Sepekan terakhir ramai diperbincangkan sebuah film dokumenter Sexy Killer oleh Watchdoc yang mengupas tentang tambang batu bara, keresahan kaum marjinal, beserta penampakan para penguasa yang terlibat di dalamnya.

Betapa banyaknya korban jiwa yang diakibatkan oleh lokasi penambangan batu bara. Tercatat di Kalimantan Timur, dari 2011 hingga 2018, 32 jiwa melayang; dan di nasional, 2014 hingga 2018, 115 jiwa melayang. Salah satu penyebabnya ialah lokasi penambangan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Siapa sangka mafia tambang batu bara berasal dari elite politik dua kubu yang akan menjadi penguasa negara. Tidak hanya itu, film ini juga memperlihatkan solusi dari warga yang cerdas mengatasi permasalan listrik.

Batu bara merupakan salah satu bahan bakar fosil. Batuan sedimen yang terbentuk dari endapan organik, utamanya sisa-sisa tumbuhan, dan terbentuk dari proses pembatubaraan yang dapat terbakar.

Batu bara adalah sumber energi terpenting untuk pembangkit listrik, juga sebagai bahan pokok untuk produksi baja dan semen. Batu bara juga energi paling ekonomis dan cepat dibanding gas 1000/khw, BBM 1600/khw, hingga matahari 2900/kwh; batu bara hanya 600/kwh saja.

Kendati demikian, PLTU batu bara, lokasi penambangan batu bara, menimbulkan dampak lingkungan dan keresahan bagi masyarakat.

Indonesia kini menghadapi konflik seputar kebijakan tata guna tanah, yang dapat memengaruhi kemampuan negara untuk kesejahteraan penduduknya yang kian tumbuh. Salah satu konflik tersebut ialah pertambangan serta jutaan hektare tanah pertanian yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan batu bara.

Seperti yang menjadi keresahan masyarakat desa saat ini, yakni tentang bagaimana pertambangan batu bara dapat melemahkan produktivitas pertanian, terutama dampak batu bara terhadap produksi padi saat ini dan di masa depan.

Melansir dari Greenpeace Indonesia, sektor pertambangan batu bara telah menjadi komoditas politik dan sumber pendanaan kampanye politik di Indonesia selama 20 tahun terakhir, baik di tingkat nasional maupun daerah. Ketertarikan yang erat dengan kebijakan dan regulasi pemerintah, royalti, pajak, serta infrastruktur pemerintah, mendorong sektor ini terpapar korupsi politik. Hal ini juga digambarkan dalam Auriga, JATAM, dan ICW di Jakarta.

Laporan yang bertajuk “Coalruption: Elite Politik dalam Pusaran Bisnis Batubara” ini mengungkap bagaimana elite politik atau elite politically exposed persons menyatukan kepentingan bisnis dan politik di sektor pertambangan batu bara. 

Ada elite politik dengan konflik kepentingan politik yang besar di bisnis batu bara, contohnya Luhut Binsar Pandjaitan yang membawahi sektor pertambangan dan energi, merupakan pemegang saham PT Toba Sejahtera. Ia juga merupakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan tergabung juga dalam tim bravo lima tim pemenangan calon presiden petahana.

Terlepas dari itu semua, penolakan terhadap tambang batu bara makin meluas di berbagai wilayah Indonesia, terutama desa-desa yang mengandalkan hasil alam untuk melanjutkan hidup.

Salah satu contohnya yang dipertontonkan dalam film Sexy Killers adalah Bapak Nyoman, seorang transmigran dari Bali tahun 1980. 10 tahun setelah ia menetap di Kalimantan Timur, perusahaan batu bara datang merusak jalur air untuk sawah-sawah mereka. Nyoman protes dengan menghadang alat berat, kemudian ditangkap dan dibui selama tiga bulan dengan alasan mengganggu jalannya operasional perusahaan.

Saat ini, bersama masyarakat mahasiswa Riau juga sedang mencanangkan terkait aksi tolak tambang batu bara di Kenegerian Pangkalan Kapas, Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Warga yang terbiasa hidup dalam keterbatasan infrastruktur ini bakal terancam jika saja tambang batu bara jadi menguras batu bara di perut bumi yang mereka tinggali.

Tambang batu bara yang beroperasi menyisakan tanah yang tandus. Daerah tangkapan air bersih menjadi tercekik dan air tanah yang habis.

Pertambangan batu baru telah lama diasumsikan akan menghancurkan potensi cocok tanam pada tanah yang ditempatinya. Terlebih perusahaan-perusahaan yang menghindari tunduk pada regulasi nasional yang terbatas tentang rehabilitasi lahan dan perlindungan air.

Sejatinya, Indonesia tidak mampu kehilangan tanah penghasil pangan yang berharga. Indonesia harusnya juga tidak dapat membiarkan sumber daya airnya terpapar polusi dan dicemari oleh endapan yang akan menyuburkan tanaman. Jika negara ini ingin terus menghidupi warganya, pemerintah sudah seyoganya mengubah perioritas tata guna tanah surga ini secara radikal.

Tidak dapat dimungkiri bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi terhadap dan dampak pertambangan batu bara yang ada di Indonesia. Pemerintah mesti menyadari bahwa tugasnya adalah memastikan masa depan yang dimotori oleh energi bersih dan terbarukan.

Dengan demikian, kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial serta dampak buruk bagi kerusakan iklim bisa dihindari.

Secara teoritis, usaha tambang batu bara memang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat, yakni dengan mempekerjakan masyarakat setempat, sehingga membantu ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi, fakta lapangan cenderung bertolak belakang dengan ini.

Adapun upaya penanggulangan dan pencegahan yang diakibatkan penambangan dapat ditempuh dengan beberapa pendekatan, dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu, sebagai berikut ini:

Pertama, pendekatan teknologi, dengan orientasi teknologi preventif, yaitu mengembangkan sarana jalur khusus bagi pengangkutan batu bara sehinnga akan mengurangi kesemrawutan transportasi. Pejalan kaki akan terhindar dari ruang udara yang kotor. Menggunakan masker debu agar meminimalisasi risiko terpapar debu batu bara.

Kedua, perdekatan lingkungan yang ditujukan pada penataan lingkungan sehingga terhindar dari kerugian yang diakibatkan kerusakan lingkungan. Upaya reklamasi dan penghijauan kembali bekas penambangan batu bara dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk malaria.

Ketiga, pendekatan administratif yang mana semua pihak dalam kegiatan pengusahaan penambangan batu bara tersebut mematuhi regulasi yang berlaku.

Keempat, pendekatan edukatif kepada masyarakat yang dilakukan serta dikembangkan untuk mengedukasi dan memberi penyuluhan terus menerus memberi motivasi perubahan prilaku dan membangkitkan kesadaran untuk memelihara kelestarian lingkungan.