Kekalahan 2-8 dari Bayern Muenchen melanjutkan kekalahan beruntun di perempat final Liga Champions bagi Barcelona, namun kali ini merupakan kenangan paling pahit yang mereka alami. Tentu kekalahan ini perlu segera dibenahi oleh manajemen Blaugrana, dengan Queue Setien dan Eric Abidal dipecat sebagai langkah awal mereka.

Faktor kekalahan mereka tentu menjadi pertanyaan bagi para fansnya, seberapa bobrokkah internal Barcelona sampai harus dibantai semengenaskan itu? Masalah seperti kasus indisipliner Arthur yang mencuat sebelumnya telah menjadi borok awal bagi hubungan antara pihak manajemen dan pelatih serta pemain Barcelona. Ditambah dengan kekalahan ini, lengkap sudah penderitaan klub Catalan itu.

Beberapa pengamat seperti Coach Justin pun sampai sebegitu kerasnya bersuara akan revolusi besar-besaran yang harus terjadi di dalam tubuh Barcelona, dilansir laman sosial media Coach Justin. Sampai-sampai, ia sendiri merekomendasikan agar La Pulga, julukan Messi, dilego. Karena Barcelona, katanya, tidak membutuhkan pemain yang merasa lebih besar dari klub.

***

Revolusi, kata yang sangat erat hubungannya dengan sebuah kegiatan perubahan besar-besaran. Tentu hal ini biasanya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang melibatkan banyak orang, acap kali terjadi dalam peristiwa sejarah seperti Revolusi Prancis maupun Revolusi Industri.

Namun kali ini bukan revolusi yang terjadi dalam sejarah yang akan dibahas, melainkan revolusi-revolusi kecil yang mampu mengguncang serta-merta kemapanan, dalam bentuk apa pun. 

Kasus Barcelona menjadi contoh kecil bagaimana sebuah klub yang merasa nyaman dan justru anti-perubahan tergilas oleh cairnya bentuk perubahan suatu zaman, yang dalam hal ini berupa strategi. Padahal, Barcelona sebelumnya merupakan salah satu klub terkuat sejagat. Itu baru dalam kancah persepakbolaan, bagaimana dalam kasus lainnya?

Kita tahu, Nokia dahulu merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi gawai terbesar di dunia. Perusahaan asal Finlandia itu mampu menguasai pasar gawai selama hampir awal tahun 2000an. Namun, perusahaan ini mulai digoncang oleh Blackberry yang muncul dengan terobosan tuts Qwerty-nya saat memasuki tahun 2010.

Sama seperti pendahulunya, Blackberry memasuki masa keemasannya pada tahun 2010 sampai sekitar 2014. Setelah itu, Android lewat muncul sembari menggandeng Samsung dan beberapa brand lain menggilas gawai bertuts Qwerty itu. 

Blackberry di tahun setelahnya masih sanggup bertahan, namun pada akhirnya menyerah juga. Walaupun ia mengeluarkan gawai bersistem Android, hal itu belum cukup ampuh mendobrak kuasa pasar Android yang dimiliki Samsung dan beberapa merek lainnya.

Hal serupa terjadi pada Samsung, yang mana jika mereka tidak memproduksi gawai untuk level menengah pada serie A dan M, niscaya akan bernasib sama dengan Nokia dan Blackberry. 

Ya, Anda betul, Xiaomi merupakan pesaing terberat Samsung dalam kancah Android. Bahkan, ada lelucon yang mengatakan jika saingan produk Xiaomi adalah produk Xiaomi itu sendiri. Xiaomi, seperti kita tahu, merajai hampir seluruh sektor gawai untuk kelas menengah ke bawah.

Kasus di atas merupakan segelintir korban yang merasa nyaman di tengah perubahan zaman. Terdapat pepatah yang berkata, barangsiapa yang hendak melawan zaman, niscaya ia akan tergilas karenanya. Perubahan zaman tentu merupakan keniscayaan, dan sesiapa yang bersifat cair akannya, tentu akan bisa selamat dari setiap gejolaknya.

Prasyarat sebuah progres ialah kreativitas dan kemampuan membaca arah progres itu sendiri. Kemampuan tersebut bukan lahir dari tumpukan kertas tentu saja, melainkan bentuk-bentuk tindakan aplikatif yang di dalamnya acap kali ditemui kegagalan. 

Rangkaian kegagalan ini yang membuat revolusi dapat lahir tanpa cacat. Maksudnya, kegagalan dapat dibaca sebagai pelajaran untuk mendulang kreativitas, yang mana berguna untuk berprogres, bergerak maju dan berevolusi.

Manusia, dalam sejarahnya, menjadi kuat karena mereka berprogres dan dari progres tersebut mereka dapat berevolusi. Evolusi-evolusi yang terjadi pada manusia tentu merupakan hasil dari rangkaian kegagalan yang mereka alami, yang darinya proses kreatifitas lahir, seperti yang terjadi pada manusia prasejarah.

Baca Juga: Dilema Barcelona

Kemampuan adaptif Homo Sapiens, yang di dalamnya terdapat proses kreatif dan progresivitas, merupakan modal paling vital yang mereka miliki dalam mengarungi zaman. Dari mulai masa berburu, mengumpulkan makanan, sampai bercocok tanam, Homo Sapiens mampu hidup lebih lama melangkahi makhluk lainnya.

Tentu, pelajaran untuk berprogres sudah kita dapatkan dari nenek moyang kita untuk dapat mengikuti perkembangan zaman. Seharusnya, hal tersebut dapat pula diaplikasikan oleh Barcelona. Apa hubungannya?

Jika saja Barcelona mampu melakukan revolusi besar-besaran, terutama terhadap angakatan lama mereka yang mendominasi sekarang, akan ada kemungkinan cerah bagi masa depan mereka. Dimulai dari melego Messi dan merombak komponen klub, dari mulai presiden sampai jajarannya yang menjadi parasit di sana, hal ini akan menjadi langkah baru bagi Barcelona.

Memang, revolusi tidak akan menjamin sebuah kemenangan, karena ia merupakan sebuah ikhtiar untuk mengarungi perubahan zaman. Namun, jika yang diperoleh hanya stagnansi-stagnansi yang tak berkesudahan, apakah masih tetap yakin dengan kemampuan yang sekarang?

Pertanyaan besarnya, apakah para decul ikhlas pangerannya meninggalkan singgasana, demi sebuah Barcelona yang besar lagi berjaya ke depannya?