"Habis berbatang-batang, tuan belum datang. Dalam hati resah menjerit bimbang. Apakah esok hari anak-anakku dapat makan? Oh tuhan beri setetes rezeki"

Seperti itu kira-kira, Iwan Fals, dalam lagunya yang berjudul "Doa Pengobral Dosa" ingin memberikan perspektif lain kepada pendengarnya ihwal kehidupan para pelaku esek-esek pinggir jalan atau rel kereta api, atau yang disebut anak-anak jaman sekarang sebagai: henceutprener

Iwan ingin menjelaskan bahwa hidup—bagi orang-orang itu—bukan saja soal menjual diri, mengais rupiah dari kantong para bajingan atau menjadikan dosa sebagai gaya hidup; melainkan soal menjadi korban dari tanggung jawab yang tak sepatutnya, yang jelas saja menjadi tak terelakkan.

Dari tamu yang tak kunjung datang setelah lama ditunggu, yang cuman bikin hati menjerit bimbang karena khawatir anak-anak enggak bisa makan esok harinya, dan pada akhirnya menengadahkan dahi menatap langit sembari komat-kamit dalam hati "tuhan.. Ku mohon setetes rezeki darimu".

Ini membuat Saya bertanya-tanya. Apakah ini konstanta "menunggu" itu, berjerih payah dalam hal usaha, lalu ketika tak kunjung juga hasil didapat, doa menjadi semacam gacoan?

Saya kira, ada kalanya menunggu memang harus seperti itu. Namun bukan berarti juga menjadi suatu ketetapan alam. Menunggu pun ada kalanya hanya soal koar-koar di jagat maya, viral, lalu Pak Polisi turun tangan sebagai endingnya. Tanpa ada jeritan keresahan dan bimbang di hati, atau hiatus tertentu untuk mengisi luangnya waktu ketika menunggu.

Kasus affiliator forex sebagai misal. Dalam kasus tersebut, netizen yang kesal akan sikap flexing-flexingan dan tahu akan seluk-beluk bisnis per-tradingan selalu "menunggu dalam julid" adegan terlaksananya fiat justitia terhadap orang-orang itu.

Berisik di media sosial, isu yang jadi naik daun dan akhirnya Polisi pun turun tangan. Alhasil, Indra Kenz dijadikan tersangka penipuan pada akhir Februari lalu, disusul Dony Salmanan pada 8 Maret 2022 dan Nodiewakgenk yang sedang dalam antrean hari-hari ini. Sungguh, penungguan yang "murah beuttt" memang.

***

Soal affiliator ini, memang suka banget bikin jengkel orang banyak. Bukan cuman karena sikap suka pamernya doang, tapi juga soal kelakuan hidupnya yang kadang-kadang (dan sok-sokan) bertolak belakang dengan hukum alam. Indra Kenz misalnya, di saat orang-orang dibikin susah dan jadi miskin gara-gara pandemi, Ia malah launching buku "Terlahir Miskin = Privilege".

Judul buku itu, dalam hemat saya: seolah-olah ingin bersimpati, tapi sekaligus mengolok-olok dan mengamini khalayak yang ter dampak pandemi. Sontak saja, seolah semesta pun mengamini, Ia menjadi labuhan hujatan netizen karena ulahnya itu.

Padahal, jika saja ditambahkan tanda "?" Atau kalimat "benarkah?" pada akhir judul bukunya, mungkin akan terlihat seperti kumpulan pergulatan ide, bukan layaknya sebuah ketetapan baru yang dianggap sebagai anti-tesis dari ketetapan yang sudah berusia ribuan tahun lamanya: "Kaya = Privilese", misalnya.

Ngomongin soal privilese, rasa-rasanya, privilese itu bikin orang-orang jadi hipokrit enggak sih? Ketika memilikinya akan merasa beruntung lalu memanfaatkannya. Sedangkan ketika (merasa) tidak memilikinya, orang-orang akan berperan menjadi bom waktu bagi bangunan yang bernama kesuksesan (orang lain). "Check your privilege", yah, seperti itu kira-kira salah satu bunyi bom waktu tersebut.

Putry Tanjung sebagai misal. Dengan terlahir sebagai anak konglomerat, Ia memanfaatkan privilese itu pada akses pendidikan, relasi dan modal usaha. Namun, dengan segudang privilese yang dieksploitasi dengan cukup baik, tak lantas memberikan Ia privilese yang lebih mantap, yang bikin kita merasa kayak dewa: omongan yang tak perlu divalidasi. Maksudnya, orang-orang cuman nggih-nggih aja, mengamini sambil percaya pada setiap apa pun omongan yang keluar dari mulutnya.

Misalnya ketika Ia berbicara mengenai kesuksesan, beuuhhh, bunyi bom waktu para netizen rasanya lebih nyaring daripada lagu-lagu bang Iwan. Seolah-olah tak adil, bijak dan enggak pantes sama sekali orang dengan privilese yang berjibun ngomongin hal yang harus diperoleh dengan usaha yang berdarah-darah macam kesuksesan ini. Sekali waktu, netizen ada benernya juga sih.

***

Orang jadi hipokrit atau nyinyir soal privilese itu, mungkin, karena mereka menunggu privilese itu sendiri untuk melekat pada dirinya. Padahal menunggu hal yang kayak gitu itu layaknya sebuah itikad membangun gundukan rasa cua. Tidak akan pernah meriah pada akhirannya.

Pada esensinya, mau seperti apa pun jenis dan cara menunggu itu, menunggu adalah tentang harapan yang belum berlabuh. Ada yang ditunggu karena ada yang diharap. Karena ada yang di harap, mau tidak mau harus ada yang ditunggu. Kira-kira begitu deh simpelnya.

Saya kira, hanya karena menunggu, manusia bisa terjebak pada bias aktualisasi. Berperilaku dan berprinsip hidup dengan mengorientasikan diri pada pengejawantahan imajinasi/hasrat yang melenceng jauh dari taraf realitas dan rasionalitas. Ter karamkannya diri pada lautan yang bernama "kesedihan" dan "kesengsaraan" sudah pasti menjadi konsekuensi.

Sedangkan sebaliknya, jika mengorientasikan diri pada hal-hal yang realistis dan masuk akal, maka menunggu bukan saja menjadi murah dan meriah, akan tetapi menjadi suatu hal yang mengasyikkan. Terlebih, jika hasil yang didapat melebih apa yang diekspektasikan, sudah pasti "kebahagiaan yang ter amplifikasi" akan menjadi ganjaran.

Pertanyaannya kemudian: apakah salah bagi orang-orang yang tinggal di pelosok kampung ,kayak Saya ini,  yang enggak punya privilese (versi orang banyak), atau yang punya gajih UMR dengan biaya transportasi lebih dari setengah gajih—yang notabene secara sumber daya dan oportunitas sangat kecil untuk menjadi orang kaya—mempunyai harapan untuk jadi kaya raya?

Jawabannya: ya tentu enggak salah sama sekali. Asal, menjadikan realitas dan rasionalitas sebagai treshold dari harapan kita itu. Dengan tujuan, agar menghasilkan penungguan yang murah, meriah nan mengasyikkan.

Pertanyaannya (lagi) kemudian: dengan menetapkan realitas dan rasionalitas sebagai tolak ukur dari harapan kita untuk menjadi kaya raya, apakah dimungkinkan untuk menjadi kaya raya dengan cara saksama dan waktu yang sesingkat-singkatnya? Jawabannya: bisa. Tentu saja sangat bisa.

Daftar akun binomo, depo, maen dikalah-kalahin, lalu daftar jadi affiliator; kemudian, petakilan di berbagai platform media sosial, bikin jargon-jargon agitatif seperti "murah beuttt" misalnya, lalu diakhiri dengan membuat grup telegram sebagai sarana mabar untuk membuayai; dan duarrr, "banyak orang yang tidak menyadari" bahwa dalam 3 tahun saldo rekening Anda sudah ratusan miliar dengan tempat tinggal rumah gedongan, jam RM di pergelangan tangan dan Lambo di bagasi rumah. Nunggu kok bisa request pengen cepet atau enggaknya, aneh-aneh aja!!

Manusia, dengan segala fitrahnya memanglah makhluk yang tidak terbatas. Namun, apa salahnya juga jika mengasihani diri sendiri. Toh privilese menjadi manusia adalah memiliki kebebasan untuk memilih, kan? Memilih jenis dan cara penungguan serta harapan seperti apa, misalnya.