Pengusaha
2 tahun lalu · 138 view · 3 menit baca · Politik 66282.jpg
https://twitter.com

Basuki-Djarot Peduli Kaum Perempuan

Hampir semua program yang sudah dilakukan Basuki-Djarot telah menguntungkan kaum perempuan. Karenanya, Basuki-Djarot dianggap peduli terhadap kaum perempuan.

Salah satu bukti kepeduliannya yang bisa kita temui sehari-hari adalah desain kursi Bus Transjakarta yang menghadap ke depan. Karena dengan desain baru Bus Transjakarta tersebut dapat mencegah perempuan dari pelecehan seksual.

Ditambah, pemisahan antara penumpang laki-laki dan perempuan dalam satu bus dan bus khusus wanita menjadikan perempuan semakin terlindungi dari ancaman pelecehan seksual. Sekaligus menjadi jawaban atas berbagai kasus pelecehan yang banyak terjadi di atas Bus Transjakarta.

Sampai hal terkecil, seperti desain trotoar dan karpet dalam bus yang tidak boleh berlubang juga diperhatikan Basuki-Djarot. Menurutnya, hal ini melindungi kaum perempuan yang menggunakan sepatu hak tinggi dari terselipnya tumit sepatu diantara selah-selah karpet dan jalan berlubang.

Sebelumnya, Program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS) juga terbukti sangat membantu kaum perempuan, khususnya kaum ibu-ibu. Selain membantu dalam memenuhi hak pendidikan anak, KJP juga membantu para ibu dari sisi biaya semua yang berkaitan dengan pendidikan.

Menurut Djarot, para ibu sudah tidak memikirkan biaya pendidikan ketika tahun baru ajaran tiba. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan para ibu dahulu, yang kebingungan memikirkan biaya dan kebutuhan tahun ajaran baru.

Sama halnya dengan KJP, Program KJS terbukti membantu perempuan ketika sedang melakukan persalinan. Selain gratis, KJS terbukti mengurangi angka kematian ibu (AKI). Pada tahun 2007 tercatat 359 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 90 per 100.000 di tahun 2014.

Di samping itu, pendeteksian dini kanker serviks diadakan setiap pekan di 5 wilayah kota. Karena kanker serviks terbukti menjadi ancaman nyata dan menjadi salah satu pembunuh mematikan kaum perempuan. Maka dari itu,  untuk mensukseskan program tersebut Pemda DKI Jakarta bekerja sama dengan Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) DKI Jakarta.

Selanjutnya, Program Keluarga Berencana (KB) yang dilakukan Basuki-Djarot sangat sukses karena berinovasi dalam pelaksanaannya. Diantara inovasinya adalah dibentuknya Aplikasi KB yang menginformasikan segala hal yang berkaitan dengan KB. Mendirikan Kampung KB di Rusunawa dan jemput bola peserta KB merupakan langkah untuk mencapai target KB.

Kemudian, program layanan hotline 119 selama 24 jam disiapkan oleh Basuki-Djarot dalam melayani dan mengawal kebutuhan masyarakat Jakarta. Kaum perempuan yang rentan dengan kekerasan dalam rumah tangga bisa juga mengadu melalui nomer tersebut dan akan ditindak cepat oleh petugas yang sedang bekerja.

Bukan hanya itu, Basuki-Djarot juga membangun Pos Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan dan anak di lokasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Pos tersebut langsung dikelola oleh Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dari Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI yang bekerja sama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI serta LSM.

Menurut Neng Dara Afifah, Mantan Komisioner Komnas Perempuan layanan hotline 119 merupakan inovasi besar yang dilakukan Basuki-Djarot. Selain sebagai layanan pengaduan kesehatan, para perempuan yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga juga bisa melaporkan ke layanan tersebut dan akan diteruskan ke pihak kepolisian.

Dalam mengimplementasikan program, Basuki-Djarot selalu memperhatikan kebutuhan kaum perempuan. bukan hanya mengawal, program tersebut juga menjadi tindakan preventif dari segala ancaman, termasuk kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan.

Komitmen Basuki-Djarot

Tidak hanya mengandalkan program yang sudah dilakukan, ke depan Basuki-Djarot juga berkomitmen akan meningkatkan program dan layanan yang berkaitan dengan perempuan. Hal ini sudah direncanakan dan masuk dalam Visi Misi Basuki-Djarot 2017-2022.

Pertama, memastikan jaminan kesehatan reproduksi dan seksualitas termasuk dalam fasilitas KJS. Selain program KJS yang sudah jalan, ke depan KJS aka nada pengkhususan untuk kesehatan perempuan.

Kedua, Pelaksanaan program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH). Nantinya, program tersebut menjadi tanggung jawab Puskesmas. Tujuannya, untuk mendeteksi dini tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

Ketiga, membangun fasilitas pengobatan khusus penyakit kanker (termasuk kanker serviks, kanker payu dara) yang terbukti banyak menjangkiti kaum perempuan dan menjadi pembunuh utama. Nantinya, akan ada pendeteksian dini untuk mengetahui sedini mungkin untuk segera ditindak secara medis. Oleh karenanya, sangat penting dan mempunyai banyak bermanfaat

Keempat, menekan seminimal mungkin angka kematian bayi dan ibu. Sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs), yakni 12 per 1000 kelahiran hidup bayi dan Angka Kematian Balita menjadi 25 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan, angka kematian ibu akan ditekan menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup.

Kelima, membuat aplikasi “Safety Pin” untuk membantu mendeteksi sejak awal daerah rawan kekerasan & pelecehan seksual. Aplikasi ini terintegrasi dengan pos keamanan terdekat. Perempuan yang menjadi korban, nantinya akan dengan mudah untuk melaporkan ke pihak berwajib.

Sebenarnya, masih banyak program Basuki-Djarot yang akan dilaksanakan dalam rangka memperdayakan dan melindungi perempuan. program tersebut, merupakan program pengembangan yang sebelumnya sudah dilakukan Basuki-Djarot. Bukan tidak mungkin, program tersebut akan sukses dan bermanfaat untuk perempuan Jakarta.

Hingga saat ini, kepedulian dan perhatian Basuki-Djarot terhadap perempuan sudah terbukti. Melalui program dan perencanaan yang baik, diharapkan kaum perempuan benar-benar menjadi bagian dari pembangunan bangsa.

Oleh karena itu, program yang sudah dilakuak dan komitmennya untuk perempuan menjadi bukti Basuki-Djarot peduli kepada kaum perempuan. selain itu, kepedulian terhadap perempuan mencerminkan sikap keadilan dan tidak bertindak diskriminatif dalam setiap kebijakan.