakitnya. Rasanya ngilu, perih, namun aku tak bisa melepaskannya.

“Jangan mencoba lari dariku. Aku hanya ingin berlindung,” suara bayangan itu terdengar lagi. Namun rasa sakit di kemaluanku belum hilang. Aku tak paham kalimatnya.

Mengapa ia memilihku yang masih bocah untuk berlindung? Bayangan itu tak percaya pada orang dewasa yang katanya menuduhnya penggoda. Orang dewasa yang menuduhnya anak liar. Orang dewasa yang katanya peduli namun mengumbar luka sang bayangan. Ia tak percaya pada siapa pun kecuali aku. Perih di kemaluanku masih tersisa sehingga membuatku berjalan agak pincang.

Teman-teman sekolahku melihat dengan tatapan sinis. Gosipnya, aku bercinta dengan teman lelakiku di semak saat subuh menjelang. Rasa sakit di selangkanganku tak bisa kusembunyikan. Tuduhan demi tuduhan mengalir begitu kencang. Siapa yang percaya padaku bahwa sakit ini dibuat oleh bayangan? Tak ada yang bisa melihat bayangan selain aku. Bayangan mengelusku pelan lalu berkata, “Meski aku di surga, aku masih terus menangis.”

Lantas bayangan pergi, namun tak pernah benar-benar pergi. Bau terik matahari yang khas dengannya masih tercium hangat. Aku saja yang tak bisa melihat bayangan sedang apa. Bayangan yang mengagetkanku kapan pun ia mau. “Anak-anak, mari kita berdoa sejenak mengenang kawan yang sangat kita kasihi, Yayan,” ibu guru dan teman-temanku yang lain menundukkan kepalanya. Entah menunjukkan rasa iba atau hormat.

Siapa Yayan? Aku tak pernah mengenalnya sejak pindah ke sekolah ini. Suara tawa bayangan mengusik pertanyaanku. Bayangan itu berbisik, “Kau sangat mengenal Yayan.” Aku hanya diam. Tak mungkin kujawab suara bayangan yang sukses membuatku disangka gila, berbicara sendiri. Apa pun katanya, apa pun pertanyaannya, dan apa pun yang bayangan lakukan, aku tak akan pernah memedulikannya.

“Bu guru, bisakah saya pindah? Atap kelas rasanya bocor.”

“Tidak ada hujan kemarin, Nak. Coba diperiksa.”

Ya, memang tidak ada rembesan air hujan di atas maupun dinding atas. Lalu, air yang membasahi bangku di sebelahku ini datangnya dari mana? Aku tidak ingin tertipu lagi. Ini pasti ulah sang bayangan. Aku hanya diam walau air misterius ini terus mengalir di tempat dudukku dan membuat rokku basah. Aku menggigil.

“Ayu, lekas pindah,” teriak ibu guru. Guruku terlihat risau sekali. Beliau mengepel seluruh lantai, lantas duduk dengan raut begitu serius.

“Bangku di sebelahmu ini memang dibiarkan kosong sejak Yayan pergi. Bangku yang kerap basah. Entah air mata kebencian atau rindu yang tumpah,” ketidakmengertianku semakin bertambah. Ini bukan ulah bayangan, melainkan Yayan. Ah…apakah yang telah berpulang masih bisa datang?

Matahari mengundurkan diri perlahan tanpa peduli semua risauku. Aku masih menunggu bayangan malam ini. Ingin berbicara dengannya. Tidak, aku telah memutuskan tak memedulikannya. Apa yang bisa dilakukan sebuah bayangan?

***

“Sudah minum obat?”

“Ibu, saya tidak sakit. Percayalah.”

“Kamu memang tidak sakit, Nak. Itu hanya vitamin.”

“Berhenti menipu, Bu. Saya sudah mengerti mana vitamin dan mana obat.”

Apakah aku benar-benar butuh obat? Ibu yang paling percaya padaku hanya menganggapku lelah dengan semua keadaan baru. Pindah sekolah, materi pelajaran baru, dan teman-teman baru. Ibu tak pernah paham soal bayangan yang menuntutku menyelesaikan sesuatu.

Ya aku memang lelah. Lelah dengan semua pemikiran orang dewasa. Lantas, apakah ini juga yang membuat bayangan membenci orang dewasa? Vitamin-vitamin di tanganku berjatuhan seperti ada yang meniup. Aroma ubuh bayangan datang lagi. “Vitamin ini bisa menyembuhkan luka?” tanya bayangan. Aku sama sekali tak mencium bau darah dari tangan, kaki, atau bagian tubuh yang baru saja tergores. Luka yang mana dimaksud bayangan?

“Luka yang membawaku terus menangis, meski di surga.” Kalimat ini makin muak terdengar. Apakah yang mati bisa berkeliaran sesuka hati? Aku ingin sekali menantang bayangan menjelaskan surga itu seberapa indah. “Kamu tak akan mau ke sana jika bersama luka,” bayangan menyahut seolah tahu semua yang kupikirkan. Jika begitu, mengapa ia tak pernah pergi jika pikiranku terus menolaknya?

***

Apakah bayangan akan tetap datang jika hujan? Mengapa aku begitu risau dengannya. Dendamnya pada orang dewasa menyiksaku. Bahkan orangtuaku kini tak percaya padaku. Tentang bayangan yang menghantuiku. Terik mentari makin menyengat. Aku tahu bau tubuh bayangan yang membuat matahari semakin menyengat. Ia bisa membakar apa saja.

Berkas sinar mentari menyilaukan mata. Aku tak bisa melihat yang ada di hadapanku. Namun, bayangan di belakangku menyuruhku berjalan lurus. Ia memainkan tas sekolahku. Sesekali mengibas rambut ikalnya yang menghalangi pandanganku. Bayangan mulai membuatku gila. Ia memutar langkahku. Maju, mundur, ke tengah, lalu berjalan lagi.

Sungguh, aku tak paham akan dibawa ke mana. Tak ada yang melihatku yang aneh ini. Sebab jalanan sepi ini adalah keberuntunganku. Jika tidak, aku tak tahu betapa kecewa ibu dan ayah atas lakuku. “Bicaralah, mungkin aku akan berhenti mengganggumu,” kalimat indah yang pertama kali kudengar dari sosok bayangan.

Hampir saja aku bicara saking gembira menyambut kepergiannya. Namun, aku tetap bungkam. Pilihan ini yang terbaik untuk membuatnya benar-benar lenyap. Panas terik berubah mendung. Padahal ini pukul satu siang. Tak ada suara selain langkah kakiku. Tak kucium bau tanah jalan menuju rumah. Tak pula nampak sawit-sawit kokoh yang ditandai ayah sebagai miliknya.

Adakah Ibu sedang terlelap sampai lupa membawa bekal makan siang ke kebun ayah? Bukan, ini bukan aroma jejak langkah anak-anak SMP Rejang Lebong. Bukan jalan ini yang biasa kulalui saat pulang sekolah. Tak ada suara deru motor atau kicau burung hutan. Jalan ini sepi sekali. Aku masih tak mampu melihat. Kakiku melangkah terus seolah mengenal setiap sudut jalan ini. Bau tuak menyengat.

Ini bukan bau pohon aren, tapi bau tuak matang. Tuak yang dituang ke dalam botol kemasan air mineral. Dijual dengan murah di setiap warung pengkolan. Penikmatnya bukan hanya orang tua, tapi juga anak-anak. Serupa air minum, tuak ditenggak tanpa ampun. Bau tuak ini makin dekat, makin lekat. Entah aku yang mendekatinya, atau tuak yang mendekat padaku.

Ada tetangan angkuh memegang leherku. Aroma tuak makin lekat. Ini bau tuak dalam mulut. Bukan hanya satu mulut, melainkan 14. Kurasakan tubuhku menggigil. Saat kudekap tubuhku tak berbalut busana sehelai pun. Tangan-tangan dengan seratnya yang kasar menjelajah tubuhku dengan bebas. Tangan siapa ini yang begitu hina? Tangan ini meremas tubuhku. Seandainya kulitku memiliki duri, mungkin sudah bangkit untuk melindungiku.

Tubuhku diremasnya lebih kencang dan dipaksa membungkuk. Perintah kasar kudengar dari mulut yang meneguk tuak. Ya bau mulutnya penuh dengan tuak. Namun, aku tak bisa melihat sang pemilik mulut itu. Tangan-tangan lain memegang lututku, lalu kakiku, lalu mulutku, dan kemaluanku. Tangan-tangan ini makin banyak jumlahnya. Aku tak mampu melawan, mataku tertutup selamanya, mulutku juga bungkam selamanya. Kutemukan tanah telah basah.

Di sampingku ada sesosok gadis seusiaku tengkurap. Rambut ikalnya berantakan. Tangannya erat memegang bagian dada. Tubuhnya seolah renyah menahan nyeri. Di tanah basah ini kutemukan tumpukan bunga. “Yayan Sulaiman,” nama ini tertulis jelas pada tanah yang ternyata batu nisan.

Kupeluk tubuhku sekali lagi, meminta bayangan datang kembali, merasakan 14 pemilik mulut bejat, 14 pasang tangan jahanam yang melukai Yayan. 14 pemilik kemaluan bejat dihujat atau neraka paling hina, tak akan mampu menghentikan dukaku. Aku terlambat.

Narasi ini diangkat dari tragedi nyata yang dialami Yuyun (14). Tragedi kemanusiaan yang terjadi tahun 2016 ini mendapat perhatian publik. Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14), warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu ini memberikan pemahaman bahwa anak-anak Indonesia belum terlindung dari kekerasan seksual.

Pelaku yang diganjar hukuman 10 tahun penjara dengan alasan masih di bawah umur menambah rasa keprihatinan publik. Pelaku memang anak-anak, namun kelaminnya dan pemikirannya tidak lebih dari pecundang bejat.

#LombaEsaiKemanusiaan