Malam yang sangat mencekam
Dipeluk oleh rindunya angin malam
Menatap sebuah layar kaca berisikan tulisan penuh makna
Mengingat-ngingat apapun yang mampu tuk dikenang
Kemudian dia bertanya, bermaknakah kenangannya?

Esok pagi-pagi buta, harus menyiapkan diri
Esok pagi-pagi buta, menunggu makanan yang tak akan pernah datang
Esok pagi-pagi buta, mencoba memahami diri
Sudah bermaknakah diriku terhadap orang lain?

Pagi itu, ia memanaskan kuda besinya
Sambil mengharap hadirnya racikan kopi panas dari seseorang
Dengan tampang biasa saja, rambut disisir rapi, kemeja agak lusuh, celana hitam mengabu, serta sepatu hitam khasnya
Dengan sombongnya ia menghempaskan kuda besinya dengan sangat cepat menembus hiruk-pikuk kota

Panas, dingin, panas, dingin begitulah suasana yang ada
Dingin, panas, dingin, panas begitulah cuaca yang ada
Naik pitam sudah rupa dia, semua terjadi dengan sangat cepat seperti biasanya
Lesu, lemas, dan lunglai dirasakan

Jam tangan selalu dilihatnya, sambil mengharap belas kasih dari Boss
Jam tangan dilihatnya lagi, waktu telah menjadi karet
Tibanya, seperti biasa teriakan dari Boss menjadi panganan sehari-hari
Bukan hanya dia, namun dia, dia, dan dia lainnya juga

Lesu, lemas, dan lunglai dirasakan
Sekali lagi, ia menatap layar kaca sambil menari-narikan jemarinya di atas keyboard lusuh itu
Sorenya, jam berubah menjadi besi

Saatnya pulang, saatnya pulang…….
Semua orang tertawa bahagia tak terkecuali Boss
Sebagian lagi mengeluhkan dirinya tak bisa pulang
Sebagian lagi hanya tak ingin pulang demi berlembar-lembar kertas bergambar itu

Dia tak ingin pulang, bukan demi kertas-kertas bergambar itu
Dia hanya ingin membunuh sepinya di kantor yang membosankan itu
Sore menjadi malam, malam menjadi pagi
Rasa kantuk dan takut menyelimuti
Teringat akan kisah-kisah seram di kantor
Membuatnya pulang pagi-pagi buta

Rumah sederhana, hasil menabung, sayang hanya sendiri
Dengan bau khas cat yang selalu diperbarui tiap bulannya
Di kamar, ia hanya menghabiskan waktunya merehatkan badannya

Tak terasa matahari tersenyum seakan meremehkan dirinya
Seperti biasa, ia memanaskan kuda besinya
Seperti biasa juga, ia disemprot lagi oleh Boss
Dunia pasca-kuliah

Apa benar seberat dan seletih itu?