Gagasan-gagasan yang muncul dari rasa kecewa atas amarah Tuhan justru menjadi sebuah agama baru yang makin sejuk. Hal ini terjadi karena para eksekutor samawi (pebangkai agama) yang mengatasnamakan wakil Tuhan sering mengejawantahkan wahyu bersama tiran yang berkuasa sebagai sarana legitimasi nudasi (penggundulan) hak rakyat yang sangat pedih.

Proses penggabungan kekuasaan sekuler dengan kekuasaan religius dengan target kekuasaan sekuler harus lebih unggul dari kekuasaan spiritual itulah yang disebut dengan Kaesaropapisme. Kaesaropapisme merupakan konsekuensi yang bernas dari dampak kepercayaan agama terhadap kekuasaan politik yang menggiurkan bagi para pemuka agama.

Kaesaropapisme dan sekularisme sukses membuat politik dan agama melebur. Cita-citanya untuk mempermudah pengaturan hubungan yang bersifat interkoneksi. Baik manusia dengan manusia ataupun hubungan antara manusia dengan Tuhan. Tak peduli hasilnya. 

Jika kedua unsur ini berkolaborasi dengan kleptoparasitisme, maka akan terciptalah monster kekuasaan yang mengerikan. Tak perlu menunggu Max Weber dan Harvey Cox untuk mengesahkan hubungan ini. Karena pendahulunya, yaitu peristiwa suksesi kepemimpinan bumi, sudah penuh dengan amarah kaesaropapisme. Legitimasi Tuhan kepada manusia cukup membuat malaikat gundul (ternudasi). 

Kepemimpinan bumi yang dipulihkan mengandung bobot peran yang kuat. Hal ini mengandung makna bahwa bumi yang belum sempurna harus disempurnakan kepemimpinannya. Di sinilah kaesaropapisme akan tumbuh subur. Tentunya membuat kesempurnaan dengan berbagai cara. 

Kesempurnaan tatanan bumi terbentuk di atas kerangka wawasan yang memuliakan ide surga dalam bangunan idealismenya. Surga adalah tempat orang-orang saleh dan dipahami sebagai kenyataan post mortem. Hal ini membuat agama direduksi menjadi bekal akhirat semata. Inilah bahan bakar kegilaan kaesaropapisme yang ditunggangi oleh kleptoparasitisme.

Momen yang dihasilkan oleh kolaborasi ini sedramatis peristiwa bersatunya elang, rubah, dan seekor anak ayam yang terbang di udara. Pencuri yang mencuri hasil curian pencuri. Elite politik yang menggasak hasil curian pemuka agama. 

Momen-momen ini bukan saja terjadi di tingkat kekuasaan tinggi. Dalam kehidupan sehari-hari dengan mudahnya dapat kita jumpai.

Mari saya antar Anda untuk melihat contoh. Sebuah kilas balik momen dramatis ketika seorang pria tua lemah sedang berlutut di hadapan pengadilan Inkuisisi Roma. Beliau mempertahankan keyakinan ilmiahnya. Padahal penelitian yang telah dilakukannya berdasarkan atas disiplin keilmuan dan riset yang bertahun-tahun. 

Anda ingin nyawanya selamat? Tentunya beliau harus menyangkal apa yang telah diketahui olehnya sebagai sebuah kebenaran. Kenal?

Contoh kecil lainnya dialami oleh kerabat saya. Ada seorang lelaki berbaju rimbun. Tubuhnya tertutup kain penuh seolah membuang semua lekuk tubuhnya. Dia berpenutup kepala ala ban Vespa. Berdiri tegak di ujung koridor sebuah rumah sakit. 

Tangannya mengacung-acungkan lembaran infak sambil berkata: berikan infak terbaikmu! Kenapa Anda sekarang berhenti langganan? Bak seorang debt collector. Paham?

Yang ditagih seolah terpekik. Hingga jatuh telungkup dengan dada bolong oleh serpihan peluru rasa amal. Pupus sudah mengharapkan keteduhan ala Telaga Kausar. Kesejukan nubuwah yang sering tergambar di akhir kajian yang diikutinya rusak oleh ekosistem dan habitat kleptoparasitisme dalam agama.

Itulah eksekutor-eksekutor bertopeng agama. Memeras umat untuk mendapatkan makanan. Pos-pos zakat, infak, amal, waris, sedekah, hibah, dan lainnya tak pelak menjadi sasaran empuk teknik ini.

Perlawanan terhadap kaesaropapisme bisa saja dimulai dari mereka yang berfasihat dengan filsafat. Di bangku taman-taman kebijakan filsuf akan membuat goncangan skala Richter. Yang akan menarik-narik selendang Tuhan yang telah meninabobokkan para pebangkai agama untuk jatuh hingga bindam.

Hebat loh heningnya, dalam dua detik, mereka bisa meruntuhkan para eksekutor yang mengaku wakil Tuhan itu yang kini sedang berpeluh. Namun bukan di kulit, melainkan di ujung hati munafik yang jelas menderit-derit.

Kecenderungan pemimpin agama untuk memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah politik sudah terjadi berabad-abad yang lampau. Ini akan terus berulang dengan berbagai variasinya.

Mari kita bermanuver ke rantai makanan untuk membuat segalanya makin jelas. Kleptoparasitisme sebagai kendaraan kaesaropapisme tak jauh dari kaidah food chains

Diketahui bahwa sebuah rantai makanan menggambarkan bagaimana organisme saling terhubung satu sama lain yang ditentukan oleh makanan yang mereka makan. Pun begitu kekuasaan dengan memperalat agama sebagai kendaraan politis akan berakhir jadi zat hara!

Tingkatan dalam rantai makanan ada yang disebut dengan trofik. Tingkatan di mana organisme memperoleh energi. Trofik terendah adalah pemuka agama yang menghisap energi dari jemaahnya. Hingga berakhir dengan puncak berupa predator alfa. Dialah para pebangkai agama. Politikus yang berpura beragama.  

Dalam sistem demokrasi, kecenderungan menjadi pebangkai agama sangat besar sekali. Pemimpin politik yang memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah agama akan cenderung mengeksploitasi agama untuk kepentingan politiknya dan sekaligus memandulkan peran agama sebagai kontrol moral terhadap kekuasaan.

Sebaliknya, pemimpin agama yang memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah politik akan sulit dikontrol dan dikritik karena kehadiran mereka di wilayah politik dianggap mewakili Tuhan. 

Adapun politik yang jujur adalah ketika Anda terkapar tak berdaya untuk melakukan repetisi orgasme di ranjang. 

Selamat weekend sobat!