28910_33731.jpg
TodayLine
Budaya · 4 menit baca

Batu dan Kita yang Membatu

Buya Hamka pernah mengatakan, "Jika hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup." Pernyataan itu tepat pada kehidupan saya yang tak mengindahkan batu di tataran makrokosmos dan mikrokosmos. Atau hal itu juga dialami kalian?

Batu bagian dari alam. Tentu bisa dikatakan penyeimbang alam. 

Secara paradigma sistemik-holistik, batu sebagai satu kesatuan semesta. Meskipun perannya tak begitu kentara. Sama seperti TKI sang pahlawan devisa yang perannya tak kentara seperti elite pemerintah yang bikin tertawa. Anggaplah dagelan. Karena perannya TKI yang tak kentara itu sering kali kita abai. Padahal secara mekanisme sistemik, semua komponen di jagat raya ini seperti batu dan manusia tetap memanggul kesalingan.

Gara-gara paradigma mekanistik yang tumbuh subur abad pencerahan, paradigma mekanistik sistemik, holistik digeser posisinya dari idola filsuf alam seperti Aristoteles jadi pikiran rongsokan teronggok di tempat sampah. Persis halnya skripsi mahasiswa yang kemarin dengar-dengar berakhir di timbangan.

Semua sisi kehidupan berbondong-bondong berubah. Tak ada ruang untuk kata sistemik dan holistik karena ada penghakiman berupa ketinggalan zaman. Akibatnya, kita hanya memikirkan yang perannya lebih besar dan abai pada peran di sekitar kita yang lebih kecil. Salah satu contohnya adalah batu.

Diakui atau tidak, ketika lewat di jalan atau duduk di depan kos, kita hanya berpikir, "Ah, cuma batu." Memang ada kecenderungan manusia terpesona pada fenomena besar dan heboh, abai pada yang biasa saja. 

Makanya, untuk menjadi besar, harus jadi bagian dari fenomena besar. Saya lihat, manusia saat ini ke arah pemenuhan hasrat ingin dikenal dan jadi bagian dari fenomena, seperti halnya foto-foto dengan barang bawaan tumpah ruah. Meskipun toh tidak ada gunanya bagi peradaban. Maslow sudah memeringkat hal itu. Terlepas dari hal itu, kita cenderung abai pada hal-hal kecil dan terpesona pada hal-hal besar.

Padahal sejarah mencatat, batu memiliki peran. Ia dibutuhkan dalam pembangunan Candi Tikus-sekarang terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Begitu juga, benda padat dan keras ini dulu dibutuhkan, semacam papan informasi bagi manusia-manusia di Sulawesi Selatan.

Meskipun dalam hal ini batu di dinding goa yang dijadikan papan informasi tentang adanya tradisi ritual di kalangan mereka. Peran batu sebagai bukti bahwa nenek moyang kita menghargai batu dan menggunakannya semacam laman Facebook kalau saat ini, atau bukti konkret, bahwa ide itu tak boleh membatu di kepala, tapi harus ada di kehidupan mereka

Batu sebenarnya tidak hanya diartikan sebagai benda yang tergolong keras. Secara denotatif, makna batu hanya itu. Tetapi secara konotatif, ada yang sama dengannya. Demokrasi kita yang mampet, hukum yang kerasnya seperti batu, seolah-olah jadi penghancur sisi kemanusiaan. 

Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah akan abadi jika keadilan membatu. Anak-anak yang tangisnya tersedu sedan di pinggir jalan karena kelaparan tetap jadi bahan berita di televisi yang ditonton konglomerat, kleptokrat, serta jadi nyanyian Iwan Fals yang suaranya ditunggu-tunggu saat ini.

Semua itu tetap terjadi dan terus berulang jika kepala kita isinya cuma batu. Hati politisinya sekeras batu. Map-map dengan kertas di dalamnya hanya melegalkan seberapa panjang jalan diaspal dan seberapa banyak orang banyak makan jalan beraspal serta seberapa banyak juga menghabiskan batu. 

Narasi itu tetap terjadi jika pendidikan kita hanya mencipta batu-batu. Individualis dan asosial. Narasi itu tak akan selesai jika aktivis dan mahasiswanya lebih memilih diam membatu. Karena idealisme dan sederet kata-katanya yang teronggok di pinggir sekretariat, hanya Sebatas hafalan di kala lupa. Ironis, idealisme mereka jadi batu loncatan. Aktivis atau mahasiswa seperti ini persis kodok, suka loncat-loncat.

Apakah saya menyalahkan mereka? Tidak. Saya hanya memberitahukan bahwa keadaan saat ini seperti itu. Tulisan ini lebih tepatnya kemarahan, menjadi burung Bul-Bul yang menyiram api dengan air di paruhnya yang kecil lebih baik. Karena saya ingin menempatkan diri di mana posisi saya saat ini. "Jika hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja sekadar bekerja, kerbau di sawah juga bekerja," kata Buya Hamka.

Karena tak ingin sekadar hidup dan bekerja, maka yang kita kerjakan mesti ada hasil dan progres. Benar pernyataan bahwa "hidup itu proses, proses itu hasil, hasil itu harus ada progres; jika tidak ada progres, hasil yang salah. Jika hasil yang salah, maka prosesnya juga salah".

Batu tadi yang saya bicarakan memiliki peran. Perannya adalah menghancurkan hati, pikiran, dan tindakan kita yang membatu. Menjadi bahan renungan bahwa elite pemerintah negeri ini bisa juga dikatakan masih membatu jika adanya sebagai pelengkap administrasi negara, negara formal yang melupakan esensial.

Rakyat marah karena karena mereka terlalu ramah pada kleptokrat. Yang mengatasnamakan mewakili tak lebih dari sekadar perwakilan, tujuannya lupa. Meraup suara sebanyak-banyaknya. Melupakan rakyat setelahnya. Habis manis, sepah di buang. Ini sudah lumrah.

Tapi, bukan berarti rakyat menyetujui. Sebenarnya juga, menyalahkan politisi seperti itu tidak ada gunanya jika rakyatnya masih mau seperti pepatah bilang, habis manis sepah dibuang.

Pembiaran dari rakyat akan memunculkan mereka yang hanya memikirkan pantat. Sekadar mengisi perut kosong mereka sendiri. Turun tangan peduli pada demokrasi dengan tetap menjaga akal sehatnya adalah bukti bahwa demokrasi itu masih bisa dijadikan sarana mencapai negara berperadaban. 

Batu penghambat pikiran untuk berpikir jernih atau penutup hati untuk melihat, hancurkan! Persatuanlah yang perlu membatu. Fondasi negara harus keras dan kuat. Negeri berperadaban sebagai kristalisasi dari cita masyarakat adil-makmur yang diridai Tuhan yang maha esa. 

Catat di batu keinginan kalian: jangan ada duka di negeri gemah ripah loh jinawi. Cita-cita pahlawan bangsa bukan memberikan peluang pada kecoak.