Wiraswasta
1 bulan lalu · 21 view · 4 min baca menit baca · Budaya 91352_77749.jpg

Batik Giriloyo Yang Enggan Loyo

Berada di Giriloyo, sebagian diri Anda akan terlempar ke masa lalu

Istimewanya tempat ini adalah pemandangan alamnya yang memukau. Hamparan sawah masih bisa ditemui. Kesejukan dan tradisi masyarakatnya masih bisa direngkuh dengan mudahnya tanpa batasan. Berada di Giriloyo, sebagian diri Anda akan terlempar pada masa lalu.

Berada di bawah kaki perbukitan Imogiri, jarak dari Kota Jogja berkisar 15 kilometer. Imogiri sendiri dikenal sebagai tempat makamnya raja-raja Mataram Islam. 

Giriloyo merupakan dusun di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi DI Yogyakarta dengan suasana pedesaan yang cenderung sepi dan sunyi meski roda kemajuan zaman berputar sangat. Sifat gotong-royong masih hidup dengan segala sikap kebersamaan.

Kerajinan batik Giriloyo diperkirakan mulai hadir sejak abad ke-17, masa kepemimpinan Raja Sultan Agung. Dan Raja Sultan Agung pula yang memerintahkan dibangun makam raja Imogiri. Karena memiliki tempat sakral, maka ditempatkan juru kunci dan abdi dalem keraton lainnya di wilayah Imogiri yang bertugas menjaga makam tersebut.

Kehadiran juru kunci dan abdi dalem keraton tersebut menimbulkan interaksi dengan masyarakat setempat. Tradisi dan budaya yang ada di dalam keraton, diperkenalkan di wilayah ini. Salah-satunya adalah tradisi pembatikan. Warga setempat diajarkan cara membatik dan kemudian menjadi bekal keahlian yang dijalankan hingga saat ini. Kebanyakan warga Giriloyo mahir minimal mencanting.  

Kerajinan batik Giriloyo berjalan senyap namun masif. Hasil-hasil pembatikan warga Giriloyo mengalir deras ke Kota Jogja dan penjual di sekitaran Keraton Jogja. Pesanan tak pernah sepi dari para penjual maupun juragan batik yang menggunakan jasa perajin batik Giriloyo. Dan wilayah ini kemudian dipandang sebagai obyek wisata menarik oleh pemerintah yang mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tanggal 27 Mei 2007, perajin batik Giriloyo berkolaburasi membuat aksi membatik selendang dengan panjang 1200 meter. Aksi ini memecahkan rekor dan dicatat dalam MURI sebagai batik terpanjang di Indonesia. 


Upaya ini untuk menunjukkan kebangkitan batik Giriloyo yang memiliki paradigma baru dalam membatik yakni perajin batik mandiri.     

Di tahun yang sama hingga 2008, pemerintah pula mengucurkan dana bantuan ke Giriloyo untuk perbaikan sarana dan prasarana seperti perbaikan akses jalan menuju Sentra Batik Giriloyo. Salah-satu LSM bahkan menyumbangkan pembangunan gazebo untuk pameran dan belajar membatik bagi masyarakat setempat maupun wisatawan.

Ketika batik dinobatkan oleh UNESCO sebagai warisan tak benda 2 Oktober 2009, popularitas Giriloyo meningkat, menguatkan penilaian UNESCO tersebut, menunjukkan tanda-tanda keberadaan batik di Indonesia masih hidup.

Ketika kerajinan batik tulis mulai mendapatkan pengakuan dunia, sentra kerajinan batik di berbagai daerah di Indonesia pun turut menuai berkah. Tak terkecuali para perajin di sentra batik tulis Giriloyo, di Kecamatan Imogiri, Bantul.

Jarak antara sentra batik Giriloyo dengan Imogiri tempat makam para raja keraton Jawa tersebut hanya berjarak sekitar 1 kilometer. Oleh penyedia jasa perjalanan wisata, Imogiri dan Giriloyo dimasukkan dalam satu ittenerary perjalanannya, hingga hampir setiap hari kedatangan rombongan tamu dari berbagai daerah, juga dari beberapa negara.

Mereka singgah ke Giriloyo untuk sekedar melihat proses pembuatan batik tulis tradisional, ada juga yang ingin belajar membatik, dan juga belanja batik tulis khas Yogyakarta.

Meski kini sudah banyak batik setempat dijual di tempat, pada waktu sebelumnya Giriloyo hanya berupa sentra kerajinan yang dilakukan di rumah-rumah penduduk. Hasil kerajinannya dipasarkan di Yogyakarta dan menjadi identik dengan batik Jogja. 

Ada banyak juragan yang bukan warga setempat, memanfaatkan keahlian pembatik Giriloyo untuk produksi. Oleh juragan tersebut dijual nama Giriloyo sebagai kualitas terbaik pembatikan khas Jogja.

Ada yang membatik di Giriloyo, ada juga yang membatik di sekitaran lingkungan kraton. Letaknya tak jauh dari Museum Kereta Kencana Kraton Jogja. Jika kebetulan Anda sedang tandang ke Keraton Jogja dan Museum Kereta Kencana, sempatkan untuk tandang. Umumnya guide yang mendampingi Anda akan menawarkan kunjungan ke perajin batik sekitar situ.

Perajin batik di lingkungan keraton kebanyakan adalah orang Giriloyo. Anda bisa melihat langsung proses pembatikannya atau mencari batik tulis Jogja yang memikat. Kerajinan batik Giriloyo dilakukan turun-temurun.


Penampakan batik Giriloyo memiliki kepadatan motif dan corak. Utamanya yang bernilai tinggi adalah yang punya motif lawasan atau motif keraton. Pada awalnya, batik keraton tidak diperbolehkan digunakan oleh masyarakat umum hingga disebut juga sebagai batik larangan.

Di film Sultan Agung besutan Hanung Bramantyo contohnya, dianggap memiliki cacad riset dalam menampilkan kain batik yang digunakan Sultan Agung. Di situ terlihat kain batik yang dipergunakan Sultan Agung bermotif parang kecil. Sedangkan abdi dalemnya menggunakan motif sama namun berukuran parang besar.

Motif parang sendiri adalah motif kramat yang dibuat oleh ibu Sultan Agung untuk dikenakan pada anaknya saat naik tahta. Kesalahan tersebut sempat dikritik oleh GKR Bendara, anak Sri Sultan Hamengkubuwono X di instagramnya.

"Aduuuh duh duh... hancur hati ku... yg memerankan Sultan Agung kok ya pake parang yg kecil dan warna nya biru pula. Padahal yg membuat Parang Barong adalah Ibu beliau. Malah yg memerankan Abdi dalem di belakangnya yg pake Parang lbh besar. Iki piye iki piye jal. Check di FB kratonjogja aja ada loh referensinya," tulis GKR Bendara.

Sejarah batik tak lepas dari perkembangannya di lingkungan keraton, utamanya Keraton Jogja dan Solo. Batik diproduksi di luar keraton karena pada masanya diminati oleh masyarakat. Dilakukan oleh saudagar untuk memenuhi permintaan pasar, meski motif-motifnya menyadur motif larangan keraton, tetapi dibuat pembedanya dengan menambahkan motif atau warna yang tidak ada dalam motif asli keraton.

Jika Anda penyuka batik, perlu diingat bahwa batik printing atau tekstil motif batik oleh kalangan pelestarinya tidak disebut batik asli. Yang dimaksud batik asli adalah dibuat secara handmade, bukan dengan mesin.

Batik Giriloyo bertahan tak ingin loyo, tetap melahirkan batik tulis handmade untuk keorisinilan batik. Rugi tak memilikinya.

Artikel Terkait