Mahasiswa
1 bulan lalu · 537 view · 4 menit baca · Hiburan 32499_42859.jpg
Photo by Miss Lacitos on Unsplash

Basa-basi Cinta

41 Kata Cinta

Bahwa cinta memang membikin naif seseorang tatkala perasaannya sudah berlebihan. Sebentar-sebentar gelisah, lalu kemudian termenung, kadang pula bertutur sendiri. 

Dari semula sejak kelahirannya memang sudah aneh. Loh! Kok begitu? Bukankah itu indah? Apanya yang aneh?

Ya, memang indah. Cinta kadang dapat digambarkan dengan kata-kata puitis, lagi romantis (meskipun begitu, tetap saja itu kurang), yang membikin objek tujuannya merasakan sensasi bagai terbang jauh ke tempat-tempat indah.

Objek tujuan sering kali diidentikkan dengan wanita. Sebab, dalam kontruksi sosial masyarakat kita, kaum hawa memang dikenal dengan pertimbangan dalam dadanya lebih kuat dari kepalanya.

Tanpa memandang perbedaan gender, kelahiran cinta dalam keidupan asmara sering kali dibuntuti dengan air mata duka. Begitu rawan, begitu rapuh (jika dia memiliki fisik), hingga mudah terbakar dalam percikan api asmara yang samar oleh indra manusia. Jika terlalu besar, maka sama saja dengan risiko kehancuran perasaan yang besar pula. Berujung trauma? Ya, boleh jadi.


Tetapi, apa mau dikata, setiap yang bernyawa pasti butuh akan dicinta dan mencinta. Pada suatu waktu, setiap orang kadang kalah dalam memendamnya, hingga bermaujud kata-kata indah, romantis, humoris, hingga misterius.

Dalam tingkat pembuktiannya yang paling tinggi, bukan hanya kata-kata, melainkan juga perbuatan dan pehatian yang berulang-ulang. Lalu, kemudian mengantar sampai ke titik candu dan rindu.

Cinta yang tidak dewasa berprinsip Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu, sedang cinta dalam kedewasaannya mengatakan Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu. (Erich Fromm)

Dalam artian, cinta tidak dilahirkan oleh kebutuhan. Cinta juga merupakan hasrat warisan leluhur yang lahir tanpa memandang situasi dan kondisi.

Dari semula sejak kelahiran ilmu pengetahuan, telah banyak orang/pelaku cinta itu sendiri berupaya mendefinisikan cinta dalam konsep-konsep tertentu. Namun, cinta dengan segala keanehan, keunikan, dan bahkan ‘kebodohan’ yang dialami oleh para pelakunya tentu saja belum ada yang bisa mencapai definisi yang sempurna.

“Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.” (Soe Hok Gie)

Kredo sang demonstran dalam usahanya memahami arti kata "cinta" di atas cukup relevan hingga saat ini. Sepasang orang boleh beda dalam cara pandang, tingkah, serta apa pun itu yang melekat dalam dirinya. Namun, cinta dengan segala ‘keajaibannya’ ampuh dalam menghadirkan hasrat untuk bersatu.

Dengan kata lain, setiap orang yang dijajah oleh cinta kebanyakan berlaku sama. Ingin dibalas dicintai dan ingin memiliki seutuhnya.

Berangkat dari situ, cinta berarti sebuah wadah yang abstrak. Menjadikan sepasang kekasih menyatu dalam perbedaan. Saling melengkapi, berbagi, serta saling menjaga dengan bijaksana.


Sekali waktu saya melihat di media sosial ada orang bertato, perawakannya kekar, dan perangainya begitu tegas meneteskan air mata karena ditinggal oleh objek yang dicintainya. Di hadapan cinta yang lahir dari perasaan, kadang kala orang tak dapat berbuat apa-apa, kecuali dengan meratapi.

Meratapi adalah wujud nyata dari kegagalan cinta. Namun, ada pula yang meluapkannya dengan emosi yang bersifat destruktif pada diri sendiri, ada pula yang menjadi vandalistis akibat kegagalan cinta. Luka goresan karena cinta (baca: patah hati) hanya waktu yang dapat mengobatinya. 

Sampai saat ini belun ditemukan ramuan instan untuk mengobati luka karena cinta. Ketika kata-kata tak sanggup mewakili, air mata mudah saja menggenangi ekor mata hingga meluap sampai ke daratan pipi.

Ya, begitulah cinta. Hasrat purba yang diwariskan oleh Nabi Adam sebagai manusia pertama kepada anak cucunya.  

Pertanyaan tetang cinta sungguh tidak ada habisnya. Selama masih ada kehidupan, selama itu pula cinta akan terus ada. Dan, karena sifat manusia yang dinamis, maka dalam hal cinta tidak ada pula habisnya untuk dikaji.

Manusia tidak dapat hidup tanpa cinta. Sebab, cinta juga memang adalah kebutuhan hidup. Tetapi ingat, cinta tidak dilahirkan oleh kebutuhan. Betapa banyak orang yang menggakhiri hidupnya karena putus cinta; betapa banyak orang yang mengutuk hidup karena kurangnya cinta.

Sebuah keluarga tanpa adanya cinta hanya akan menjadi neraka. Bisa dibayangkan, begitu suram rasanya hidup tanpa adanya cinta.  

Mengukir tawa dengan humor, sapaan manja, puisi yang romantis, perhatian, atau pernyataan cinta dengan wujud lain yang lebih kreatif adalah ciri-ciri umum yang ditonjolkan oleh pelaku pencitraan, eh, maksud saya percintaan. Itu semua tidak ada apa-apanya jikalau perhatian, perbuatan, serta komitmen untuk menjaganya tidak ada.

Sudah lazim kita dengarkan, “Persetan dengan yang lain, aku tetap ingin kamu.” Atau kalimat lain, yang maknanya kurang lebih sama. Begitulah mungkin sanggahan orang-orang yang dimabuk cinta. Apalagi ketika ada yang mencoba berkomentar aneh-aneh tentang kisah percintaannya.


Di lain sisi, ada pula di antara mereka yang berlaku ‘bijaksana’ dengan dalih, “Biarlah kau tidak menjadi milikku asal kau bahagia dengan yang lain,” atau dengan bahasa melow yang lain. Sunggguh luar biasa. Tetapi, kok nadanya agak melankolis begitu? Ah, lupakan mereka yang ‘sok’ tabah merelakan. Bilang saja kalau tak mampu.

Sekian dulu omong kosong saya tentang cinta. Sebab saya memang bukan ahlinya. Apa yang tertuang dalam tulisan saya murni hanya pikiran liar anak remaja pada umumnya. Semoga pembaca 'enekdengan kata cinta yang (lebih kurang 41 kali) berulang-ulang kalian baca tadi.

Artikel Terkait