2019 lalu, sebuah Kontes Ternak Sapi Kabupaten Kebumen diselenggarakan di lokasi Eduwisata Peternakan Terpadu Kampung Sapi PO Desa Sitiadi, Kecamatan Puring (29/8/2019). Ratusan sapi unggulan Peranakan Ongole (PO) Kebumen diikutsertakan dalam kontes tersebut dan yang terpilih untuk dipertandingkan sebanyak 42 sapi.

Pada 2010 lalu, sapi PO Kebumen memperoleh peringkat satu untuk kategori induk sapi potong PO pada Kontes Ternak Nasional (Distannak Kabupaten Kebumen, 2010). Keberadaan populasi sapi potong di Kabupaten Kebumen sebanyak 89.429 ekor, 90% merupakan sapi PO (Bappeda Kabupaten Kebumen, 2011).

Keberadaan sapi-sapi Ongole ini ternyata telah memiliki akar historisnya sejak era kolonial, khususnya di Kecamatan Mirit. Sebagaimana layaknya masyarakat tradisional yang merayakan syukur terhadap alam melahirkan sejumlah tradisi seperti sedekah bumi (masyarakat pertanian) dan sedekah laut (masyarakat nelayan), maka mereka yang menggantungkan kehidupannya pada peternakan melahirkan tradisinya masing-masing.

Aktivitas tradisi pemuliaan dan kejayaan peternakan di Mirit terekam dalam laporan berita Koran Bataviaasch Neuwsblad (03-11-1915) sebagai berikut:

“Het in Mirit gevierde feest was het z.g. “Baritan", het feest der herders. Vroeger bracht het gebruik mede dat eens per jaar alle dessas een "baritan" gaven aan de herders, de bekende botjah angon” (Pesta yang dirayakan di Mirit adalah apa yang disebut "Baritan", yaitu pesta para gembala. Di masa lalu, kebiasaan itu menyiratkan bahwa setahun sekali semua desa memberikan "baritan" kepada para gembala, yang dikenal sebagai  botjah angon).

Jika seseorang pernah menuliskan bahwa tradisi Baritan hanya khas dilaksanakan di Mirit, sebenarnya tidak tepat. Tradisi Baritan banyak dilakukan di sejumlah tempat, baik di Jawa Tengah (Wonosobo) maupun Jawa Timur (Pacitan, Trenggalek). Dan tradisi Baritan ternyata tidak hanya dilaksanakan untuk peternakan darat, bahkan di masyarakat nelayan di Pemalang pun upacara tradisi Baritan diselenggarakan.

Baritan, sebuah pesta dan upacara tradisional di Mirit yang pernah ada, bukan sekadar mengisahkan keberadaan sebuah ekspresi budaya dalam mensyukuri hasil ternak, melainkan sebuah kisah kejayaan peternakan sapi di Kebumen yang merupakan hasil perkawinan silang antara sapi Jawa dengan Sapi Benggala, India, yang dikenal dengan sapi Ongole.

Selanjutnya, Koran Bataviasch Nieuwsblad mengatakan:

Vooral dit onderdistrict is voor de veeteelt van beteekenis, omdat men er het beste vee van Java vindt. Bovendien wordt de veeteelt volgens bevoegde beoordeelaars bier zelfs beter en intensiever gedreven dan op Madoera” (Kecamatan ini sangat penting untuk peternakan, karena mengandung ternak terbaik di Jawa. Selain itu, menurut penilai resmi, peternakan bahkan lebih baik dan lebih didorong daripada di Madoera).

Frasa “het beste vee van Java vindt” (ternak terbaik di Jawa) cukup menggambarkan peran dan kontribusi serta kualitas peternakan sapi perkawinan silang di Mirit terhadap kebutuhan pasokan daging Hindia Belanda pada waktu itu. Namun demikian, menurut laporan pendek dalam koran tersebut menyatakan bahwa ketersediaan sapi hasil perkawinan silang ini baru mencapai 50% (pada tahun 1915) sementara kebutuhan ditargetkan 75%.

Yang tidak kalah menarik dari laporan koran tersebut adalah keterlibatan Tuan Cochius (cucu Mayor Jendral Frans David Cochius, yang namanya dilekatkan dengan sebuah benteng di Gombong yaitu “Fort Cochius” sejak 1838) yang pada saat itu menjabat Administrateur Suikerfabriek “Remboen” di Prembun. Tuan Cochius merangkap tugas sebagai ketua dalam asosiasi untuk promosi peternakan di Bagelen Selatan, khususnya Mirit.

Apa yang dilaporkan koran pada tahun 1915 hanyalah sebuah fragmen dari sejumlah kisah yang telah dimulai tahun-tahun sebelumnya di wilayah Jawa Tengah, khususnya di Kedu, Banyumas, Semarang, Rembang. 

Martine Barwegen bahkan menuliskan mengenai keberadaan sapi di Kebumen, “In 1906 waren in Kebumen goede Javaanse stieren aanwezig” (Sapi jantan Jawa yang baik hadir di Kebumen pada tahun 1906 – Gouden Hoorns: De geschiedenis van de veehouderij op Java 1850-2000, 2005:79).

Martine memberikan ulasan panjang dalam disertasi doktoralnya mengenai sejarah peternakan di Jawa dari periode 1850-2000. Menurutnya, pada 1904, pemerintah Hindia Belanda mengimpor sapi Ongole dari India. Sapi ini dikembangbiakkan di Kabupaten Karanganyar (status kabupaten dihapus pada 1 Januari 1936 dan digabungkan menjadi wilayah Kebumen) di Karesidenan Kedu.

Pada 1909 dan 1910, Burgerlijke Veearstenijkundige Dienst (BVD) menyediakan sebanyak 1.250 ekor sapi Ongole, yang sebagian besar dikembangbiakkan di Semarang, Banyumas,dan Kedu. Rembang dan Kedu adalah salah satu daerah berkembang biak Ongole terbaik di Jawa. Sejak saat itu, impor secara teratur dilakukan, baik oleh perorangan maupun oleh Pemerintah (2005:80).

Martine pun melaporkan secara ringkas mengenai tradisi Baritan di Mirit, Kebumen dengan merujuk pada artikel E. Schmuling yang berjudul, “Veeteelt in Keboemen” dalam majalah Indie (1918).

Di Kebumen, pesta gembala yang disebut "Slamatan Baritan" diselenggarakan di berbagai desa. Pada pesta ini, kesejahteraan ternak untuk masa depan dimohonkan. 

Di pesta itu, para gembala, pemilik ternak, tokoh-tokoh desa dan tamu undangan dari desa tetangga berkumpul. Pada 1914, disarankan agar festival desa digabungkan menjadi satu festival besar, yang memungkinkan untuk mengadakan satu pameran ternak besar.

Rencana ini dilaksanakan dan pada pesta pertama lebih dari 10.000 pengunjung tercatat hadir. Pada 1917, bahkan de Adjunct-Inspecteur van de Veterinaire Dienst van Midden-Java (Wakil Inspektur Dinas Kesehatan Hewan Jawa Tengah) datang ke pesta itu. Pemerintah dapat memanfaatkan dengan baik kegiatan budaya yang ada (2005:173-174).

Mengenai istilah “Baritan”, Martine memberikan penjelasan dalam catatan kakinya:

“Setelah meneliti berbagai sumber, disimpulkan bahwa ‘Slamatan Baritan’ tidak dapat diterjemahkan sebagai ‘Pesta Gembala’ (herdersfeest). Baritan adalah serangkaian ritual terkait yang berbeda secara lokal tetapi memiliki kesamaan yang dikaitkan dengan keberhasilan panen pertanian, peternakan dan atau budidaya ikan. Baritan yang dirayakan sebagai wujud syukur atas kesejahteraan sapi masih terjadi di Banyumas dan diadakan setiap hari ke 10 di bulan Muharram” (2005:173).

Bagaimana nasib sapi Jawa-Benggala yang disebut Ongole di Kebumen saat ini? Sekalipun Mirit bukan lagi menjadi pusat peternakan yang berjaya di tahun 1900-an, namun peternakan sapi Ongole di Kebumen masih berjaya dan bergeser ke 29 desa al., Desa Tanggul Angin dan Desa Pandan Lor dll dan dinaungi oleh Asosiasi Kelompok Perbibitan Sapi PO Kebumen (ASPOKEB).

Sejumlah jurnal ilmiah telah dipublikasikan untuk meneliti sejumlah potensi dan mengembangkan sapi Ongle Kebumen al., "Pengembangan Kelembagaan Pembibitan Ternak Sapi Melalui Pola Integrasi Tanaman-Ternak" (Cahyati Setiani dan Teguh Prasetyo, 2007), "Potensi Sapi Peranakan Ongole (PO) Kebumen Sebagai Sumber Bibit Sapi Lokal di Indonesia Berdasarkan Ukuran Tubuhnya" (Pita Sudrajad, 2012), "Karakter Fenotipik Sapi Betina Peranakan Ongole Kebumen" (Pita Sudrajad, 2013), "Estimasi Dinamika Populasi dan Penampilan Reproduksi Sapi Peranakan Ongole di Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah" (Satria Budi Kusuma dkk, 2017)

Kiranya pelacakan dan penelusuran akar historis Sapi PO Kebumen bukan hanya memperkuat narasi historis genetis keberadaan sapi-sapi unggulan tersebut, namun menjadi basis bagi pengembangan sapi nasional dan mengatasi persoalan ketersediaan daging.