Indonesia adalah sebuah Negara yang di dalamnya terdapat berbagai macam budaya. Begitu bayak budaya yang dilahirkan dalam rahim sang Ibu Pertiwi. Bagaimanapun juga budaya itu lahir akibat proses relasi sosial yang tidak sebentar.

Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai beribu-ribu budaya kecuali di Indonesia. Secara geografis ini disebabkan oleh negara kita yang notabene adalah negara kepulauan, dimana pulau satu dengan yang lainya berbeda dalam segala bidang dan bidang-bidang tersebut akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan menjadi habit yang berbeda pula.

Dari berbagai macam bentuk budaya tersebut, baik dalam budaya berprilaku sehari-hari, ritual keagamaan, sampai berpakaian, semuanya melambangkan spiritual, intelektual, mental dan terutama ketauhidan yang tersembunyi dalam simbol-simbol budaya.

Oleh sebab itu, di sini saya akan mencoba menjelaskan satu sampel saja dari budaya cara berpakaian atau bentuk pakaian. Untuk lebih spesifik lagi, saya mengambil corak batik dalam budaya berpakaian orang Jawa. Apakah ada sisi spiritual dan ketauhidan dalam pakaian batik tersebut?

Secara filosofis, batik diambil dari huruf “Ba” (huruf hijaiyah ke dua setelah alif dalam urutan huruf Arab), sedangkan “Tik” merupakan “Titik” yang ada di bawah huruf “Ba”. Dengan demikian batik adalah hakikat atau filosofi dari huruf Ba itu sendiri. Ini tidak mengherankan bagi masyarakat Jawa sebab, mereka berkeyakinan bahwa semua huruf Hijaiyyah mempunyai maknanya sendiri-sendiri, dan semuanya itu merupakan cerminan dari huruf pertama, yaitu alif yang melambangkan ketauhidan.

Huruf Ba juga merupakan kumpulan –atau katakanlah Gudang− bagi semua surat yang ada dalam Al-Qur’an. Sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi: “Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur'an. Dan seluruh kandungan Al-Qur'an ada di dalam Al-Fatihah. Dan semua yang  ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Basmallah. Dan setiap kandungan yang ada dalam Basmallah ada di dalam huruf Ba. Dan setiap yang terkandung di dalam Ba ada di dalam titik yang berada di bawah Ba".

Sebagian para Arifin ( orang yang sangat dekat kepada Allah) menegaskan, "Dalam perspektif orang yang ma'rifat kepada Allah, Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan "kun” (Ada/eksis). Kun itu sendiri adalah hakikat dari alam semesta ini baik yang mikro maupun yang makro kosmos.

Ini menandakan bahwa huruf Ba itu mempunyai makna ketauhidan dan kemanusiaan. Dalam hal kemanusiaan tercermin dalam garisnya. Garis melengkung yang merupakan manifestasi dari alif ini menggambarkan kehidupan manusia yang harmonis dan rukun, tidak terpotong-potong oleh permusuhan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Garis melengkung itu juga melambangkan gotong royong manusia dalam rangka mecapai kebahagiaan yang hakiki yang tercermin dalam titik.

Maka dari itu, proses pembuatan kain batik ini −yang khas Indonesia− membutuhkan waktu yang cukup lama dan pembuatnya pun dituntut untuk memahami hal yang di atas tadi. Dengan diawali dengan berdoa, pembuat batik mulai menggoreskan cantingnya dan mengukir keagungan tuhan pada sebuah kain dengan kadar estetis yang sangat tinggi.

Oleh karenanya batik yang pertama ada di Indonesia adalah batik yang bercorak bunga yang dibuat setengah lingkaran menyeupai huuf Ba, dan setengah lingkaran tersebut bergandengan dengan melingkari titik satu yang ada di tengah. Sesuai dengan perkemBangan zaman, motif batik pun semakin berkembang.

Sekarang yang menjadi masalah adalah ketika batik seagai karya seni yang sarat nilai terseut dihadapkan dengan pasar bebas dengan Cina sebagai wakilnya. Sudah barang tentu pembuatan batik ala Cina tidak melalui proses seperti yang dilakukan orang Indonesia.

Pembuatan batik ala Cina melalui pencetakan dengan motif tertentu dengan menggunakan mesin. Tentu saja proses tersebut dengan sekejap saja menghasilkan produk yang sangat banyak, sebab orientasi utama Cina adalah pasar dan konsumen yang mudah dibodohi dan ditambah lagi dengan harga yang murah.

Satu perbedaan yang sangat mencolok adalah, bahwa dalam proses pembuatan batik yang asli, yaitu batik Indonesia, seorang pembuat harus terlebih dahulu paham dengan filosofi batik dan ketauhidan yang ada di dalamnya, dan seorang pembuat akan menggunakan hati dan perasaanya ketika hendak membuat batik.

Sedangkan pembuat batik ala Cina, ia tidak paham dengan semua itu, ia masa-bodo dengan semua itu, yang terpenting ia untung banyak dengan penjualanya. pembuatanya pun dengan mesin yang kasar.

Oleh karena itu, demi menumbuhkan kembali sifat ketauhidan itu, marilah kita kembali pada produk batik khas Indonesia demi melestarikan budaya batik kita dan juga melancarkan perekonomian Indonesia. Dan yang terpenting, disadari atau tidak, ketika hendak memakai batik berarti kita sedang mengembangakan atau menjalankan konsep tauhid yang tersembunyi dalam symbol batik.