Sampah menjadi sesuatu yang telah lama diperbincangkan. Dari dulu hingga sekarang, sejarahnya tetap sama bahwa sampah menyebabkan rusaknya lingkungan. Khususnya sampah plastik yang sulit untuk diurai oleh alam. Sampah menumpuk dan tidak akan hilang dalam ratusan tahun. 

Jika kita perhatikan lingkungan sekitar kita, banyak sampah plastik yang menyumbat aliran air di parit, got, ataupun sungai. Akibatnya, aliran air terhenti sehingga menimbulkan sarang penyakit seperti diare, gangguan pernafasan, penyakit kulit, dan lain sebagainya. Belum lagi jika memasuki musim hujan, air akan menggenangi sungai yang tersumbat sampah. 

Banjir tak terhindarkan sampai pada pemukiman warga. Penyakit akan bertambah, kerugian material pun juga timbul akibat dari sikap manusia yang tak peduli dengan lingkungan. 

Bagaimana lingkungan di sekitar laut? Apakah sampah yang dibuang di laut tidak akan berdampak apa-apa?

Salah besar jika kita mengiyakan. Kenyataannya, sampah justru menimbulkan pencemaran yang luar biasa pada air laut. Laut yang kaya oksigen akan berkurang dengan adanya sampah yang melimpah. 

Organisme di dalamnya juga akan terganggu dan berkurang jumlah populasinya. Berdasarkan berita pada media online Indopos tanggal 7 Juli 2019, menyebutkan bahwa data yang pernah dipublikasikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan jumlah rata-rata produksi sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau setara dengan 64 juta ton per tahun. 

Bila menggunakan asumsi berdasarkan data itu, sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kilogram (kg). 

Bahkan, berdasarkan studi yang dirilis oleh McKinsey and Co dan Ocean Conservancy, Indonesia disebut sebagai negara penghasil sampah plastik nomor dua di dunia setelah Tiongkok. Data tersebut membuat kita memahami bahwa Indonesia sudah menjadi negara yang darurat sampah.

Negara Indonesia menjadi salah satu negara yang benar-benar tak bisa ditoleransi pencemaran sampahnya. Kita perlu pemikiran yang strategis untuk itu. Kita perlu bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah yang selama ini terjadi terus-menerus.

Demi mengubah negeri menjadi lebih baik, tentu tak lepas dari tangan pemerintah. Penulis beropini bahwa pemerintah kita dapat memberi motivasi kepada masyarakat untuk mengurangi pencemaran sampah yang berkepanjangan. 

Tidak ada salahnya membentuk suatu badan yang memiliki komitmen tinggi dan visi misi kebersihan lingkungan yang kuat. Bersama pemerintah, kita dapat membentuk badan yang dapat dijuluki sebagai BAS (Badan Anti Sampah). 

Tentu bukan masalah yang mudah, perlu dilakukan kajian mendalam beserta cost and benefit-nya. Ide ini dapat menjadi pengantar bagi perumus kebijakan negara di luar sana yang mungkin belum pernah terpikirkan akan hal semacam ini. Penulis memberikan gambaran ide awal dan cara kerjanya sebagai berikut.

Badan tersebut memiliki program memberikan insentif kepada masyarakat yang berhasil mengumpulkan sampah plastik dengan batasan yang telah ditentukan. BAS membentuk kantor-kantor cabang sampai dengan wilayah terpencil untuk menjangkau masyarakat yang ada di pinggiran. 

Selanjutnya, sifat dari BAS sendiri adalah menyalurkan insentif kepada masyarakat yang berhasil mengumpulkan sampah plastik dengan batas ukuran tertentu. 

Misalnya, batas minimal sampah yang dikumpulkan adalah 5 kg sampah plastik atau kelipatannya. Sehingga seseorang yang dapat mengumpulkan 5 kg akan mendapat insentif uang sebesar 500 ribu. Begitu seterusnya berlaku kelipatan. 

Atas sampah yang telah disetorkan oleh masyarakat, maka akan dikelola oleh BAS untuk dipilah dan didaur ulang sesuai kebutuhan. Jika sampah-sampah tersebut berbahan plastik atau sejenisnya, dapat dilakukan pendauran ulang menjadi barang-barang perabot rumah tangga dan kesenian. 

Barang tersebut berupa sapu, meja, kursi, hiasan dinding, ember, payung, tempat pensil, dan berbagai cindera mata yang dapat menghasilkan uang. Pendapatannya akan masuk ke kas negara.

Namun jika sampah berbahan non plastik, bisa dijadikan sebagai pupuk kompos ataupun sesuatu yang lebih berguna bagi lingkungan. Pada prinsipnya, badan tersebut membangun paradigma baru bahwa sampah tidak ada yang dibuang, melainkan diolah dalam bentuk lain sehingga dapat bermanfaat.

Semua sampah bisa didaur ulang menjadi barang yang berguna jika kita serius menangani sampah plastik ini. Kita bisa melihat negara Jepang yang mendaur ulang sampah dan membuatnya menjadi medali olimpiade yang akan dipakai pada tahun 2020. Jika negara lain saja mampu, kita juga bisa mendaur ulang sampah tersebut menjadi barang yang memiliki nilai jual.

BAS nantinya akan berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait seperti Kementerian Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup, dan elemen masyarakat yang dapat membantu mewujudkan Indonesia bebas sampah. Dalam hal pendauran ulang sampah, kita bisa merekrut para perajin di seluruh pelosok negeri. Tujuannya adalah menciptakan lapangan pekerjaan yang luar biasa. 

Pengangguran berkurang, dan dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Kerajinan hasil daur ulang dapat diekspor ke luar negeri. Jika ekspor meningkat, keseimbangan neraca perdagangan Indonesia juga akan terjaga dengan baik. Impor akan berkurang dan masyarakat akan lebih mencintai produk lokal dibandingkan dengan produk luar negeri. 

Negara Jepang sangat maju karena mereka tidak meninggalkan apa yang menjadi kebudayaannya dan mengagungkan produk hasil dalam negerinya. Tentu Indonesia juga bisa, dengan mengonsumsi produk dalam negeri hasil daur ulang sampah tersebut, Indonesia akan menjadi macan asia yang semakin diperhitungkan oleh dunia.

Penulis berpendapat bahwa cara ini dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik dan tidak membuangnya dengan sembarangan. Pola pikir mereka akan berubah, yang tadinya sampah itu barang yang tidak terpakai lagi, sekarang menjadi salah satu barang yang akan mendatangkan rezeki. Cukup mengumpulkan sampah plastik sampai batas minimal 5 kg maka masyarakat memperoleh insentif sebesar 500 ribu. 

Awalnya mungkin banyak kendala dari mana-mana. Sehingga perlu adanya masa percobaan (piloting). Sama halnya penerapan sistem ganjil genap jalanan di Jakarta, awalnya sulit namun lama-lama masyrakat akan terbiasa dan mengikuti aturan yang diterapkan oleh pemerintah. 

Apalagi BAS ini memberikan insentif bagi masyarakat. Penulis yakin, masyarakat akan cepat terbiasa untuk tidak membuang sampah sembarangan. Hasilnya, gorong-gorong, sungai, kali, dan parit tidak akan lagi tersumbat oleh sampah plastik. Banjir terhindarkan dan lingkungan menjadi sehat.

 Uraian di atas merupakan opini penulis dalam mengatasi sampah plastik yang sedang menjadi problem negeri akhir-akhir ini. Tentunya tidak dapat ditelan mentah-mentah, perlu adanya kajian lebih lanjut dan pertimbangan yang matang dari para pelaku kebijakan. 

Namun jika memang strategi tersebut dapat dilakukan, bangsa ini banyak memperoleh manfaat seperti terciptanya lingkungan yang bersih dari sampah plastik, meningkatkan daya guna sampah plastik sebagai barang yang berguna setelah didaur ulang, meningkatkan nilai jual produk dalam negeri yang bisa bersaing dengan produk luar negeri, meningkatkan ekspor yang dapat menyeimbangkan neraca perdagangan, mengurangi pengangguran karena banyak tenaga kerja yang terserap dan bekerja pada BAS dan menciptakan mindset masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan serta tidak membuang sampah sembarangan. 

Semoga pemikiran dari penulis ini sedikit banyak memberikan ide kepada negara demi mewujudkan lingkungan bebas dari banjir dan penyakit.