Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari keberadaan orang yang ada di sekitarnya. Sebagai manusia yang bertetangga, tidak bisa kita pungkiri akan selalu membutuhkan bantuan tetangga kemanapun pergi, tidak mengetahui jalan dengan jelas pasti kita akan bertanya kepada seseorang.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari sudah selayaknya, manusia sebagai mahluk yang tidak hidup sendirian membutuhkkan kehadiran orang lain disisinya. Entah sadar atau tidak, kehadiran bantuan orang lain baik dalam skala kecil maupun besar membutuhkan uluran tangan orang lain.

Sehingga dalam bergaul, manusia tidak boleh acuh terhadap sesuatu yang terjadi di depannya. Melainkan harus pro aktif memberikan bantuan, baik dalam bentuk tenaga, pikiran maupun uang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Namun persoalannya, dalam interkasi dengan masyarakat ada pihak tertentu yang tidak peka terhadap respon dan kenyamanan lingkungan sekitarnya. Apalagi pihak yang menampilkan prilaku tersebut adalah public figure yang sekaligus pejabat publik di kota tersebut. Walaupun, urusan penampilan sepenuhnya adalah hak dan selera masing-masing namun ketika menjadi orang yang dipandang maka urusannya akan menjadi pusat perhatian  masyarakat.

Bukan Sekedar berpenampilan 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan berpenampilan sesuai dengan kebutuhan dimana kita menerapan berpenampilan. Berangkat kondangan ke resepsi pernikahan misalnya, pasti dengan sendirinya model pakaian, alas kaki yang dikenakan akan disesuaikan dengan momennya.

Pada umumnya, masyarakat yang akan menghadiri resepsi pernikahan mengenakan pakain batik, celana panjang, sepatu pantopel dan minyak rambut sebagai alat untuk memperindah kondisi rambut. Begitupun ketika akan beribadah, busana akan ditempatkan sebagai tolak ukur utama dengan memakai pakaian yang rapih sesuai tradisi pakaian ibadahnya masing-masing.

Bagi umat Islam, shalat ke mesjid pada umumnya mengenakan sarung, baju koko, dan penutup kepala sesuai dengan seleranya. Bagi umat non muslim pun demikian, mengenakan pakaian rapih lengkap dengan kebutuhan untuk kelancaran ibadahnya.

Bagi masyarakat yang tidak ada ikatan dinas apalagi menyangkut urusan tokoh masyarakat bahkan menjadi idola kaum sebagian masyarakat, maka dalam berpenampilan harus menjadi bagian ikhtiar baik agar tidak menjadi contoh yang kurang baik.

Terlepas model pakaian, sepatu, ikat pinggang, model rambut sesuai tingkatan umur. Pasti setiap orang mempunyai seleranya masing-masing. Dengan dalih hak asasi setiap orang boleh berpenampilan sesuai seleranya.

Namun, lain hal public figur yang kini sedang mendapat sorotan adalah Sigit Purnomo yang akrab disapa Pasha Ungu Wakil Wali Kota Palu dan pentolan grup bang terkenal Ungu, menjadi perbincangan hangat di jagat maya ketika video wawancara di stasiun TV swasta dengan model rambut nyeleneh.

Sontak saja penampilan Pasha Ungu tersebut menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Dilihat dari latar belakangnya, seorang Pasha Ungu dengan penampilan demikian boleh dibilang wajar-wajar saja, karena hidup seseorang tidak  bisa lepas dari masa lalunya. Motivator sejagat Indonesia, Mario Teguh mengatakan belum bisa “mov on” dari masa lalunya.

Tidak ketinggalan sampai Mendagri, Tjahjo Kumolo pun akhirnya angkat bicara. Kata Tjahjo, dalam aturan, tak ada norma yang mengatur soal gaya rambut seorang pejabat publik. Jadi agak susah, jika kemudian Pasha dianggap melanggar aturan. Sebab tidak ada aturan tentang itu. Asal tak gondrong, orang nomor satu di Kementerian Dalam Negeri itu tak mempermasalahkan gaya rambut nyeleneh Pasha Ungu.

 “Menurut saya, Pasha sebagai wakil kepala daerah dari foto yang beredar tidak menyalahi UU atau peraturan. Seragam sudah benar. Soal potongan rambut wajar saja, mau cepak atau mau gundul sah-sah saja. Yang diatur tidak boleh gondrong atau panjang, sebagaimana dikutip dari laman Koran Jakarta.com (23/1/2018).

Menurut penulis, lain masalahnya kalau yang berpenampilan bukan seorang public figur dengan sendirinya tidak akan menjadi bahan perbincangan masyarakat. Harus disadari bahwa Pasha Ungu adalah ex artis yang belum bisa mov on dari masa lalunya sebagai mantan vokalis Ungu.

Dilihat dari seorang diri yang tidak ada kaitan dengan pejabat public pun, tentu akan menjadi bahan rujukan penampilan anak-anak muda Indonesia dalam mode gaya rambut masa kini. Apalagi, kini Pasha mempunyai tugas sebagai pejabat public, yang tentu setiap perkataan, sikap, bahkan penampilannya akan selalu mendapatkan perhatian masyarakat.

Dalam kontek pendidikan, saya pikir ini menjadi role model bagi anak-anak remaja Indonesia yang sedang mencari jati diri akan meniru model rambut Wakil Wali Kota Palu tersebut.

Lantas, jika anak-anak remaja kita beralih model rambutnya seperti yang dicontohkan oleh Wakil Wali Kota Palu tersebut, maka dimana letak pendidikan karakternya bagi anak-anak remaja kita. Kita sudah banyak menyaksikan anak-anak remaja sekolah dengan pakain ala anak punk.

Celana pensil, ikat pinggang kontras dengan celana kolor aga sedikit melorot menjadi pemandangan umum yang bisa kita lihat ketika anak-anak pulang sekolah. Lagi-lagi dimana kita akan menaruh kepedulian kita kepada mereka sabagai  generasi anak bangsa yang akan menggantikan para penerus bangsa dan agama di negara yang kita cintai ini.

Al hasil, penampilan pejabat public sebaiknya tidak asal mengenakan model rambut yang membuat ruyam masa depan pendidikan bagi anak-anak remaja kita.  Sebagai orang Indonesia yang menjungjung tinggi adat ketimuran,  tidak ada salahnya  menampilkan pribadi dengan model berpakaian dan gaya rambut yang mendidik bagi generasi milenial yang sedang mencari indentitas diri. Model rambut dengan segudang variasi dan gaya tetap saja harus selalu dalam koridor keindonesian yang sudah banyak diakui oleh dunia Internasional bahwa Indonesia adalah negara yang ramah dan sopan termasuk dalam penampilan gaya rambut.

Secara psikologis gaya rambut menunjukan indentitas diri dan karakter khas yang ditunjukannya lewat variasi gaya rambut. Tetapi dengan menjungjung tinggi asas tidak bersalah atau dalam bahasa agama tidak buruk sangka terhadap seseorang yang berpenampilan kurang sopan  atau mencurigakan seperti gaya gaya tertentu dalam aksi kejahatan.

Terlepas dari itu semua, yang jelas bagi pribadi kita masing-masing mempunyai tugas dan tanggug jawab moral untuk sama sama mengingatkan kepada masyarakat termasuk pejabat public yang berpenampilan nyeleneh ketika tampil di depan masyarakat. Dan artikel ini ditulis hanya untuk semata-mata saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya, agar kita bisa saling memberikan manfaat kepada masyarakat tanpa menghilangkan jati diri kita dan sesuai dengan latar belakangnya masing-masing.