Kebiasaan meminum kopi sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia sejak masa Kolonialisme. Kini, budaya minum kopi masih popular di Indonesia, terutama dikalangan anak muda.

Sejarah kopi di Indonesia tidak terlepas dari peran kolonialisme Belanda. Pada 1696, Belanda pertama kali membawa masuk benih kopi arabika untuk ditanam di pulau Jawa.

Perkebunan kopi di Indonesia pun terus meluas, tanaman kopi berhasil tumbuh dengan baik di beberapa wilayah di Jawa. Belanda pun mengekspor kopi Jawa ke Eropa, Sejak itu, kopi asal Jawa populer dengan sebutan Java Coffee.

Dikutip dari ekonomi.bisnis, memasuki era globalisasi, Indonesia menjadi negara produsen biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia dengan produksi rata-rata sekitar 700 ribu ton per tahun atau sekitar 9% dari produksi kopi dunia.

Industri Warung Kopi di Indonesia pun berkembang pesat dengan didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia. Kita melihat roastery, cafe dan warung atau kedai kopi berkembang pesat, baik di kota besar maupun kota kecil.

Kini, kopi tak hanya identik dengan minuman para pria, tapi kopi sudah mulai dinikmati oleh siapapun yang ingin mencobanya. Kopi pun tak hanya identik dengan kopi sachet yang diseduh dengan metode tubruk, kini banyak pilihan minuman kopi yang bisa kita pesan di warung kopi.

Berkembangnya industri kopi pun menyeret para wanita untuk berkecimpung didalamnya.  Sebelumnya Profesi sebagai barista masih melekat oleh kaum adam, masih sedikit kaum hawa yang melirik profesi sebagai barista. Sekarang mudah kita temui para wanita yang bekerja sebagai Barista di sebuah warung kopi.

Tak bisa dipungkiri, banyaknya wanita yang mulai menggeluti pekerjaan kaum pria karena dampak positif dari emansipasi wanita. Kini para wanita menjadi leluasa dalam meraih mimpi dan cita-citanya. Mereka juga mampu mengembangkan ide, kreatifitas, dan bakat lainnya.

Saya pun berkesempatan mewancarai seorang barista wanita di Burons coffee Kulon Progo, Yogyakarta. Amelia, barista Burons Coffee berbagi cerita mengenai dirinya yang tertarik bekerja sebagai barista. Dia mengatakan “Awalnya pengen jadi barista karena memang suka minum kopi sejak kecil bersama bapak. Lalu saya tertantang untuk bekerja barista profesional, walaupun barista identik dengan pekerjaan cowok”.

Dia sepakat bahwa dampak positif dari emansipasi wanita adalah kini tak ada batasan wanita dalam memilih pekerjaan. Buktinya banyak wanita yang memang menggeluti pekerjaan yang identik dengan pria, seperti barista.

Bagi cofffee shop yang memiliki barista wanita akan memberi nilai plus untuk coffee shopnya. Tak bisa dipungkiri, adanya barista wanita akan mengundang para konsumen untuk datang ke coffee shop tersebut. Hal tersebut adalah strategi marketing yang kini lumrah digunakan oleh banyak usaha.

Dikutip dari The Conversation, Sebenarnya fenomena penjual berpenampilan cantik berasal dari adanya konstruksi gender pada masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai patriarkis yang kuat. Konstruksi gender dengan nilai patriarki yang kuat mengedepankan sudut pandang laki-laki dalam melihat suatu fenomena.

Hal ini menjelaskan mengapa yang ramai dibicarakan adalah perempuan yang berparas cantik bukan laki-laki yang tampan. Sudut pandang patriarkis yang kuat ini juga dipengaruhi oleh adat, agama, kelas sosial, dan etnis.

Sejak kecil, orang tua sudah menanamkan pentingnya memuaskan sudut pandang laki-laki ini pada anak-anak. Hal ini mengapa berdandan menjadi sebuah keharusan bagi sebagian wanita. Cara pandang yang menghargai kecantikan mendorong banyak usaha yang menggunakan wanita cantik untuk lebih menarik konsumen pria.

Pengamat periklanan, Ridwan Handoyo, mengatakan iklan dan penjualan yang bagus harus memiliki stop-effect. Istilah dimaksud adalah ada sesuatu dalam iklan dan penjualan yang membuat calon konsumen memperhatikan iklan dan penjualan tersebut.

Menurutnya, Stop effect bisa dihasilkan dari banyak hal. Misal penggunaan humor, bintang film terkenal, efek visual yang menarik, hingga wanita cantik. Maka dari itu, penggunaan wanita cantik ini adalah termasuk sebuah trik agar calon konsumen mau berlama-lama memandangi, meresapi, dan mengingat apa yang penjual tawarkan.

Kini, dampak nyata dari banyaknya barista wanita di coffee shop adalah bertambahnya konsumen di sebuah coffee shop. Kini pengunjung coffee shop tak hanya datang dari konsumen yang benar-benar mencari kopi yang enak, tapi mulai banyak konsumen pria yang sekedar nongkrong karena ada barista cantik di sebuah coffee shop.

Amelia, barista wanita di burons coffee pun membenarkan fenomena barista wanita untuk menarik konsumen pria. “realita yang terjadi memang seperti itu, kehadiran barista wanita terutama yang cantik akan menarik konsumen pria untuk sering datang. Coffee shop kini telah berubah, pengunjung tak cuma mencari kopi saja. Tapi, ada yang datang untuk mengerjakan tugas dan nongkrong sembari curi pandang ke barista yang cantik”.

Tulisan ini membenarkan jokes dalam kalangan penikmat kopi. “Warung kopi bisa laku karena dua hal, karena baristanya membuat kopi yang enak atau ada mbak-mbak barista cantik di warung tersebut”.

Selamat ngopi!