Orang ramai mungkin banyak berandai, kertas bakal digilas pada abad digital. Nyatanya sampai sekarang, kertas masih menjadi teman manja setiap aktivitas masyarakat digital.

Betapapun internet menyuguhkan segalanya dengan mudah. Buku setebal apapun hanya disimpan dalam e-book dengan volume data yang sangat kecil. Begitupun, akses berita disajikan dengan sangat cepat lewat media digital. E-paper koran juga sudah banyak dikembangkan oleh pengelola media. Ringkasnya, kertas seperti dipaksa menjauh dari kehidupan kita.

Namun kita tetap tak bisa lupa dengan kertas. Ada ingatan yang sukar dilupa tentangnya. Orang mungkin punya beragam alasan untuk meneguhkan pandangannya tentang kertas. Artinya, betatapun kehidupan kita sesak dengan beragam versi digital, kertas sesungguhnya tetap lekang dalam ingatan setiap personal.

Saya sebagai pribadi, mengandaikan kertas adalah kawan sejati, yang menghiasi segenap rasa dari keterasingan. Sejak kecil di kampung, pada saat duduk di sekolah dasar, saya sudah mengenal kertas sebagai kebanggaan. Memiliki buku tulis berkualitas, menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri. Ada identitas yang melekat pada kertas.

Saya sesungguhnya bukan dari keluarga beruang, hanya menang lomba, kemudian dapat hadiah buku tulis bagus, menghadirkan rasa yang sulit ditukar dengan sebatas jajan anak-anak yang paling enak sekalipun.

Buku sejak kecil mengandaikan identitas yang hadir secara nyata dalam relung kehidupan diri saya sebagai pribadi.

Sampai saya besar, dada menganga menghadirkan harapan memiliki buku tebal yang banyak. Berawal dari pengelanan saya pada banyak buku di perpustakaan pesantren. Saya jadi ingin menumpuk kertas sebanyak-banyaknya lewat buku-buku, yang kata orang bijak, buku jendela dunia.

Ada kerinduan panjang yang mengekal dalam pikiran. Sampai saya hampir tamat di madrasah pesantren, harapan menumpuk buku terus awet. Lewat sisa uang jajan waktu di pesantren, sedikit sekali, saya dapat mengoleksi buku-buku. Harapannya sederhana, saya ingin mengekalkan pengetahuan lewat tumpukan kertas-kertas.

Saya berpikir, lewat buku-buku itu, saya dapat mewariskan pengetahuan lewat kertas pada anak dan cucu. Sebab guru di madrasah sering berkata bijak tentang pentingnya mewariskan pengetahuan pada anak cucu.

Lalu, setelah selesai dari pesantren, saya melanjutkan kuliah di salah satu kampus negeri di Surabaya. Tak dinyana, ternyata masih ada lautan kertas yang lebih besar dari yang pernah saya jumpai saat di pesantren. Perpustakaan kampus menyediakan puluhan ribu buku sampai berlantai-lantai tempatnya.

Sebagai mahasiswa yang dibesarkan di kampung, waktu itu saya terperangah. Ternyata di sini, perpustakaan, lewat keras, hadir buku, pengetahuan ditandon sedemikian besar. Lalu saya berandai-andai dapat memeluk seluruh kertas buku-buku di perpustakaan.

Sampaipun saya lulus, ternyata tak semua buku dapat saya simak dengan baik. Ambisi saja yang terlalu gila sampai ingin memeluk seluruh kertas buku di perpustakaan.

Meski begitu, saya juga berusaha menumpuk kertas lewat buku-buku yang saya beli dari harga obral di banyak pameran buku.

Lalu, saya bakal masuk pada soal makna kertas di tengah derasnya digitalisasi segala hal. Berdasarkan pengalaman remeh-temeh yang telah saya urai di atas.

Kertas, dengan segala keseksiannya yang lekang dalam ingatan saya, menyimpan sejuta misteri yang sukar di lupa.

Saya mungkin termasuk orang aneh. Saya diam-diam menyukai bau kertas. Kalau Anda penggila handphone android, bisa dibayangkan bagaimana setiap saat begitu asyik dengan handphone Anda, lalu sesekali menempel di atas hidung. Ada rasa yang menggugah selera. Begitupun, berdasar pengalaman remeh-temeh yang saya rasakan, bau kertas ternyata menyimpan kenangan yang sukar dilupa.

Begini, perjalanan tak panjang saya sejak 2004 lalu di pesantren sampai saya lulus kuliah 2014 lalu, mengekalkan bau kertas yang tak biasa. Mungkin banyak orang berandai, kertas buku hanya benda biasa yang tak memiliki keistimewaan apapun. Berbeda dengan banyak orang, saya justru menjadi penikmat bau buku

Hampir semua macam bau kertas buku sudah pernah saya nikmati. Dari yang paling mahal sampai yang paling murah. Dari yang paling lawas sampai yang paling anyar. Dari yang original sampai yang kopian. Segalanya sudah pernah saya nikmati rasa bau kertasnya.

Bau buku seperti menghadirkan ingatan tentang segalanya yang pernah hinggap dalam hidup saya.

Dulu sejak kecil saya sering menulis di kertas buku tulis. Saya pun jadi mengingat segala hal-hal tak penting dalam jalan kekecilan saya dulu di kampung. Termasuk kenakalan-kenakalan diri pada guru di sekolah sebagai anak bawel.

Buku juga mengingatkan saya pada seseorang. Kekasih kata anak-anak zaman now. Zaman dahulu kala—kalau kita berandai telah terlalu jauh di era digital ini, hampir tak bisa dinafikan anak-anak muda banyak jatuh hati pada kertas. Sebenarnya yang dijatuhi bukan kertasnya, melainkan wajahnya yang mekar lewat kertas yang hadir melalui surat kiriman seseorang yang istimewa.

Bau kertas buku juga mengingatkan saya pada proses kreatif yang saya jalani ketika di pesantren. Untuk dapat menulis di komputer dan dikirim ke media, saya harus bersabar menulis pada kertas terlebih dahulu. Susahnya minta ampun sebenarnya. Hanya hendak bagaimana lagi, susah zaman dulu nyatanya sudah nasib zamannya. Tak segalanya mudah seperti zaman now yang sudah digital ini. Semua tinggal pencet saja.

Lalu dari keseluruhan kenyataan hidup, baik yang sudah saya uraikan di sini dan yang tidak. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sesugguhnya, sedigital apapun seluruh aspek kehidupan kita. Kita tak mungkin bisa lepas dari keras. Meski sebatas dalam ingatan. Ada pertautan kekal dalam ingatan dan kesejarahan kita pada kertas.

Kertas seperti menyimpan keseluruhan proses menjadi yang mengekal pada setiap orang. Kita bisa membaca pertama kali lewat buku yang terbuat dari kertas. Kita belajar menulis pertama kali lewat buku tulis. Sampainpun kita besar dan lancar membaca menulis, kertas selalu hinggap dalam keseharian kita.

Lalu setelah zaman maju seperti sekarang, kita mengandaikan bakal membuang dan mendustai kertas. Seberapapun kertas bakal dijungkalkan pada jurang modernitas, maka kekekalan ingatan tentangnya bakal semakin kuat.

Kita bisa membuang kertas dalam kehidupan digital kita. Namun semaju apapun digitalisasi seluruh aspek kehidupan, kita tak akan mampu membuang ingatan tentang kertas.

Ketakmampuan kita membuang ingatan tentang kertas, memiliki efek ganda dalam ruang digital yang kita mainkan.

Sesekali kita membayangkan bisa hidup di masa depan, namun pada lain kesempatan muncul ingatan tentang masa lalu.

Di sini kertas menyimpan kekuatan mistisnya. Ada suka, luka, riang, derita, dan segalanya yang sudah dikekalkan lewat kertas. Karenanya, ingatan tentangnya tak akan mampu dikubur oleh manusia.

Satu hal yang tak boleh dilupa. Semaju apapu seluruh aspek kehidupan kita, manusia selalu mengandaikan yang konkret. Yang tampak dan nyata, nyatanya lebih asyik dari sekadar membayangkan keindahan ruang maya, namun dalam sekejap dapat hilang.

Kertas menyuguhkan narasi besar dari peradaban mansuia. Dunia digitalpun berjaya seperti sekarang karena ada kertas yang mengekalkan peradaban.

 Karenanya, semaju apapun era digital, kertas tetap segalanya. Karena mula dari peradaban ada pada kertas. Pengertahuan berkembang mulanya dari kertas. Kita memiliki hutang besar pada kertas. Maka sampaipun dunia sudah dilipat dalam genggaman handphone kita, kertas tak bakal bisa dilupa. Setidaknya bau tentangnya, bakal mengekalkan seluruh jalan panjang kehidupan yang telah lalu. Bahkan mungkin juga di depan.