Researcher
1 minggu lalu · 52 view · 6 min baca · Ekonomi 38835_77531.jpg
anggipsr2.blogspot

Batu Biru, Batik, dan Perempuan

Minggu kedua bulan Agustus 2019, saya berkunjung ke Desa Batu Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan Madura, Jawa Timur. Kunjungan tersebut, di samping untuk survei perluasan kulakan bisnis batik, juga untuk belajar membatik kepada perempuan pengrajin batik.

Konon di Madura, batik karya tangan perempuan Batu Biru sangat tersohor karena kualitas super dan harganya yang lumayan mahal.

Saya sebagai pembisnis batik tulis Madura yang merintis usaha batik sejak tahun 2017 sedikit paham dengan kualitas batik di Madura, mulai dari batik Pekandangan Sumenep, batik Klampar Pamekasan, hingga batik Batu Biru Tanjung Bumi Bangkalan.

Saya akui bahwa dibandingkan karya tangan batik perempuan Pamekasan, karya tangan batik tulis perempuan Batu Biru lebih berkualitas, baik dari sisi makna corak dan motif pelukisan, pemilihan kualitas kain, bahan pewarna yang digunakan, proses pencelupan, pengeringan, penjualan, hingga harga yang dibanderol.

Masyarakat pengrajin batik di Batu Biru belum mengenal mesin produksi pencetak batik atau yang lazim disebut batik printing. Umumnya masyarakat Batu Biru memproduksi batik menggunakan tangan atau yang lazim disebut batik tulis.

Bagi mayoritas masyarakat Madura, batik dari Batu Biru adalah batik tulis dan bukan batik printing atau batik cap. Konsistensi batik tulis di Batu Biru dipertahankan dari generasi ke generasi. Sehingga kualitasnya tetap terjaga.

Di tengah-tengah persaingan kualitas batik di Madura, masyarakat Batu Biru, utamanya pengrajin batik, memiliki persoalan krusial, yaitu berkaitan dengan miskinnya regenerasi pengrajin batik dari generasi muda atau milenial.  

Tulisan ini mencoba mendokumentasikan narasi persoalan yang dihadapi oleh pengrajin batik di Desa Batu Biru, berkaitan dengan makin rendahnya minat gerenasi muda milenial ke batik tulis sebagai warisan leluhur.   


Tanjung Bumi dan Pembatik Perempuan

Tanjung Bumi adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bangkalan. Tepatnya berada di sepanjang pantai utara Madura. Tanjung Bumi adalah kecamatan yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Sampang di sebelah timurnya.

Pengrajin batik tulis berlokasi di Batu Biru. Desa ini berada tepat di kecamatan Tanjung Bumi. Tidak sulit untuk menemukan pengrajin batik di daerah ini. Karena ketika kita telah sampai di pasar kecamatan Tanjung Bumi, maka di samping kanan kini atau pinggir jalan sudah berdiri toko-toko batik Batu Biru.

Pengrajin batik berlokasi tak jauh dengan kecamatan. Kita bisa jalan kaki beberapa ratus meter ke arah utara dan selatan, maka di situ kita akan disuguhi pemandangan para perempuan Batu Biru menjemur batik di sepanjang jalan desa di depan rumahnya masing-masing.

Bagi saya yang lahir dan besar di daerah penghasil ikan dan petani tembakau, pemandangan seperti itu adalah pemandangan baru buat saya. Ya, karena di situ saya melihat bagaimana indahnya kain-kain hasil lukisan para perempuan dijemur rapi di depan halaman rumah.

Jika kita masuk ke dalam rumah penduduk, maka di situ kita akan menemukan ibu-ibu melukis kain putih menggunakan canting. Memang tidak semua rumah ibu-ibunya melukis, tetapi di Desa Batu Biru hampir mayoritas mata pencaharian kaum ibu adalah melukis batik.

Pengetahuan melukis batik, menurut narasumber Ibu Wiwik, diperoleh dari warisan pengetahuan dari pendahulu. Maksudnya, pengetahuan kerajinan batik Ibu Wiwik peroleh dari generasi ke generasi, yaitu dari nenek, ibu, hingga anak, yaitu Ibu Wiwik sendiri.

Begitu juga penuturan Ibu Khotim. Pengrajin batik tulis dari Batu Biru ini mengatakan bahwa pengetahuan melukis batik diperoleh dari nenek dan ibunya. Dari ketiga narasumber yang saya tanyakan, mereka semua menuturkan bahwa pengetahuan melukis batik adalah warisan nenek moyang.

Jauh sebelum program UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) bantuan dari Bank BRI datang, perempuan Desa Batu Biru telah memiliki pengetahuan membatik tanpa harus mengikuti training membatik dan memasarkan produk. Tapi tidak dapat dimungkiri bahwa kehadiran program dari Bank BRI juga memberi bantuan kepada pengrajin berupa bantuan dana pinjaman uang sebesar 20.000.000 - 50.000.000 rupiah ke masing-masing pengrajin batik.

Pengrajin batik yang mendapat bantuan dari Bank BRI tersebut masuk ke dalam kelompok mitra UMKM Bank BRI, sehingga mereka dikenakan hak dan kewajiban. Haknya adalah mendapat dana pinjaman dan fasilitas pemasaran produk, sedangkan kewajibannya adalah harus memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) sehingga setiap tahun semua mitra harus membayar pajak kepada pemerintah.


Untuk melihat pengrajin batik yang bermitra dengan Bank BRI di Desa Batu Biru sangatlah mudah. Kita bisa lihat plang bertuliskan "Mitra Bank BRI America Express Mutiara" di depan masing-masing rumah pengrajin batik atau masing-masing toko batik di Batu Biru.

Sepanjang jalan kecil di Batu Biru, saya melihat tidak semua pengrajin batik bermitra dengan Bank BRI. Menurut Ibu Khotim, bermitra dengan pemerintah sangat ribet karena setiap bulan harus laporan, harus hadir di setiap pertemuan rutin, dan harus bayar pajak.

Apa yang disampaikan oleh Ibu Khotim mungkin juga menjadi alasan tersendiri kenapa di setiap rumah pengrajin batik di Batu Biru tidak semua bertuliskan plang mitra BRI.

Seperti rumah milik ibu Wiwik yang menjadi sentra usaha batik tulis dengan jumlah pengrajin perempuan sebanyak 50 orang. Ibu Wiwik tidak bermitra dengan Bank BRI. Apa pun alasan pengrajin batik untuk memilih bermitra dengan Bank BRI atau tidak, yang jelas usaha batik di Batu Biru tetap menggeliat seiring dengan banyaknya pesanan seragam batik.

Uniknya, mereka yang aktif di usaha perbatikan adalah para perempuan. Mulai dari membuat pola, menggambar, memberi tinta menggunakan canting, mencelup, merendam, menjemur, melipat, dan memasarkan produk batik adalah para perempuan.

Seperti penuturan Ibu Khotim bahwa para laki-laki atau suami "membantu" para perempuan dalam memproduksi batik. Karena sifatnya membantu, maka pekerjaan membatik lebih didominasi oleh perempuan.

Akan tetapi, masyarakat Batu Biru, utamanya para responden yang saya temui, mereka mengeluhkan tentang miskinnya regenerasi pembatik dari kalangan anak muda. Persoalan langkanya pengrajin batik dari kalangan anak muda sangat berkaitan dengan eksistensi batik Batu Biru di masa yang akan datang.

Pergeseran Paradigma tentang Batik 

Berdasarkan cerita Ibu Wiwik bahwa semua putra-putri Ibu Wiwik melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Dua anaknya bekerja di instansi pemerintah sebagai tenaga ASN (Aparatur Sipil Negara). Sedangkan putri bungsunya kuliah kedokteran di UNAIR Surabaya.

Ibu Wiwik menuturkan bahwa anak-anaknya lebih tertarik dan memilih menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) ketimbang melanjutkan bisnis keluarga yang bahkan Ibu Wiwik adalah generasi ke-3 yang meneruskan bisnis keluarga. Jika dihitung berdasarkan angka, kurang lebih 50 tahun Ibu Wiwik berkecimpung di dunia perbatikan Batu Biru.


Di sini saya bisa mengatakan bahwa minat tinggi kepada pendidikan tidak membuat anak-anak muda di Batu Biru tertarik meneruskan usaha keluarga. Malah sebaliknya, ingin mendapatkan pekerjaan berbeda.

Padahal jika diukur berdasarkan perputaran bisnis dan uang, menjadi pengrajin batik prospek pemberdayaan ekonomi lebih cemerlang ketimbang menjadi tenaga PNS. Hal itu karena menjadi PNS, menerima uang hanya di awal bulan. Sedangkan dalam bisnis batik, uang masuk bisa tiap hari bahkan tiap waktu.

Berbeda halnya dengan penuturan Ibu Khotim bahwa pengrajin batik yang dulu berjumlah 30 orang perempuan, sekarang sisa 12 orang perempuan. Hal itu karena separuh pengrajin batik yang tidak berpendidikan tinggi memilih merantau ke Kalimantan, Malaysia, dan Arab Saudi untuk menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT).   

Asumsi sebagian masyarakat Batu Biru bahwa menjadi PRT di negeri orang lebih "keren" ketimbang menjadi pengrajin batik di kampung sendiri. Karena asumsi tersebut menjadikan banyak perempuan muda di Batu Biru yang memilih merantau ke luar kampung.

Dampaknya adalah Batu Biru minim pengrajin batik perempuan muda karena mereka berbondong-bondong merantau ke luar negeri.

Pergeseran paradigma tentang pekerjaan menjadi pengrajin batik yang "kalah" keren dengan menjadi PNS atau menjadi PRT menjadikan Desa Batu Biru "miskin" pengrajin batik perempuan muda.    

Menurut saya, ini adalah persoalan besar. Pemerintah beserta pemangku desa bertanggung jawab bagaimana caranya mempertahankan perempuan pengrajin batik Batu Biru agar tidak punah. Karena batik tulis Batu Biru adalah warisan kebudayaan Madura, Nusantara, Indonesia, dan dunia.

Artikel Terkait